Totalitas Ibadah

by -2 views
Totalitas Ibadah

Syahdan ada seorang raja besar di Balkh, Persia bernama Ibrahim bin Adham (699 M., versi lain 718 M., – 778 M.) yang hidup dengan penuh kemewahaan dan punya kebiasaan memburu.

Suatu hari ketika ia sedang berburu di hutan ditemani keluarga dan para prajuritnya ia mendengar suara ilahi (hatif), “Wahai hamba apakah untuk ini Tuhan menciptakanmu.” Setelah mendengar suara itu spontan Ibrahim bin Adham tersadarkan akan panggilan spiritualnya dan meninggalkan takhta kerajaannya.

Selanjutnya Ibrahim bin Adham hidup sederhana. Mulai menjadi tukang kuli di pasar hingga menjual kayu bakar. Berpakaian kasar menggembala dan mengembara ke Mesir, Bashrah, Makah dan Madinah untuk belajar suluk dan memulai kehidupan zuhudnya hingga menjadi sorang ulama sufi.

Setidaknya ada dua pelajaran dalam pengabdian seorang hamba yang dapat kita petik dari kisah tersebut. Pertama, perjalanan spiritual akan mampu merubah kehidupan dari hamba hawa nafsu duniawi menjadi hamba Allah. Namun, butuh totalitas pengorbaan yang tidak mudah agar merasa lebih bermartabat dalam pelayanannya terhadap Tuhan (hamba Allah) Yang Maha Pencipta dan Maha Abadi daripada hidup penuh glamour di balik kemegahan istana kerajaan yang bersifat sementara.

Baca Juga:  Warga Pangkalpinang Berbahagia Dapat Beli Beras Murah

Kedua, bahwa tidak ada yag lebih besar keagungan di alam semesta hanya Allah, tidak ada yang lebih besar memberikan rahmat dan karunia hanya Allah, Raja di atas raja (Yang Maha Merajai diatas segalanya).

Sejatinya memang seperti itulah, seperti digambarkan dalam gerakan shalat ketika seorang sudah mengangkat tangan mengucapkan takbiratul ihram “Allahu Akbar” (Allah Maha Besar) pertanda dimulainya shalat maka ia tidak diperkenankan melakukan gerakan dan ucapan lain kecuali yang sudah ditentukan.

إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam (Q.S al-An’am 162).

Inilah pernyataan pengabdian total kepada Allah SWT, menegaskan bahwa seluruh aktivitas hidup, dari ibadah formal hingga aktivitas sehari-hari, bahkan kematian, semuanya hanya untuk-Nya.

Tentu pengalaman spiritual manusia tidak serta merta harus sama meskipun sama-sama merasa sangat membutuhkan kehadiran Tuhan dalam dirinya. Hal itu bisa saja karena tingkat kesadaran, pengetahuan dan lainnya. Karena pada kenyataanya, manusia meski membutuhkan Tuhan, tapi tidak sebanding lurus dengan realitas pengamalan ibadahnya sehingga karunia dan nikmat Allah Yang Maha Besar terlupakan begitu saja.

Baca Juga:  Jalan Cijulang Rusak Parah-Perwakilan Warga Datangi Pemda dan DPRD

Misalnya, sebagian kita bekerja pagi hingga sore bahkan sampai larut malam, setiap hari tidak pernah lupa menikmati makan dan minum, tidur dan lain sebagainya, tapi untuk sekedar menunaikan tugas pokok dari Yang Maha Pencipta terkadang kita lalai di dalam pelaksanaan shalat.

Begitulah manusia sebagai seorang “insan” tentu harus selalu memperbaiki dirinya agar lebih berkualitas dalam menghambakan diri kepada Tuhannya.