Bencana Banjir dan Longsor di 9 Kecamatan Kabupaten Sukabumi
Hujan deras yang terus mengguyur dalam dua hari terakhir, yakni Senin-Selasa 15-16 Desember 2025, memicu serangkaian bencana longsor dan banjir di sembilan kecamatan di Kabupaten Sukabumi. Dampaknya cukup signifikan, mulai dari akses jalan yang terputus hingga jembatan yang ambruk dan puluhan rumah warga yang berada dalam ancaman serius.
Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, banjir dan longsor menyebabkan beberapa kerugian. Di antaranya adalah akses jalan yang terputus, jembatan yang rusak, serta adanya ancaman terhadap keselamatan warga.
Manajer Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, menjelaskan bahwa sembilan kecamatan yang terdampak antara lain Warungkiara, Caringin, Cibadak, Ciemas, Cikembar, Jampang Tengah, Bantargadung, Simpenan, dan Gegerbitung. Menurutnya, dampak paling signifikan terjadi di Warungkiara dan Bantargadung, karena sejumlah ruas jalan vital tidak dapat dilalui.
Di Kecamatan Warungkiara, longsoran tanah menutup total akses jalan kabupaten dengan panjang material longsor mencapai 25 meter, tinggi 2 meter, dan lebar 8 meter. Selain itu, Jembatan Cikolomeran yang menjadi penghubung antara Desa Hegarmanah dan Desa Bantarkalong juga ambruk.
Sementara itu, di Kecamatan Bantargadung, bahu jalan kabupaten di beberapa titik longsor, termasuk di Kampung Cibuhung dan Kampung Citamiang. Ruas jalan nasional di Kampung Cijambe juga sempat tertimpa longsoran tebing dan kini sedang ditangani.
Rumah Terancam Akibat Longsor
Menurut Daeng, intensitas hujan yang tinggi juga memicu pergerakan tanah dan longsor yang kini mengancam keselamatan warga. Di Kampung Cibatu Hilir, Desa Sekarwangi, Kecamatan Cibadak, sedikitnya 5 rumah yang dihuni 8 keluarga atau 20 jiwa terancam setelah 2 rumah bambu tergerus longsor. Sementara di Kampung Peundeuy, Desa Warnajati, jalan lingkungan tergerus longsor, mengakibatkan 2 rumah, dengan total 9 jiwa terancam.
Di Kampung Cicatih, Kecamatan Cikembar, 2 rumah yang dihuni 8 jiwa harus direlokasi akibat pergeseran tanah sepanjang 15 meter dan lebar 5 meter. Masih di Cikembar, tepatnya di Kampung Muara Cisampih dan Kampung Genteng, Desa Sukamaju, terdapat 2 titik longsor mengenai dapur rumah warga.
Daeng melanjutkan, Kecamatan Bantargadung merupakan wilayah dengan titik bencana longsor paling banyak. Di Kampung Cijagung, Desa Bojonggaling, bencana pergeseran tanah yang mengakibatkan dua rumah yang dihuni lima jiwa terancam.
Situasi Darurat di Kecamatan Simpenan
Kecamatan Simpenan menjadi wilayah dengan situasi darurat terparah. Di Desa Cidadap dan Cibuntu, banjir mengakibatkan 1 rumah hanyut dan 1 rumah rusak ringan. Sebanyak 15 rumah lainnya, dengan total 22 keluarga, berstatus terancam karena air sudah mencapai 1 meter mendekati permukiman.
”Data terdampak di Simpenan merupakan kejadian berulang yang sebelumnya pernah terjadi pada Desember 2024 dan Maret 2025, menunjukkan kawasan tersebut berada di zona merah rawan bencana,” katanya.
Pihaknya pun terus mengimbau masyarakat di wilayah rawan longsor dan banjir untuk meningkatkan kewaspadaan, mengingat potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana susulan.








