Gubernur DKI Jakarta Pastikan Anggaran OMC Tidak Dibatasi
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak memberlakukan pembatasan anggaran dalam pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Hal ini dilakukan sebagai respons terhadap potensi cuaca ekstrem dan banjir yang kembali terjadi di Jakarta pada Minggu, 18 Januari.
Pramono menjelaskan bahwa anggaran OMC telah disiapkan untuk mendukung kebutuhan operasional selama satu bulan penuh. Selain itu, Pemprov DKI juga melakukan penyesuaian melalui pergeseran Belanja Tidak Terduga (BTT) agar pelaksanaan OMC dapat berjalan secara maksimal.
Menurutnya, penggunaan BTT dimungkinkan karena pos anggaran tersebut sudah tercantum dalam APBD DKI Jakarta. Dengan ketersediaan dana yang dinilai cukup, pelaksanaan OMC tidak lagi dibatasi jumlah penerbangannya seperti sebelumnya.
“Untuk anggaran OMC, kami sudah menganggarkan untuk satu bulan ini. Bahkan terus terang ada Pegeseran BTT. Sudah bisa (menggeser anggaran dari BTT). Sudah, karena sudah masuk APBD. Cukup pokoknya. Karena anggarannya tidak seperti dulu. Dulu anggarannya hanya untuk modifikasi cuaca paling 3-5 kali. Ini mau sebulan pun akan diambil,” ujar Pramono, Selasa (20/1/2026).
Curah Hujan Ekstrem Picu Banjir di Jakarta
Selain itu, Pramono mengungkapkan bahwa banjir yang kembali melanda puluhan RT di Jakarta pada Minggu, 18 Januari lalu, dipicu oleh curah hujan yang sangat ekstrem. Padahal, Pemprov DKI telah menjalankan OMC sejak 13 Januari.
Orang nomor satu di Jakarta itu menyebut curah hujan yang tercatat di Jakarta Utara mencapai angka yang belum pernah ia temui selama menjabat sebagai gubernur selama setahun terakhir. Adapun dari delapan titik pengukur hujan di wilayah tersebut, rata-rata curah hujan berada di atas 200 milimeter.
“Di Jakarta Utara ada delapan titik untuk menghitung curah hujan itu rata-rata 260. Ada bahkan yang sampai dengan 280 dan itu tertinggi yang pernah saya ketahui selama saya menjabat sebagai Gubernur Jakarta,” jelas dia.
Pelaksanaan OMC Berbasis Kajian Ilmiah
Pada Minggu kemarin, OMC dilakukan hingga tiga kali penerbangan. Keputusan itu diambil setelah melihat kondisi atmosfer Jakarta yang sudah sangat pekat sejak siang hari. Pramono menilai, pelaksanaan modifikasi cuaca saat ini telah berbasis kajian ilmiah.
Ia menyebut hasilnya terlihat dari kondisi cuaca Jakarta yang kembali cerah setelah operasi dilakukan. “Kemarin hari minggu sampai tiga kali penerbangan. Kebetulan saya perintahkan secara langsung, karena Jakarta sudah pekat sekali ketika sore dari jam tiga, jam dua itu kan sudah pekat sekali,” jelas Pramono.
Respons terhadap Potensi Hujan Lebat
Pramono menjelaskan, OMC dilakukan pada akhir pekan kemarin sebagai respons terhadap kondisi atmosfer yang dinilai berpotensi memicu hujan lebat. Meski demikian, konsentrasi hujan saat itu justru terkumpul di wilayah Jakarta Utara.
“Kalau tidak dilakukan, (dampak banjir) lebih dari itu. Cuma memang beginilah, karena dilakukan dan biasanya kalau melakukan kan konsentrasinya dari atas ke bawah. Nah kemarin itu curah hujannya semuanya menumpuk di Jakarta Utara. 80 persen hujan itu Jakarta Utara,” tutupnya.







