Peristiwa Banjir Bandang di Kecamatan Cisurupan, Garut
Pascabanjir bandang yang terjadi di Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, pada Kamis (20/11/2025), pemerintah kecamatan terus melakukan asesmen kerusakan dan penanganan darurat. Hujan deras yang berlangsung selama satu jam memicu luapan air dari Sub DAS Cibojong dan drainase lingkungan di Kampung Pasar Kaler, Desa Balewangi. Akibatnya, puluhan rumah terendam dan akses jalan tertutup lumpur setinggi dada orang dewasa.
Dalam laporan terbarunya, Camat Cisurupan, Ma’mun, S.Pd., M.Pd., A.Kp., menjelaskan bahwa banjir datang sangat cepat dan mengejutkan warga. Dalam hitungan menit, air meluap dari sungai kecil yang melewati permukiman. Peristiwa banjir bandang itu terjadi antara pukul 13.00–14.00 WIB. Intensitas hujan yang ekstrem membuat debit air Sub DAS Cibojong melonjak drastis hingga tidak mampu tertampung.
“Dalam hitungan menit, air sudah meluap dari aliran Sub DAS Cibojong dan masuk ke permukiman warga. Ada tujuh rumah yang langsung terdampak luapan awal,”
ujar Ma’mun saat dikonfirmasi Jumat (21/11/2025). Material lumpur, ranting, hingga potongan tanah terbawa arus dan menerjang permukiman. Warga tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga karena air naik secara tiba-tiba.
Selain derasnya hujan, Ma’mun menegaskan bahwa kondisi drainase di Kampung Pasar Kaler juga menjadi faktor krusial. Bagian atas drainase sepanjang ±50 meter tertutup bangunan rumah, halaman beton, serta area madrasah. Penutupan ini menyebabkan aliran air terhambat dan akhirnya meluap ke permukaan.
Menurut Ma’mun, permukaan drainase yang tertutup konstruksi keras menyebabkan arus air kehilangan jalur utama. Lebih parah lagi, halaman rumah yang telah dipelur semen ambruk dan ikut menutup saluran air.
“Halaman rumah peluran semen tersebut ambruk menutup drainase sehingga air meluap ke permukaan jalan dan beberapa halaman rumah. Hingga saat ini drainase belum normal kembali,”
jelasnya. Akibatnya, air tidak hanya menggenang di permukiman, tetapi juga mengalir deras ke jalan utama desa sehingga aktivitas warga sempat terhenti total.
Kondisi Terkini: Pembersihan Berlangsung, Evaluasi Tata Ruang Dimulai
Hingga Jumat (21/11/2025), material lumpur di beberapa titik jalan masih menumpuk setebal 30–50 cm. Petugas kecamatan, relawan, dan warga bersama-sama melakukan pembersihan menggunakan alat manual dan bantuan mesin pompa. Pemerintah kecamatan juga mulai melakukan evaluasi terhadap tata kelola drainase lingkungan.
Ma’mun menegaskan perlunya penertiban bangunan yang berdiri di atas saluran air agar peristiwa serupa tidak terulang. “Kami akan berkoordinasi dengan pemerintah desa dan pemilik bangunan untuk memastikan aliran drainase kembali normal dan tidak lagi tertutup konstruksi,” tegasnya.
BMKG sebelumnya telah mengeluarkan peringatan potensi hujan intensitas tinggi di wilayah Garut selatan. Ma’mun meminta warga tetap siaga, terutama mereka yang tinggal di dekat sungai kecil, tebing, atau saluran air. “Keselamatan warga adalah prioritas. Kami meminta masyarakat segera melapor jika melihat tanda-tanda penyumbatan atau kenaikan debit air,” ujarnya.









