Perawatan antenatal terhenti akibat banjir, risiko kehamilan meningkat

by -28 views

Dampak Banjir terhadap Akses Perawatan Kesehatan Ibu Hamil

Di berbagai wilayah Indonesia, banjir sering kali mengganggu akses ke fasilitas kesehatan seperti puskesmas, bidan praktik mandiri, dan rumah sakit. Hal ini menyebabkan kunjungan perawatan antenatal (ANC) yang seharusnya rutin menjadi tertunda atau bahkan tidak bisa dilakukan sama sekali. Padahal, perawatan antenatal bukan hanya sekadar agenda administratif. Di balik setiap kunjungan, ada pemeriksaan tekanan darah, kadar gula, pertumbuhan janin, hingga edukasi tentang tanda bahaya kehamilan. Ketika akses ini terputus akibat banjir, risiko kesehatan ibu dan janin meningkat, dan hal ini sering kali tidak disadari.

Banyak laporan dan studi menunjukkan bahwa gangguan layanan kesehatan maternal akibat bencana alam, termasuk banjir, berkaitan dengan keterlambatan deteksi komplikasi kehamilan. Dampaknya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi bisa berujung pada konsekuensi serius jika tidak segera ditangani.

Risiko Terputusnya Perawatan Antenatal pada Ibu Hamil

Terputusnya perawatan antenatal membuat kondisi berisiko seperti preeklamsia berpotensi luput terdeteksi. Preeklamsia sering berkembang tanpa gejala jelas di awal, dan salah satu cara utama mendeteksinya adalah melalui pemeriksaan tekanan darah dan urine secara rutin. Keterlambatan diagnosis preeklamsia meningkatkan risiko kejang, gagal organ, hingga kematian ibu dan janin.

Baca Juga:  Pilkades Indramayu Ditunda, Tunggu Aturan Kemendagri

Risiko serupa juga terjadi pada diabetes gestasional. Kondisi ini sering kali tidak menimbulkan keluhan khas, tetapi berdampak besar pada kehamilan, mulai dari bayi lahir besar (makrosomia) hingga komplikasi persalinan. Studi menunjukkan bahwa gangguan layanan perawatan antenatal selama krisis atau bencana berkaitan dengan meningkatnya komplikasi kehamilan yang seharusnya bisa dicegah dengan skrining rutin.

Selain itu, putusnya perawatan antenatal juga berdampak pada pemantauan pertumbuhan janin dan anemia pada ibu hamil. Dalam situasi darurat dan bencana, risiko anemia dan malnutrisi pada ibu hamil meningkat karena akses layanan kesehatan dan pangan yang terbatas, yang pada akhirnya memengaruhi kesehatan bayi.

Apa yang Bisa Dilakukan Oleh Ibu Hamil Saat Bencana?

Dalam situasi bencana, ibu hamil sangat disarankan untuk tetap berupaya menjaga kontak dengan tenaga kesehatan, walaupun tidak selalu melalui kunjungan langsung. Jika memungkinkan, manfaatkan telekonsultasi atau komunikasi jarak jauh dengan bidan atau dokter kandungan untuk melaporkan kondisi, keluhan, dan hasil pemeriksaan sederhana yang masih bisa dilakukan.

Baca Juga:  Tujuh Kecamatan Rawan Antraks-16.000 Hewan Kurban Divaksinasi

Ibu hamil juga perlu lebih waspada terhadap tanda bahaya kehamilan, seperti sakit kepala hebat, pandangan kabur, bengkak mendadak pada wajah dan tangan, nyeri perut hebat, atau gerak janin berkurang. Jika gejala-gejala tersebut muncul, segera cari pertolongan medis, meski akses sulit.

Di pengungsian atau wilayah terdampak banjir, ibu hamil dianjurkan mencatat riwayat kehamilan, usia kehamilan, dan hasil pemeriksaan terakhir jika memungkinkan. Informasi ini sangat membantu tenaga kesehatan saat layanan kembali tersedia atau saat dilakukan pelayanan kesehatan darurat.

Menguatkan Layanan Kesehatan Ibu dalam Situasi Bencana

Banjir tidak hanya membawa dampak fisik dan ekonomi, tetapi juga memutus mata rantai perawatan kesehatan ibu hamil. Terhentinya perawatan antenatal membuat risiko kehamilan seperti preeklamsia dan diabetes gestasional lebih sulit terdeteksi tepat waktu. Menguatkan layanan kesehatan ibu dalam situasi bencana, baik melalui layanan darurat, telemedisin, maupun sistem rujukan yang adaptif menjadi kunci untuk mencegah dampak jangka panjang pada ibu dan generasi berikutnya.