JABARMEDIA – Bendera Merah Putih, yang juga dikenal sebagai Sang Saka Merah Putih, bukan sekadar selembar kain berwarna. Ia adalah simbol kedaulatan, identitas, dan perjuangan bangsa Indonesia yang memiliki jejak sejarah panjang, terbentang jauh sebelum proklamasi kemerdekaan dikumandangkan. Dari panji-panji kerajaan kuno hingga menjadi lambang persatuan melawan penjajah, inilah asal-usul bendera kebanggaan Indonesia.
Akar Sejarah di Era Kerajaan Nusantara
Jauh sebelum menjadi bendera Republik Indonesia, warna merah dan putih telah digunakan sebagai simbol kehormatan dan kebesaran oleh kerajaan-kerajaan di Nusantara. Catatan paling terkenal mengaitkan dwiwarna ini dengan Kerajaan Majapahit pada abad ke-13. Dalam kitab Pararaton, disebutkan bahwa panji-panji perang pasukan Jayakatwang saat menyerang Singhasari menggunakan warna merah dan putih.
Warna ini kemudian terus hidup pada era Majapahit dan dikenal dengan sebutan “Getih-Getah” atau “Gula Kelapa”. Warna merah (getih/gula) melambangkan keberanian dan darah pejuang, sementara warna putih (getah/kelapa) melambangkan kesucian dan jiwa yang bersih. Konsep ini juga dekat dengan kehidupan agraris masyarakat saat itu, di mana merah diasosiasikan dengan warna gula aren dan putih dengan warna nasi, dua bahan pokok kehidupan.
Selain Majapahit, kerajaan-kerajaan lain seperti Kerajaan Kediri juga diketahui menggunakan panji berwarna merah putih. Bahkan, Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830) menggunakan panji berwarna merah dan putih sebagai simbol perlawanannya terhadap kekuasaan kolonial Belanda.
Api Nasionalisme dan Kebangkitan Sang Dwiwarna
Memasuki awal abad ke-20, semangat nasionalisme mulai membara di kalangan para cendekiawan dan pejuang kemerdekaan. Warna merah dan putih kembali diangkat sebagai simbol perlawanan dan identitas bangsa yang merdeka.
Pada tahun 1922, Perhimpunan Indonesia di Belanda mengibarkan bendera Merah Putih dengan gambar kepala kerbau di tengahnya sebagai simbol perjuangan mereka. Langkah ini kemudian diikuti oleh para pejuang di tanah air. Pada tahun 1928, untuk pertama kalinya bendera Merah Putih modern dikibarkan di tanah Jawa, yang menegaskan kembali pilihan warna ini sebagai representasi cita-cita kemerdekaan. Tokoh-tokoh seperti Ki Hajar Dewantara turut mempopulerkan kembali makna filosofis di balik warna ini sebagai lambang persatuan dan perjuangan.
Kelahiran “Bendera Pusaka” dan Momen Proklamasi
Puncak dari perjalanan sejarah bendera ini terjadi menjelang proklamasi kemerdekaan. Atas permintaan Soekarno, bendera resmi pertama Indonesia dijahit oleh sang istri, Ibu Fatmawati. Menggunakan kain katun Jepang berukuran 276 x 200 cm, bendera inilah yang kemudian dikenal sebagai Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih.
Pada hari yang paling bersejarah bagi bangsa Indonesia, 17 Agustus 1945, bendera hasil jahitan tangan Ibu Fatmawati ini dikibarkan untuk pertama kalinya di halaman rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta. Pengibaran bendera dilakukan oleh dua orang pemuda, yaitu Latief Hendraningrat dan Suhud Sastro Kusumo, sesaat setelah Soekarno membacakan teks proklamasi. Momen sakral ini menandai lahirnya Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat, dengan Merah Putih sebagai benderanya.
Makna Filosofis dan Aturan Resmi
Secara resmi, makna warna bendera negara diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 35 yang menyatakan, “Bendera Negara Indonesia ialah Sang Merah Putih.” Makna filosofisnya adalah:
Merah: Melambangkan keberanian, semangat perjuangan, dan darah para pahlawan yang telah gugur.
Putih: Melambangkan kesucian, niat yang tulus, dan kebenaran.
Kedua warna ini saling melengkapi, merepresentasikan kepribadian bangsa Indonesia yang berani memperjuangkan kebenaran dengan niat yang suci.
Bendera Pusaka yang asli kini disimpan dengan sangat hati-hati di Monumen Nasional karena usianya yang sudah tua dan rapuh. Bendera yang dikibarkan di Istana Merdeka setiap upacara hari kemerdekaan adalah duplikatnya.
Dari panji kerajaan, simbol perlawanan, hingga menjadi lambang negara yang merdeka, perjalanan Sang Saka Merah Putih adalah cerminan dari perjalanan panjang bangsa Indonesia itu sendiri. Ia adalah warisan yang harus dijaga, dihormati, dan menjadi pengingat abadi akan perjuangan dan cita-cita luhur para pendiri bangsa.
(Damar Alfian)








