Bencana Purabaya: Duka Mendalam di Kampung Cipeusing Akibat Air Bah
JABARMEDIA – Kabupaten Sukabumi kembali berduka setelah bencana hidrometeorologi ekstrem menerjang wilayah Kecamatan Purabaya pada akhir tahun 2025. Hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak siang hari memicu terjadinya banjir bandang dahsyat yang meluluhlantakkan permukiman warga. Peristiwa banjir ini berpusat di Kampung Cipeusing, Desa Cimerang, Kabupaten Sukabumi, pada Minggu sore, 28 Desember 2025.
Prahara bermula sekitar pukul 16.30 WIB ketika Sungai Cimerang tidak lagi mampu menampung debit air yang meningkat drastis. Air bah berwarna cokelat pekat membawa material vulkanik, batu besar, dan gelondongan kayu menghantam rumah-rumah warga dengan kecepatan tinggi. Ketinggian air yang mencapai 1,5 meter membuat warga tidak memiliki banyak waktu untuk menyelamatkan harta benda mereka.
Kronologi dan Suasana Mencekam di Lokasi Kejadian
Menurut kesaksian warga di lokasi, suasana saat kejadian sangat mencekam. Gemuruh air dari hulu sungai terdengar sangat keras sebelum akhirnya air meluap ke daratan. Material lumpur yang tebal seketika menyelimuti jalanan kampung dan masuk ke dalam rumah-rumah permanen maupun panggung milik warga. Jeritan kepanikan pecah saat warga berusaha menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi tanpa sempat membawa pakaian maupun dokumen berharga.
Ketua RW setempat, Rustaman (53), mengungkapkan bahwa banjir kali ini merupakan yang terdahsyat yang pernah ia saksikan. Ia membandingkan dengan peristiwa serupa pada tahun 2013, namun menyebut bencana tahun ini jauh lebih destruktif. Material yang dibawa arus bukan hanya air dan lumpur tipis, melainkan bebatuan besar yang langsung menghantam struktur bangunan hingga roboh.
Data sementara menunjukkan dampak kerusakan yang sangat signifikan. Rustaman mengonfirmasi sedikitnya lima unit rumah warga mengalami kerusakan parah hingga tidak mungkin lagi untuk ditempati. Bahkan, satu unit rumah dilaporkan hilang tak berbekas setelah terseret arus deras Sungai Cimerang. Selain bangunan, sektor peternakan warga juga lumpuh total; tercatat sembilan ekor domba hanyut dan ribuan ikan di lima kolam budidaya hilang terbawa air.
Kerugian Sektor Pertanian dan Infrastruktur Desa
Kepala Desa Cimerang, Nyanyang Rismana, dalam keterangannya menjelaskan secara rinci skala kerusakan yang dialami desanya. Berdasarkan pendataan lapangan, selain lima rumah yang hancur total, terdapat sembilan rumah lainnya yang dihuni oleh sembilan keluarga mengalami kerusakan kategori sedang. Secara keseluruhan, belasan kepala keluarga kini terpaksa kehilangan tempat tinggal yang aman.
Sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi warga Kampung Cipeusing pun hancur berantakan. Sekitar 2,5 hektare lahan persawahan yang tengah memasuki masa panen kini tertutup material batu dan lumpur setebal puluhan sentimeter. Harapan warga untuk memanen hasil jerih payah mereka sirna seketika, tertimbun material sisa banjir yang sulit dibersihkan secara manual.
“Ini adalah bencana terparah sepanjang sejarah Desa Cimerang. Air bah membawa material yang sangat berat seperti batu-batu besar dan kayu yang menghancurkan infrastruktur desa serta lahan tani. Kerugian materiel ditaksir mencapai angka ratusan juta rupiah,” ujar Nyanyang saat meninjau lokasi terdampak.
Upaya Penanganan dan Harapan Warga Terdampak
Saat ini, fokus utama pihak desa dan pengurus lingkungan adalah memastikan kebutuhan dasar warga pengungsi terpenuhi. Lima keluarga yang kehilangan rumah kini menumpang di kediaman kerabat dan tetangga terdekat yang lokasinya lebih aman. Kebutuhan mendesak yang diperlukan warga saat ini meliputi pakaian layak pakai, bahan pangan, obat-obatan, serta perlengkapan sekolah bagi anak-anak.
Rustaman menambahkan bahwa pihaknya sedang memprioritaskan pendataan bagi anak-anak usia sekolah. Banyak dari mereka yang kehilangan seragam dan buku pelajaran karena semuanya terendam lumpur pekat. Kondisi psikologis warga, terutama anak-anak, juga menjadi perhatian karena trauma akibat terjangan air bah yang datang secara tiba-tiba di penghujung tahun ini.
Masyarakat Desa Cimerang kini menaruh harapan besar kepada Pemerintah Kabupaten Sukabumi. Mereka berharap adanya langkah cepat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Sosial untuk memberikan bantuan renovasi rumah serta normalisasi aliran sungai agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan. Kehadiran langsung pimpinan daerah, dalam hal ini Bupati Sukabumi, sangat diharapkan untuk memberikan dukungan moral dan solusi konkret bagi pemulihan ekonomi warga yang terpuruk akibat bencana ini.
Kewaspadaan di sepanjang aliran Sungai Cimerang Sukabumi kini ditingkatkan. Mengingat cuaca ekstrem diprediksi masih akan berlangsung hingga awal tahun baru. Pihak desa terus mengimbau warga untuk segera mengungsi jika tanda-tanda luapan air sungai kembali muncul. Pengawasan kolektif terhadap debit air menjadi kunci utama untuk mencegah adanya korban jiwa di tengah ancaman banjir susulan yang bisa terjadi kapan saja.









