JABARMEDIA – Mahasiswa Universitas Nusa Mandiri (UNM), yang dikenal sebagai Kampus Digital Bisnis, kembali mencatatkan prestasi yang membanggakan di tingkat nasional.
Tiga mahasiswa dari Program Studi Informatika, yakni Ridho Ari Saputra, Muhammad Fahry Sutopo, dan Annisa Nur Amelia, mampu menjadi peserta final Aphacton 2025 berkat pengembangan aplikasi VISPEAK, sebuah sistem komunikasi pendukung yang menggunakan kecerdasan buatan (AI) dan gerakan mata untuk membantu pasien yang mengalami kelumpuhan total.
Aplikasi VISPEAK hadir sebagai jawaban nyata bagi para penyandang disabilitas berat yang mengalami keterbatasan fisik dalam berkomunikasi.
Menggunakan teknologi berbasis kecerdasan buatan, VISPEAK mampu mengubah gerakan mata pengguna menjadi teks atau suara, sehingga memungkinkan mereka tetap berkomunikasi dengan keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Inovasi ini tidak hanya menonjolkan teknologi canggih, tetapi juga mencerminkan nilai kemanusiaan yang sangat tinggi.
Lomba Aphacton APTIKOM 2025 diadakan sebagai sarana bagi mahasiswa di seluruh Indonesia untuk menunjukkan kreativitas, keahlian teknis, dan kesadaran sosial mereka.
Perhelatan ini menjadi tempat yang penting dalam munculnya solusi teknologi yang praktis dan berguna bagi masyarakat, sektor industri, maupun pemerintah.
Di ajang ini, tim mahasiswa UNM memilih kategori Socialpreneur dan Disabilitas, yang menekankan pada pengembangan teknologi bantu atau assistive technology untuk para penyandang disabilitas seperti tuna netra, tuna rungu, hingga pasien yang mengalami lumpuh total.
Menurut Ridho Ari Saputra, ketua tim, gagasan pengembangan aplikasi VISPEAK muncul dari keinginan mereka untuk menciptakan teknologi yang memberikan dampak sosial yang nyata. Ia berharap VISPEAK dapat membantu pasien yang mengalami kelumpuhan total agar tetap bisa berkomunikasi dengan keluarga dan lingkungan sekitarnya.
“Inovasi ini muncul dari keinginan kami untuk memberikan solusi bagi orang-orang yang mengalami keterbatasan fisik, sekaligus mendorong pemanfaatan teknologi dalam upaya kepedulian sosial,” kata Ridho.
Di sisi lain, Kepala Nusa Mandiri Innovation Center, Fitra Septia Nugraha, menganggap prestasi tersebut menunjukkan kualitas mahasiswa UNM yang tidak hanya hebat dalam kemampuan teknis, tetapi juga memiliki rasa empati dan kepedulian sosial yang besar.
Ia menekankan, karya seperti VISPEAK adalah bukti nyata bagaimana teknologi bisa digunakan untuk kepentingan manusia. Prestasi ini membuktikan, mahasiswa UNM mampu menggabungkan teknologi dengan nilai kemanusiaan.
“VISPEAK merupakan contoh inovasi yang tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga memiliki makna penting bagi kehidupan masyarakat,” katanya dalam pernyataan resmi yang diterima, pada Rabu (29/10/2025).
Fitra menambahkan, keberhasilan ini selaras dengan visi UNM sebagai Kampus Digital Bisnis, yang berkomitmen menghasilkan generasi digitalpreneur yang berintegritas, kreatif, dan memberikan dampak sosial.
Menurutnya, mahasiswa UNM tidak hanya diharuskan menguasai teknologi, tetapi juga mampu merancang solusi yang dapat mengatasi masalah sosial pada masa kini.
“Kepemimpinan tim Ridho sebagai finalis Aphacton 2025 semakin memperkuat posisi UNM sebagai salah satu perguruan tinggi digital terkemuka dalam menghasilkan inovator muda. Inovasi VISPEAK tidak hanya menjadi kebanggaan kampus, tetapi juga menjadi motivasi bagi generasi muda untuk menggunakan teknologi secara inklusif, manusiawi, dan berkelanjutan,” katanya.
Dengan semangat digital yang menyatu dengan kepedulian sosial, mahasiswa UNM terus menunjukkan bahwa teknologi mampu menjadi jembatan antara kecerdasan dan kemanusiaan, bukti nyata bahwa masa depan yang cerah dimulai dari inovasi yang memperhatikan sesama.








