Tidak Ada Perlombaan, Namun Semangat Kemerdekaan Tetap Diaktifkan
Tahun ini, masyarakat Kabupaten Sampang, Madura, mengalami perubahan dalam merayakan HUT ke-80 Republik Indonesia. Biasanya, momen Agustus selalu ditandai dengan berbagai lomba dan perayaan yang memenuhi ruang publik. Namun, tahun 2025 ini akan terasa berbeda karena tidak ada acara fisik yang digelar.
Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya, dan Pariwisata (Disporabudpar) Sampang telah menetapkan keputusan bahwa tidak akan ada perlombaan sama sekali dalam rangkaian perayaan kemerdekaan. Alasannya utama adalah keterbatasan anggaran yang dialami pihak daerah. Hal ini membuat berbagai aktivitas yang biasanya menjadi bagian dari tradisi perayaan harus ditunda atau dibatalkan.
Kepala Disporabudpar Sampang, Marnilem, menjelaskan bahwa pengeluaran untuk kegiatan HUT RI biasanya mencapai sekitar Rp 125 juta setiap tahunnya. Anggaran tersebut digunakan untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang mampu melibatkan masyarakat dari berbagai kalangan. Namun, pada tahun ini, anggaran tersebut tidak tersedia.
“Kami tidak memiliki dana untuk menggelar lomba-lomba seperti biasanya,” ujarnya. “Tanpa anggaran, maka tidak bisa diadakan acara apapun.”
Sementara itu, Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga, Isma Ulfa, menambahkan bahwa pihaknya telah mengajukan permohonan anggaran sejak awal tahun. Namun, usulan tersebut tidak mendapatkan respons positif dari pihak terkait.
“Kami sudah mengajukan rencana anggaran tahun 2025, tapi sayangnya tidak dapat terealisasi,” katanya. “Biasanya kami butuh dana sebesar Rp 125 juta untuk membiayai berbagai kegiatan, termasuk karnaval budaya.”
Meski tidak ada lomba atau acara besar-besaran, semangat kemerdekaan tetap diharapkan bisa terus hidup di tengah masyarakat. Pihak Disporabudpar berkomitmen untuk tetap memperkuat kesadaran akan arti kemerdekaan, terutama kepada generasi muda dan pelajar.
Isma Ulfa menekankan bahwa perayaan kemerdekaan tidak harus selalu diwujudkan melalui lomba atau hadiah. Ia mengajak para pemuda untuk lebih memahami makna kemerdekaan dengan cara-cara lain, seperti menghargai jasa para pahlawan dan menjaga nilai-nilai perjuangan.
“Jangan sampai semangat kita kendor hanya karena tidak ada lomba. Kita tetap bisa merayakan kemerdekaan dengan cara yang lebih bermakna,” tambahnya.
Pihak Disporabudpar juga berupaya untuk memberikan edukasi tentang sejarah kemerdekaan melalui berbagai program pendidikan dan kampanye. Tujuannya adalah agar generasi muda tetap sadar akan pentingnya mempertahankan kemerdekaan dan menjaga persatuan bangsa.
Dengan situasi yang terjadi, pihak daerah berharap masyarakat tetap memahami alasan di balik pembatalan lomba. Meskipun secara fisik tidak ada acara yang diselenggarakan, semangat dan nilai-nilai kemerdekaan tetap menjadi prioritas utama dalam upaya membangun karakter bangsa.








