JABARMEDIA – Pernyataan bahwa “Agama itu mencerdaskan, bukan membodoh-bodohi. Manusialah yang membodohi orang,” adalah sebuah refleksi mendalam tentang esensi sejati ajaran spiritual. Seringkali, pandangan keliru muncul ketika praktik keagamaan disalahgunakan oleh individu. Padahal, inti dari setiap agama mencerdaskan adalah mengajak manusia untuk berpikir, merenung, dan mengembangkan potensi akalnya. Ini bukan sekadar dogma, melainkan panggilan untuk memahami dunia dan diri sendiri dengan lebih baik. Memahami perbedaan antara ajaran murni dan interpretasi manusiawi sangat krusial untuk melihat peran akal dalam agama yang sebenarnya.
Dalam konteks Islam, wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah “Iqra” atau “Bacalah”, sebagaimana tercantum dalam QS. Al-‘Alaq: 1. Ini bukan perintah untuk mengikuti secara membabi buta atau taklid buta. Sebaliknya, ini adalah seruan fundamental untuk literasi, untuk membaca, berpikir, dan merenung. Perintah ini menggarisbawahi pentingnya ilmu pengetahuan dan pembelajaran sebagai fondasi. Ia menuntut umatnya untuk aktif mencari kebenaran, bukan hanya menerima informasi tanpa verifikasi. Konsep “Iqra” adalah pintu gerbang menuju pencerahan intelektual dan spiritual.
Berfikir dan Merenung
Al-Qur’an sendiri berulang kali mengajukan pertanyaan retoris seperti “Afala ta’qilun?” (Tidakkah kalian berpikir?) dan “Afala tatafakkarun?” (Tidakkah kalian merenung?). Pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar retorika belaka. Ini adalah undangan langsung dari Tuhan kepada umat manusia untuk menggunakan anugerah akal dan pikiran mereka. Tujuannya adalah untuk memahami tanda-tanda kebesaran-Nya di alam semesta dan dalam diri sendiri. Ini menunjukkan bahwa agama itu membangunkan akal, mendorong manusia untuk menjadi makhluk yang kritis dan analitis. Ini adalah bukti nyata bahwa peran akal dalam agama sangat sentral.
Artinya, agama itu membangunkan akal. Agama menyalakan nurani dan mendidik manusia menjadi pribadi yang adil, jujur, serta bertanggung jawab. Ketika seseorang memahami ajaran agamanya dengan benar, ia akan terdorong untuk berbuat kebaikan, menegakkan kebenaran, dan menjauhi kemungkaran. Nilai-nilai universal seperti kasih sayang, empati, dan integritas menjadi pilar utama dalam kehidupan sehari-hari. Ini adalah manifestasi dari agama sebagai pencerah yang membimbing umat manusia menuju kemuliaan akhlak. Agama yang sejati mendorong kemajuan, bukan kemunduran.
Namun, jika ada praktik di mana agama dijadikan alat menakut-nakuti, dipakai untuk kepentingan pribadi, atau bahkan membenarkan kebodohan, maka masalahnya bukan pada agamanya. Masalahnya terletak pada manusianya. Individu atau kelompok yang menyalahgunakan ajaran suci untuk tujuan egois atau politik telah mendistorsi makna aslinya. Ini adalah bentuk manipulasi yang merugikan citra agama mencerdaskan dan menyesatkan banyak orang. Penting untuk membedakan antara ajaran ilahi yang murni dan interpretasi manusia yang keliru atau disengaja.
Sejarah peradaban Islam adalah bukti nyata bagaimana agama dapat menjadi pendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan inovasi. Pada masa keemasannya, peradaban Islam justru melahirkan banyak ilmuwan Islam terkemuka yang kontribusinya masih terasa hingga kini. Mereka tidak melihat agama sebagai penghalang untuk mencari ilmu, melainkan sebagai bahan bakar intelektual yang tak terbatas. Dorongan untuk membaca, berpikir, dan merenung yang terkandung dalam ajaran Islam telah menginspirasi generasi ilmuwan untuk mengeksplorasi berbagai bidang keilmuan. Ini menunjukkan sinergi antara iman dan akal.
Intelektual Muslim dan Pencerahan Dunia
Salah satu tokoh paling berpengaruh adalah Ibnu Sina, dikenal di Barat sebagai Avicenna. Ia adalah seorang polimatik Persia yang memberikan kontribusi besar di bidang kedokteran, filsafat, dan astronomi. Karyanya, “Al-Qanun fi at-Tibb” (The Canon of Medicine), menjadi buku teks standar di Eropa selama berabad-abad. Ibnu Sina menunjukkan bagaimana iman tidak menghalangi penelitian ilmiah, melainkan mendorongnya. Ia adalah teladan sempurna dari seorang Muslim yang menggabungkan kecerdasan spiritual dan intelektual, menegaskan bahwa Islam dan ilmu pengetahuan berjalan beriringan.
Kemudian ada Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi, seorang matematikawan, astronom, dan geograf Persia. Karyanya yang berjudul “Kitab al-Jabr wa al-Muqabalah” adalah dasar dari aljabar modern. Istilah “aljabar” sendiri berasal dari judul bukunya. Algoritma, sebuah konsep fundamental dalam komputasi, juga dinamai dari namanya yang Latinized. Kontribusinya dalam matematika dan astronomi merevolusi pemikiran ilmiah. Ini adalah bukti bahwa sejarah ilmuwan Islam adalah sejarah inovasi dan penemuan yang tak ternilai harganya bagi peradaban manusia.
Tidak kalah penting adalah Ibnu Haytham, yang dikenal di Barat sebagai Alhazen. Ia adalah seorang ilmuwan Arab yang dikenal sebagai “bapak optik modern”. Karyanya, “Kitab al-Manazir” (Book of Optics), merevolusi pemahaman kita tentang cahaya dan penglihatan. Ibnu Haytham memperkenalkan metode ilmiah yang ketat, menekankan eksperimen dan observasi sebagai dasar pengetahuan. Pendekatannya yang empiris menjadi fondasi bagi ilmu pengetahuan modern. Ini semakin menguatkan argumen bahwa agama mencerdaskan dan mendorong eksplorasi ilmiah.
Selain ketiga tokoh tersebut, masih banyak lagi ilmuwan Islam lainnya seperti Jabir ibn Hayyan (kimia), Al-Biruni (astronomi, geografi), Ar-Razi (kedokteran, kimia), dan Ibnu Khaldun (sosiologi, sejarah). Mereka semua adalah produk dari sebuah peradaban yang menghargai ilmu pengetahuan sebagai bagian integral dari iman. Mereka membuktikan bahwa ajaran agama, jika dipahami dengan benar, adalah motivator kuat untuk pencarian kebenaran dan kemajuan. Kisah-kisah ini adalah pengingat penting akan warisan intelektual Islam.
Sinergi Iman dan Akal: Agama sebagai Cahaya
Filosofi bahwa agama itu cahaya adalah metafora yang sangat kuat. Cahaya berfungsi untuk menerangi, menunjukkan jalan, dan menghilangkan kegelapan. Jika ada kegelapan atau kebodohan yang muncul atas nama agama, itu bukan karena cahayanya mati. Sebaliknya, itu karena ada yang menutup matanya atau sengaja membelokkan sinarnya. Agama sejati selalu mengajak kepada pencerahan, kebijaksanaan, dan pemahaman yang lebih dalam tentang eksistensi. Ia adalah penuntun moral dan intelektual yang tak ternilai harganya bagi umat manusia di setiap zaman.
Ketika seseorang menutup mata terhadap ajaran esensial agama, mereka cenderung terjebak dalam dogmatisme sempit, fanatisme, dan penolakan terhadap ilmu pengetahuan. Ini adalah manifestasi dari kegagalan individu dalam memahami peran akal dalam agama. Ajaran agama yang benar mendorong keterbukaan pikiran, dialog konstruktif, dan pencarian kebenaran yang tak henti. Ini adalah panggilan untuk menggunakan akal sehat dan nurani. Dengan demikian, kita dapat menghindari jebakan misinterpretasi dan penyalahgunaan agama.
Di era modern ini, pesan bahwa agama mencerdaskan menjadi semakin relevan. Dengan pesatnya perkembangan teknologi dan informasi, tantangan untuk membedakan antara kebenaran dan kepalsuan semakin besar. Agama, dengan prinsip-prinsipnya yang abadi, dapat menjadi jangkar moral dan intelektual. Ia mendorong kita untuk tidak mudah percaya pada hoaks atau informasi yang menyesatkan. Sebaliknya, ia mendorong kita untuk melakukan verifikasi, berpikir kritis, dan mencari pengetahuan yang valid. Ini adalah fondasi untuk masyarakat yang tercerahkan.
Lawan Kebodohan dan Bangun Masa Depan
Melawan kebodohan atas nama agama adalah tanggung jawab setiap pemeluk agama. Ini berarti aktif dalam pendidikan, mempromosikan literasi, dan menolak segala bentuk ekstremisme atau taklid buta. Dengan memahami ajaran agama secara komprehensif, kita dapat menunjukkan kepada dunia bahwa agama adalah kekuatan positif yang mendorong kemajuan peradaban. Ini adalah upaya kolektif untuk memastikan bahwa cahaya agama tidak pernah tertutup oleh kepentingan sempit atau interpretasi yang salah. Agama sebagai pencerah harus terus dijaga kemurniannya.
Membangun masa depan yang lebih baik berarti mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dengan kemajuan ilmiah dan teknologi. Islam dan ilmu pengetahuan adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Dengan semangat “Iqra” dan dorongan untuk berpikir, kita dapat menciptakan masyarakat yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kaya secara moral dan spiritual. Ini adalah visi tentang bagaimana agama dapat terus menjadi sumber inspirasi untuk kemajuan manusia. Ini adalah perjalanan menuju pencerahan yang berkelanjutan dan mendalam.
Pada akhirnya, esensi sejati agama adalah untuk memberdayakan manusia, membimbing mereka menuju kebenaran, keadilan, dan kebijaksanaan. Ini adalah seruan untuk menggunakan akal dan hati secara bersamaan. Jika ada kegelapan, itu bukan karena agama tidak lagi bercahaya, melainkan karena kita sendiri yang mungkin memilih untuk tidak melihat. Mari kita buka mata, berpikir, merenung, dan membiarkan cahaya agama mencerdaskan ini menerangi setiap aspek kehidupan kita. Dengan demikian, kita dapat mewujudkan potensi tertinggi kemanusiaan.
Sumber: dari beberapa referensi, termasuk medsos fb Ustadz Felix Siau







