31 Persen Produksi Gas Bumi RI Diekspor Tahun 2025

by -57 views
by
31 Persen Produksi Gas Bumi RI Diekspor Tahun 2025

Produksi Gas Bumi Indonesia pada 2025

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa rata-rata produksi gas bumi Indonesia pada tahun 2025 mencapai 5.600 Billion British Thermal Units per Day (BBTUD). Dari total produksi tersebut, sebanyak 31 persen atau sekitar 1.691 BBTUD dialokasikan untuk kebutuhan ekspor. Hal ini menunjukkan bahwa produksi gas bumi nasional cukup besar dan mampu memenuhi kebutuhan pasar luar negeri.

Bahlil menjelaskan bahwa pengelolaan produksi gas yang lebih optimal telah membuat Indonesia tidak perlu melakukan impor liquefied natural gas (LNG) pada awal 2025. Sebelumnya, pemerintah sempat merencanakan impor sekitar 40 kargo LNG. Namun, dengan peningkatan produksi dan efisiensi dalam pengelolaannya, seluruh kebutuhan gas dalam negeri dapat terpenuhi tanpa harus mengimpor.

“Berkat kerja keras kita semua, pada 2025 kita tidak melakukan impor gas. Seluruh produksi gas kita dimanfaatkan, sebagian untuk kebutuhan dalam negeri dan sebagian untuk ekspor. Ini berbeda dengan kondisi minyak,” ujar Bahlil dalam jumpa pers di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Kamis, 8 Januari 2026.

Baca Juga:  Lucky Hakim Jamin Komitmen Pemkab Indramayu Lindungi Alam dan Pertanian

Selain untuk ekspor, pemerintah juga mengalokasikan gas bumi sebesar 3.908 BBTUD untuk kebutuhan domestik. Dari jumlah tersebut, sektor hilirisasi industri dan pupuk menyerap porsi terbesar, yaitu sebesar 2.091 BBTUD. Hal ini menunjukkan bahwa gas bumi digunakan secara luas untuk mendukung sektor-sektor strategis dalam perekonomian.

Tingkat Produksi dan Target yang Tercapai

Dari sisi lifting, produksi gas bumi pada 2025 tercatat sebesar 951,8 ribu barel setara minyak per hari (MBOEPD). Meskipun angka ini menunjukkan peningkatan dari tahun sebelumnya, namun masih belum mencapai target APBN 2025 yang ditetapkan sebesar 1,05 juta MBOEPD. Hal ini menunjukkan bahwa ada ruang untuk peningkatan produksi gas bumi agar dapat mencapai target yang ditetapkan.

Selain itu, Bahlil juga menyampaikan bahwa kinerja penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sektor minyak dan gas mengalami penurunan. Pada 2025, PNBP migas tercatat sebesar Rp105,04 triliun atau hanya 83,7 persen dari target sebesar Rp125,46 triliun.

Menurut Bahlil, penurunan PNBP terjadi akibat selisih asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP). Pemerintah menetapkan ICP sebesar US$80 per barel dalam APBN 2025, sementara harga rata-rata minyak sepanjang tahun hanya berada di kisaran US$68 per barel.

Baca Juga:  11 Pos Polisi Dibangun di Titik Rawan Kota Bandung

“Lifting tercapai, tetapi harga sedang turun. Harga komoditas memang sedang melemah,” katanya.

Kondisi Harga Minyak dan Dampaknya

Penurunan harga minyak mentah menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pendapatan negara dari sektor migas. Meskipun produksi gas bumi telah mencapai tingkat tertentu, fluktuasi harga global membuat pendapatan yang diterima oleh pemerintah tidak sesuai dengan harapan awal.

Namun, Bahlil menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan produksi dan optimasi pengelolaan sumber daya energi. Dengan peningkatan produksi gas bumi, diharapkan bisa memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.

Strategi Pengembangan Sektor Energi

Beberapa langkah strategis sedang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan kapasitas produksi gas bumi dan memperkuat sektor energi nasional. Salah satunya adalah melalui investasi dalam infrastruktur dan teknologi pengolahan gas bumi. Selain itu, pemerintah juga berupaya memperluas pasar ekspor untuk meningkatkan nilai ekonomi dari sumber daya alam yang ada.

Dengan adanya alokasi gas bumi untuk sektor hilirisasi industri dan pupuk, diharapkan bisa memacu pertumbuhan sektor-sektor lain yang bergantung pada energi murah dan stabil. Hal ini akan berdampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat dan stabilitas ekonomi nasional.

Baca Juga:  Agus Hamdani Fokus Urus Pilkada Garut

Dalam rangka mencapai target produksi yang lebih tinggi, pemerintah juga akan terus memperbaiki sistem pengelolaan dan pengawasan terhadap sektor energi. Dengan kerja sama antara pemerintah, swasta, dan masyarakat, diharapkan sektor energi bisa menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia yang lebih kuat dan mandiri.

About Author: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.