Visi Majalengka Langkung Sae yang Lebih Dalam
Bupati Majalengka, Eman Suherman, mengungkapkan bahwa istilah “Majalengka Langkung Sae” bukan sekadar slogan, melainkan visi utama yang menjadi roh dari arah pembangunan Kota Angin Majalengka. Ia menjelaskan bahwa frasa ini sering disalahpahami sebagai perbandingan antara pemerintahannya dan pemerintahan sebelumnya. Padahal, maknanya jauh lebih filosofis dan bermakna mendalam.
Menurut Eman, kata “langkung sae” merupakan ajakan untuk terus memperbaiki diri, baik secara individu maupun sebagai masyarakat. Ia menegaskan bahwa jika ada yang menganggapnya sebagai perbandingan, maka ia sendiri bagian dari masa lalu. Jadi, tidak mungkin ia membandingkan diri sendiri.
Eman mengakui masih ada sebagian masyarakat yang menafsirkan “langkung sae” sebagai pembanding kinerja antara periode pemerintahan. Ia menilai penting untuk memberikan penjelasan secara terbuka agar tidak menimbulkan salah persepsi.
“Supaya tidak ada lagi diskusi yang mengarah ke salah pengertian. Ini bukan soal siapa lebih baik dari siapa, tetapi bagaimana kita membuat Majalengka lebih baik dari hari kemarin,” ujarnya.
Makna Filosofis dari ‘Langkung Sae’
Konsep “langkung sae” didasarkan pada sebuah hadis riwayat Al-Hakim. Hadis tersebut menjelaskan tiga kategori manusia: mereka yang hari ini lebih baik dari kemarin adalah orang beruntung, yang sama adalah orang rugi, dan yang lebih buruk adalah orang tercela.
“Ini nilai dasar yang menjadi teladan bagi kita semua. Bila ingin menjadi manusia yang beruntung, kita harus berubah menjadi lebih baik dari hari kemarin,” kata Eman.
Pria 56 tahun ini menuturkan, ajaran itu kemudian diterapkan dalam pembangunan Majalengka sebagai dorongan moral agar masyarakat tidak berhenti bertumbuh dan selalu bergerak menuju kondisi yang lebih baik.
Makna Strategis dari ‘SAE’
Selain makna filosofis, “langkung sae” juga memiliki makna strategis. Eman mengungkapkan bahwa akronim SAE (Sahabat Akang Eman) merupakan simbol kedekatan antara dirinya, pemerintah daerah, dan seluruh warga Majalengka.
Konsep sahabat ini dihadirkan untuk menekankan pemerintahan yang terbuka, tidak berjarak, dan mudah diakses. “Masyarakat tidak boleh merasa canggung. Semua saya posisikan sebagai sahabat. Melalui kedekatan itu, pembangunan bisa dirangkul bersama,” jelasnya.
Menurut Eman, pendekatan ini penting terutama ketika Majalengka membutuhkan partisipasi masyarakat dalam berbagai program pemberdayaan. Dengan hubungan setara seperti sahabat, komunikasi dan kolaborasi diyakini dapat berjalan lebih efektif.
Pembangunan Inklusif
Dalam kesempatan tersebut, Eman menegaskan bahwa “langkung sae” dirancang untuk menjadi pemersatu, bukan pemecah. Pemerintah, ASN, dan masyarakat diposisikan dalam hubungan yang setara sebagai sahabat yang saling mengisi, saling menguatkan, dan saling mendukung.
“Ketika pemerintah dan masyarakat berjalan bersama, pembangunan bukan lagi beban satu pihak. Majalengka bisa melangkah lebih cepat karena semuanya bergerak satu tujuan,” ujarnya.
Dengan pendekatan ini, Eman meyakini bahwa visi Majalengka Langkung Sae bukan hanya slogan, tetapi dapat menjadi budaya kerja dan sikap hidup yang melekat dalam keseharian masyarakat. Dia berharap penjelasan yang disampaikan dapat menghentikan perdebatan soal makna “langkung sae”.
Harapan Masa Depan
Menurutnya, ketika makna sudah dipahami dengan tepat, fokus semua pihak dapat kembali diarahkan pada pembangunan yang lebih efektif dan kolaboratif.
“Kalau maknanya dipahami benar, maka tujuan kita sama, yaitu bagaimana Majalengka bisa lebih baik dari sebelumnya. Itulah Langkung Sae,” tegasnya.
Dengan pemahaman yang lebih utuh ini, Eman berharap masyarakat dapat ikut mengambil peran aktif dan bersama-sama mendorong terwujudnya Majalengka yang semakin maju dan sejahtera lagi.







