Fadli Zon: Tempe sebagai Alat Gastrodiplomasi

by -63 views
by
Fadli Zon: Tempe sebagai Alat Gastrodiplomasi



Tempe: Senjata Gastrodiplomasi yang Menjadi Harapan Kementerian Kebudayaan

Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menyampaikan pandangan bahwa tempe bisa menjadi alat penting dalam gastrodiplomasi. Istilah ini merujuk pada upaya mempromosikan citra negara melalui makanan, khususnya di luar negeri. Tempe, sebagai salah satu sumber protein nabati yang kaya akan nutrisi, memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia.

Dalam acara Festival Budaya Tempe di Jakarta, Ahad (21/12/2025), Menbud menekankan peran penting para ahli makanan, koki, dan pelaku usaha kuliner dalam mengolah dan menyajikan hidangan berbahan dasar tempe. Ia berharap mereka dapat menciptakan inovasi baru agar tempe tidak hanya dikenal sebagai makanan tradisional, tetapi juga bisa menjadi bagian dari gastronomi modern yang menarik minat dunia.

“Kita harapkan para chef dan ahli makanan, terutama yang memiliki kearifan lokal, bisa membuat tempe dengan bentuk dan rasa yang lebih kreatif. Dengan demikian, tempe bisa menjadi alat gastrodiplomasi yang efektif,” ujar Menbud.

Selain itu, ia juga menyoroti perlunya pelatihan dan lokakarya bagi para perajin tempe. Tujuannya adalah meningkatkan kemampuan mereka dalam memproduksi dan mengolah tempe dengan standar yang lebih baik. Peningkatan kualitas produk akan membantu meningkatkan daya saing tempe di pasar domestik maupun internasional.

Baca Juga:  Bupati Pati Sudewo Ditangkap KPK, Dibawa ke Jakarta

“Bagaimana membuat tempe yang higienis, sehat, dan mungkin menggunakan bahan-bahan organik. Hal ini akan meningkatkan nilai jual tempe,” tambahnya.

Menurut Menbud, para perajin tempe bisa mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi jika mampu memproduksi olahan tempe berkualitas. Namun, ia mengakui bahwa tantangan utama dalam meningkatkan produksi tempe adalah ketersediaan bahan baku. Saat ini, produksi kedelai dalam negeri masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan industri tahu dan tempe.

“Indonesia masih bergantung pada impor kedelai untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Kita berharap para ahli pertanian bisa memproduksi kedelai sendiri dengan bantuan teknologi modern. Dengan begitu, kita bisa memperoleh tempe yang berasal dari dalam negeri,” ujarnya.

Selain itu, Kementerian Kebudayaan (Kemenkebud) RI telah mengajukan permohonan penetapan tempe sebagai bagian dari warisan budaya tak benda UNESCO. Tujuan dari pengajuan ini adalah agar tempe bisa dimasukkan ke dalam daftar warisan budaya tak benda UNESCO pada 2026.

Harapan besar diarahkan agar tempe tidak hanya menjadi makanan tradisional, tetapi juga diakui secara internasional sebagai simbol budaya Indonesia. Dengan demikian, tempe akan menjadi representasi dari kekayaan budaya dan keberagaman Indonesia di mata dunia.

Baca Juga:  Kunci Jawaban IPA Kelas 8 SMP Kurikulum Merdeka: Eksperimen Pelarutan Gula Halaman 175

Pengembangan tempe sebagai gastrodiplomasi juga akan memberikan dampak positif pada perekonomian masyarakat, terutama para perajin. Dengan dukungan pemerintah dan pelibatan pelaku usaha, tempe bisa menjadi aset penting dalam menjaga identitas budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi.

About Author: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.