Kedai Lontong Medan Ka, Zahra Jadi Spot Kuliner Khas Medan di Bandung

by -32 views
Kedai Lontong Medan Ka, Zahra Jadi Spot Kuliner Khas Medan di Bandung

Sejarah dan Keunikan Lontong Medan Ka’ Zahra di Bandung

Di tengah keramaian kuliner Jalan Dipatiukur, Kota Bandung, terdapat satu kedai yang memiliki aroma khas: harum santan, rempah, dan wangi bawang goreng yang menguar dari mangkuk-mangkuk soto. Kedai ini dikenal dengan nama Lontong Medan Ka’ Zahra, yang berada di No. 42/60, Kecamatan Coblong, Kota Bandung.

Sejak tahun 2011, kedai ini menjadi tempat pertemuan bagi berbagai kalangan, termasuk mahasiswa, warga Bandung, hingga para perantau asal Sumatera Utara yang merindukan cita rasa kampung halaman. Pemiliknya, Tagor Lubis (60), seorang pria kelahiran Medan yang sudah merantau ke Bandung sejak tahun 1984.

Tagor menceritakan bahwa awal berdirinya kedai ini bukanlah sekadar untuk bisnis, melainkan karena keprihatinan kecil terhadap minimnya makanan khas Medan di Bandung pada masa itu. Ia mengatakan:

“Dulu makan daerah lain sudah banyak. Warung Padang, soto Madura, macam-macam. Tapi makanan Medan itu masih sulit dicari.”

Menu Andalan dan Harga Terjangkau

Menu andalan di Lontong Medan Ka’ Zahra tentu saja soto Medan yang disajikan dengan kuah santan dan aroma rempah yang khas. Tagor menjelaskan bahwa soto Medan berbeda dengan Soto Padang atau Soto Bandung yang biasanya bening.

“Harus dirasakan dulu, yang jelas, soto Medan itu bersantan. Beda dengan Soto Padang atau Soto Bandung yang bening.”

Harga seporsi soto dibanderol sekitar Rp28.000, namun kedai ini memberi harga khusus untuk mahasiswa, yaitu Rp22.400. Selain lontong dan soto, daftar menunya cukup lengkap untuk ukuran kedai spesialis kuliner daerah. Beberapa menu populer antara lain:

  • Mie gomak
  • Mie sop
  • Gado-gado
  • Ikan sale
  • Daun ubi tumbuk
Baca Juga:  Detik-detik Kebakaran Rumah Panggung di Rancakalong Sumedang yang Tewaskan Lansia

Semua menu tersebut merupakan hidangan khas Medan yang tetap mempertahankan resep asli. Tagor menyampaikan bahwa:

“Resepnya ya resep orang sana, seperti itu yang kita tawarkan.”

Perjalanan Kedai yang Berawal dari Tenda Kecil

Perjalanan Lontong Medan Ka’ Zahra dimulai dari sebuah tenda kecil di depan Universitas Padjadjaran (Unpad) pada Januari 2011. Lima bulan kemudian, mereka memutuskan untuk pindah ke lokasi saat ini dan tidak pernah berpindah lagi.

Yang membuat kedai ini semakin hidup adalah ritme operasionalnya yang buka selama 24 jam. Tiga shift pegawai memastikan wajan tetap panas dari pagi hingga dini hari.

Menurut Tagor, kedai ini menjadi tempat yang cocok bagi berbagai kalangan, baik mahasiswa yang pulang belajar, sopir ojek online, pekerja yang lembur, maupun perantau yang mendadak rindu kampung halaman.