Kondisi Jembatan yang Rusak di Kampung Leuwidinding
Kabut tipis masih menyelimuti aliran Sungai Cimandiri pada Rabu 21 Januari 2026 pagi. Di pinggir sungai, belasan siswa berseragam sekolah berkumpul, mengantre giliran menaiki sebuah perahu karet berwarna oranye milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi. Suara riuh rendah anak-anak sekolah memecah sunyi di tepian sungai.
Tidak ada jembatan yang biasanya mereka lalui. Sebagai gantinya, perahu karet tampak bersandar di sela-sela bebatuan sungai yang licin. Menyeberang mondar-mandir mengantar para pelajar, berbekal tali melintang melintasi sungai. Sejak jembatan gantung Leuwidinding sepanjang 48 meter yang menghubungkan Kecamatan Jampangtengah dan Kecamatan Gunungguruh hancur diterjang luapan air pada 28 Desember 2025 lalu, perahu ini menjadi satu-satunya penghubung bagi warga dan pelajar.
”Jembatan ini satu-satunya akses tercepat. Sekarang warga dari Desa Wangunreja, Sukamaju, hingga Tanjungsari harus berjuang ekstra saat pergi sekolah atau bekerja,” ujar Kepala Desa Tanjungsari Dilah Habillah, Rabu 21 Januari 2026.
Dilah menjelaskan, kerusakan ini berdampak langsung pada ratusan keluarga di delapan RT di Kampung Leuwidinding. Tanpa jembatan, pilihan warga hanya dua, yaitu menantang maut dengan perahu karet atau memutar jalan hingga belasan kilometer. Dilah tak menyangka rasa waswas yang menghantui setiap kali melihat warganya menyeberang menggunakan perahu karet, terutama saat cuaca buruk.
”Penyebabnya hujan deras berhari-hari hingga tanggul terkena luapan. Bantuan perahu karet dari BPBD ini sangat menolong, tapi risikonya sangat besar kalau tiba-tiba hujan besar turun dan air sungai naik lagi,” ucapnya.
Bagi Popi, salah satu orangtua siswa asal Desa Tanjungsari, rutinitas paginya kini berubah menjadi perjuangan fisik dan mental. Setiap hari, dia harus memastikan anaknya sampai ke sekolah tepat waktu. Jika nekat menyeberang, nyawa taruhannya. Namun, jika memilih jalan darat, ia harus memutar arah hingga tiga kali lipat jarak biasanya.
Hingga saat ini, ratusan warga di Kampung Leuwidinding berharap ada langkah nyata dari pemerintah daerah untuk segera memperbaiki jembatan tersebut.
Saat matahari mulai meninggi, perahu karet itu kembali bergerak membelah arus Cimandiri, membawa harapan kecil yang dibungkus seragam sekolah, sembari menanti jembatan kembali dibangun. ”Warga tidak butuh janji, butuhnya kepastian supaya anak-anak tak perlu lagi bertaruh nyawa hanya untuk sampai ke kelas,” kata Popi.
Dampak Kerusakan Jembatan pada Kehidupan Warga
Kerusakan jembatan gantung Leuwidinding telah berdampak signifikan pada kehidupan sehari-hari warga. Sebelum jembatan rusak, warga dapat dengan mudah melintasi sungai untuk menuju kecamatan lain. Namun, sekarang, mereka harus mencari alternatif transportasi yang lebih sulit dan berisiko.
-
Perahu karet sebagai solusi sementara
Perahu karet dari BPBD menjadi satu-satunya cara untuk menyeberang. Meskipun bermanfaat, penggunaan perahu ini tetap memiliki risiko tinggi, terutama saat cuaca buruk. Warga harus siap menghadapi kondisi yang tidak pasti setiap hari. -
Jalan darurat yang panjang dan melelahkan
Alternatif lain adalah memutar jalan hingga belasan kilometer. Ini memakan waktu dan tenaga, terutama bagi para pelajar dan pekerja yang harus berangkat pagi-pagi. -
Kekhawatiran terhadap keselamatan
Para orang tua seperti Popi merasa khawatir setiap kali anak-anak mereka menyeberang menggunakan perahu karet. Mereka ingin kepastian bahwa anak-anak bisa sampai ke sekolah tanpa mengorbankan nyawa.
Harapan Warga untuk Perbaikan Jembatan
Warga Kampung Leuwidinding sangat berharap pemerintah daerah segera melakukan perbaikan jembatan. Mereka tidak hanya membutuhkan janji-janji, tetapi juga tindakan nyata yang dapat memberikan kepastian bagi kehidupan sehari-hari.
-
Kebutuhan akan infrastruktur yang aman
Jembatan yang rusak harus segera diperbaiki agar warga tidak lagi terpaksa mengambil risiko tinggi untuk menyeberang. -
Peningkatan kualitas hidup
Dengan adanya jembatan yang baik, akses ke kecamatan lain akan lebih mudah, sehingga kehidupan warga bisa kembali normal. -
Kesejahteraan anak-anak dan generasi muda
Anak-anak tidak boleh terus-menerus mengorbankan nyawa hanya untuk mendapatkan pendidikan. Jembatan yang baik adalah investasi masa depan bagi mereka.
Tantangan dalam Pemulihan Infrastruktur
Meski kebutuhan akan perbaikan jembatan sudah jelas, proses pemulihan infrastruktur ini tidak selalu cepat. Ada banyak faktor yang memengaruhi, seperti anggaran, perencanaan, dan kondisi cuaca.
-
Proses perencanaan dan anggaran
Pemulihan jembatan membutuhkan perencanaan matang dan anggaran yang cukup. Proses ini bisa memakan waktu beberapa bulan hingga tahun. -
Kondisi cuaca yang tidak menentu
Hujan deras yang sering terjadi di daerah ini bisa memperlambat proses perbaikan. Cuaca buruk juga meningkatkan risiko kerusakan tambahan. -
Partisipasi masyarakat
Masyarakat juga perlu terlibat dalam proses pemulihan. Mereka bisa memberikan masukan dan dukungan untuk memastikan perbaikan dilakukan secara efektif.
Kesimpulan
Jembatan gantung Leuwidinding yang rusak telah mengubah kehidupan warga secara drastis. Dengan perahu karet sebagai solusi sementara, warga harus menghadapi tantangan dan risiko setiap hari. Semoga pemerintah segera mengambil tindakan nyata untuk memperbaiki jembatan dan memberikan kepastian bagi kehidupan warga.








