Duka yang Mendalam atas Kematian NS, Bocah yang Ingin Menjadi Kyai
Duka mendalam menyelimuti Anwar, ayah dari NS, seorang bocah berusia 12 tahun asal Desa Bojongsari, Kabupaten Sukabumi, yang meninggal secara tragis. Di tengah proses hukum dan autopsi yang sedang berlangsung, Anwar tak kuasa menahan air mata saat mengungkap impian mulia sang anak yang kini terkubur selamanya.
Bukan ingin menjadi dokter atau polisi, NS memiliki cita-cita yang sangat religius. Ia ingin mendedikasikan hidupnya di jalan agama. Impian ini tampaknya telah menjadi motivasi utamanya dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Keinginan untuk Menjadi Pemuka Agama Sejak Dini
Menurut Anwar, keinginan putranya untuk menjadi pemuka agama sudah terlihat sejak dini. Untuk mengejar mimpinya tersebut, NS bahkan sudah mulai menimba ilmu di pesantren sejak setahun terakhir. “Beda dengan orang lain, dia ingin jadi kiai,” ujar Anwar sambil menahan rasa haru.
Kesungguhan NS terlihat dari kegigihannya menjalani kehidupan di pondok. “Sudah 1 tahun (mondok) sejak dia masuk SMP,” katanya. Anwar pun mengenang momen terakhir yang terus membekas di ingatannya. Saat itu, ia memberikan uang saku seadanya yang disambut dengan rasa syukur luar biasa oleh sang anak. “Itu yang membuat saya sakit, sampai kemarin saya pulang di Sukabumi saya kasih uang 50 ribu rupiah, alhamdulillah terus sama dia di kesiniin (jidat). Alhamdulillah, katanya buat nanti bekal di pesantren. Yang membuat saya sakit cita cita dia menjadi kiyai,” tuturnya.
Anwar sendiri telah melaporkan kejadian ini dan berharap keadilan ditegakkan seadil-adilnya jika memang terbukti ada unsur pidana. “Sudah (bikin laporan) cuma di Polsek Jampangkulon, laporan sementara,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa siapa pun yang bersalah harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum. “Harapan saya kalau memang ini terbukti biar jadi efek jera untuk seluruh umat, kita harus ingat negara kita ini negara hukum, apa pun perlakuan manusia di muka bumi ini tentunya itu harus bisa dipertanggungjawabkan, jadi jangan semena mena,” imbuhnya.
Hasil Autopsi: Luka Bakar dan Misteri Organ Dalam
Kasus kematian NS menjadi sorotan setelah muncul dugaan penganiayaan oleh ibu tirinya. Guna mengungkap penyebab pasti kematian yang dinilai tidak wajar, pihak kepolisian melakukan autopsi di RS Bhayangkara Setukpa Lemdiklat Polri.
Kepala RS Bhayangkara, Kombes Pol dr. Carles Siagian, mengungkapkan adanya sejumlah temuan luka fisik pada tubuh bocah malang tersebut. “Kami menemukan luka bakar di anggota gerak, mulai dari lengan, kaki kanan, hingga kaki kiri. Selain itu, ada luka di punggung serta area sensitif seperti bibir dan hidung,” jelasnya.
Selain luka baru, tim medis juga menemukan bekas luka lama di area wajah. Namun, kejutan muncul saat pemeriksaan organ dalam. Tim dokter menemukan adanya pembengkakan pada paru-paru korban yang belum diketahui penyebab pastinya. “Kami menemukan pembengkakan pada paru-paru korban. Namun, belum diketahui apakah ini akibat penyakit bawaan atau reaksi dari penyebab luar,” tambah dr. Carles.
Kini, sampel organ vital NS telah dikirim ke laboratorium di Jakarta untuk pemeriksaan histopatologi. Langkah ini diambil agar penyebab kematian bisa dipastikan secara akurat sebelum penyidik Polres Sukabumi mengambil tindakan lebih lanjut.






