Nyala Gas Alam di Balik Nasi Jamblang Legendaris Cirebon

by -115 views
by
Nyala Gas Alam di Balik Nasi Jamblang Legendaris Cirebon

Keunikan Nasi Jamblang Ibu Nur dan Peran Gas Alam dalam Pengembangan Bisnis

Di kota Cirebon, terdapat sebuah warung yang telah menjadi ikon kuliner lokal yaitu Nasi Jamblang Ibu Nur. Di sini, kehidupan sehari-hari berjalan dengan penuh semangat, bahkan sebelum matahari terbit. Rindi Aningsih (58), salah satu pengelola warung tersebut, sudah mulai mempersiapkan bahan-bahan dan peralatan masak di dapur. Sebanyak 13 pekerja juga turut serta membantu, membuat suasana dapur semakin ramai.

Setiap hari, para pekerja mengerjakan tugas masing-masing seperti menggoreng tahu, tempe, otak sapi, sambal goreng, blakutak cumi hitam, dan berbagai lauk lainnya yang akan disajikan bersama Nasi Jamblang khas Cirebon. Suasana dapur ini terasa seperti melintasi waktu, karena tidak ada aroma asap kayu bakar atau bau minyak tanah seperti dulu. Yang ada hanya gas alam yang mengalir dari pipa-pipa besi di bawah tanah.

Gas alam ini menjadi sumber energi utama yang digunakan untuk memasak. Rindi menjelaskan bahwa ada 12 kompor dengan masing-masing 2 tungku, sehingga total ada 24 api yang menyala selama pagi hingga jam 16.00 WIB. Ini menunjukkan betapa pentingnya gas alam dalam operasional warung tersebut.

Dari Emper Trotoar ke Bangunan Dua Lantai

Warung Nasi Jamblang Ibu Nur awalnya hanya berdiri di trotoar Jalan Tentara Pelajar, Kota Cirebon, pada tahun 2007. Awalnya hanya beralas tikar dan beratap terpal, tetapi cita rasa dan olahan khas membuat usaha ini berkembang pesat. Mereka kemudian mengontrak tempat hingga akhirnya membangun bangunan dua lantai yang bisa menampung ratusan wisatawan.

Baca Juga:  Terminal Bubulak Kota Bogor Diguyur Hujan, Genangan Masih Terlihat

Cholis Nurfadilah, petugas kasir di warung tersebut, menjelaskan bahwa dalam satu hari, Nasi Jamblang Ibu Nur menghabiskan sekitar 200 kilogram beras. Angka ini meningkat hingga lebih dari 300 kilogram saat libur panjang atau Lebaran. Cholis juga menyampaikan bahwa usaha ini kini memiliki 36 orang karyawan yang bekerja di sana.

Nasi Jamblang Ibu Nur bukan hanya sekadar mencari untung, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan budaya dan tradisi. Sejak 2023, Nasi Jamblang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Gas Alam yang Menyala di Dapur Nasi Jamblang Ibu Nur

Dari setiap sendok nasi yang disajikan, ada gas alam yang selalu menyala. Cholis menunjukkan aliran gas alam serta meteran yang berada di tiga titik—dua atas nama pribadi keluarga dan satu atas nama Nasi Jamblang Ibu Nur. Bagi Cholis, penggunaan gas alam berhasil menekan biaya pengeluaran lebih dari 50 persen.

Contohnya, pada September 2025, Cholis hanya membayar tagihan gas alam ke PGN sebesar Rp 14.700.000 untuk pemakaian 2.450 meter kubik. Nominal ini jauh lebih hemat dibandingkan penggunaan 153 tabung gas elpiji nonsubsidi 12 kilogram yang bisa mencapai Rp 30.600.000.

Baca Juga:  Pelatihan Budidaya Maggot Untuk Warga di 3 Desa Dari DLH Kabupaten dan Kota Bogor

Peran Gas Alam dalam Bisnis UMKM

Nasi Jamblang Ibu Nur menjadikan gas alam sebagai sumber energi utama sejak menjadi pelanggan pada 2007. Hingga September 2025, PGN Cirebon memiliki 41.839 pelanggan, meliputi Rumah Tangga (RT), Pengguna Kecil (PK), dan Komersial Industri (KI). Dari total itu, PGN telah menyalurkan gas alam dengan volume 2,72 BBTUD atau setara 2.200.000 meter kubik.

Rhomy Adhy Prastiyo, Area Head PGN Area Cirebon, menyampaikan bahwa Nasi Jamblang Ibu Nur bertahun-tahun telah membuktikan penggunaan gas alam untuk sektor UMKM sangat berdampak positif. Gas alam lebih hemat dibanding gas nonsubsidi dengan konversi hitungan 1 kilogram tabung gas setara 1,27 meter kubik gas alam, sehingga keluar nilai penghematan yang fantastis.

Perjuangan Hulu Migas Nyalakan Cita-cita Swasembada Energi

Di balik sedapnya Nasi Jamblang, ada ribuan petugas yang bekerja di area eksplorasi migas. Salah satunya adalah para pekerja Stasiun Pengumpul (SP) Akasia Bagus di Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. JABARMEDIA menyaksikan langsung bagaimana tim memproduksi migas saat berkunjung pada Selasa (20/10/2025) siang. Mereka mencari minyak dan gas dari perut bumi, lalu memisahkan kandungan minyak dan gas untuk diolah hingga menjadi sumber energi.

Baca Juga:  Bubur Ayam Benteng (Tiffany): Gurih Lembut Penumpas Lapar di Kala Senja

Proses berisiko tinggi ini jauh dari kata instan. Kajian, pencarian, dan produksi memerlukan waktu bertahun-tahun. Inovasi teknologi pun terus dikembangkan untuk mewujudkan kemandirian energi nasional.

Kuwat Prayitno, Manager Oil and Gas Transportation Field PEP Region 2 Zona 7, menyampaikan bahwa pada 30 September 2025, Zona 7 memproduksi 2.496 barel minyak per hari (BOPD) dan 217,57 juta kaki kubik gas per hari (MMSCFD).

Pertamina, kata Kuwat, terus berupaya meningkatkan produksi migas melalui optimasi lapangan eksisting untuk mengimplementasikan amanat Asta Cita mewujudkan kemandirian dan swasembada energi menuju Indonesia Emas 2045.

Rindi Aningsih bersama 13 juru masak di dapur Nasi Jamblang Ibu Nur serta tim produksi di lapangan eksplorasi migas adalah pejuang di bagian hulu. Aktivitas mereka jarang tersorot kamera, namun hasil karya mereka nyata: menggerakkan ekonomi dan menyalakan energi.

Dari satu sendok nikmatnya Nasi Jamblang yang melegenda, selalu ada gas alam yang tak pernah berhenti mengalir.

About Author: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.