Sejarah Warga Tanjungsari yang Tak Punya Jembatan, Rela Terobos Sungai untuk Pemakaman

by -155 views
by
Sejarah Warga Tanjungsari yang Tak Punya Jembatan, Rela Terobos Sungai untuk Pemakaman
Warga Desa Buanajaya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor sebrangi sungai tanpa jembatan untuk memakamkan jenazah

Warga Kampung Inpres, Kabupaten Bogor Masih Harus Melintasi Sungai Tanpa Jembatan

JABARMEDIA – Warga Kampung Inpres, Desa Buanajaya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, kembali menjadi sorotan karena belum memiliki akses jembatan. Hal ini membuat warga harus menghadapi tantangan berat saat melakukan pemakaman terhadap sesama warga yang meninggal dunia.

Setiap kali ada warga yang meninggal, warga harus menggotong keranda mayat melewati aliran sungai yang deras. Proses ini seringkali membuat warga basah kuyup dan membahayakan keselamatan mereka.

Pantauan di lokasi, pada Jumat (7/11/2025), lokasi pemakaman memang berada di seberang pemukiman warga. Area tersebut dipisahkan oleh Sungai Cimapag. Selama puluhan tahun, warga setempat terbiasa melintasi sungai tersebut karena tidak adanya jembatan.

Selain untuk ke pemakaman, warga juga sering menyeberangi sungai itu untuk pergi ke sawah atau kebun. Ketua RW setempat, Osim, menjelaskan bahwa warga sudah terbiasa melakukan hal ini sejak lama.

“Sejak kecil, warga sudah melalui sungai ini karena tidak ada jembatan. Sampai tahun 2025, warga masih harus mengalami hal tersebut,” ujarnya.

Baca Juga:  Menjelajahi Keindahan Alam Dan Sejarah Di Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda: Surga Tersembunyi Di Bandung

Menurut Osim, jalur lain seperti di Cigadung sudah memiliki jembatan. Namun, wilayah Kampung Inpres masih belum memiliki akses jembatan.

Makam di seberang sungai itu digunakan oleh warga tiga kampung sejak puluhan tahun lalu. Tiga kampung tersebut adalah Cirejag, Wangun, dan Inpres.

Dalam sejarahnya, kawasan ini memiliki satu makam keramat yang sudah ada sejak dulu. Makam tersebut dinamakan Uyut Saiun. Awalnya, warga memilih kawasan itu sebagai tempat pemakaman karena tidak ada tanah mati di sekitar.

Namun, keberadaan makam keramat ini tidak cukup untuk menghindari bahaya yang dihadapi warga saat menyeberangi Sungai Cimapag tanpa jembatan.

Osim mengakui bahwa menyeberangi sungai tanpa jembatan sangat berbahaya. Terlebih di musim penghujan, aliran sungai bisa meluap dan membuat proses pemakaman menjadi lebih sulit.

“Jika cuaca hujan dan ada warga yang meninggal, warga terpaksa menunda pemakaman sambil menunggu air surut,” katanya.

Selain itu, banyak warga yang juga menyeberangi sungai untuk ke kebun. Oleh karena itu, Osim menyatakan bahwa warga sangat membutuhkan jembatan.

Baca Juga:  Pimpinan Paguron GPJW - Kembangkan Ajaran hingga Mancanegara(Bag.1)

“Jembatan sangat dibutuhkan, selain untuk ke makam, banyak warga yang pergi ke kebun. Kalau hujan besar dan ada yang meninggal, susah kalau tidak ada jembatan,” ujarnya.

Sementara itu, informasi dari Desa Buanajaya menyebutkan bahwa pihak desa telah mengajukan permohonan ke dinas terkait mengenai kebutuhan akses jembatan warga Kampung Inpres. Namun, sampai saat ini, permohonan tersebut belum terwujud.

Keberadaan Jembatan: Solusi yang Diharapkan

Kehadiran jembatan akan menjadi solusi bagi warga Kampung Inpres. Jembatan tidak hanya membantu dalam proses pemakaman, tetapi juga memudahkan aktivitas sehari-hari warga, seperti pergi ke sawah atau kebun.

Selain itu, jembatan akan meningkatkan keselamatan warga, terutama saat musim hujan. Dengan adanya jembatan, warga tidak lagi harus menghadapi risiko tenggelam atau terpeleset saat menyeberangi sungai.

Permintaan warga untuk memiliki jembatan juga merupakan bentuk kebutuhan dasar masyarakat yang ingin hidup dengan nyaman dan aman.

Meskipun permohonan telah diajukan, kebutuhan ini masih belum terpenuhi. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan lembaga terkait untuk segera memperhatikan kondisi warga Kampung Inpres dan segera memberikan solusi yang layak.

Baca Juga:  Bupati Pati Sudewo Ditangkap KPK, Dibawa ke Jakarta

Tentang Penulis: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.