Laporan dari Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) yang dirujuk oleh Carbon Brief menunjukkan bahwa emisi karbon dioksida (CO2) di Tiongkok mengalami penurunan sebesar 1 persen pada kuartal terakhir tahun 2025. Negara yang menjadi penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia ini telah mencapai titik balik dalam jejak karbon jauh lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya.
Data yang dirilis menunjukkan bahwa tren emisi karbon Tiongkok sudah stabil dan mulai menurun sejak Maret 2024. Pada tahun 2025, misalnya, emisi negara tersebut turun tipis sebesar 0,3 persen secara tahunan. Ini adalah pertama kalinya emisi Tiongkok turun dalam satu tahun penuh meskipun permintaan energi meningkat.
Menurut laporan Live Science pada 13 Februari 2026, faktor utama yang menyebabkan tren penurunan ini adalah ekspansi besar-besaran menuju penggunaan energi terbarukan. Tiongkok telah memasang panel surya dan turbin angin skala besar untuk memenuhi sebagian besar pertumbuhan konsumsi listrik nasional. Hal ini secara efektif mengurangi kebutuhan untuk membakar batubara guna memenuhi lonjakan beban listrik.
Selain pergeseran ke energi hijau, perlambatan ekonomi di sektor properti dan konstruksi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap penurunan emisi. Berkurangnya aktivitas pembangunan gedung bertingkat membuat permintaan semen dan baja berkurang—hal yang sama juga mengurangi polusi. Di sektor transportasi, peralihan konsumen ke kendaraan listrik juga mulai berdampak pada penurunan emisi dari penggunaan bahan bakar minyak.
Analis utama dari CREA, Lauri Myllyvirta, menekankan pentingnya perubahan pola ekspansi ke energi terbarukan. “Emisi CO2 turun dari tahun ke tahun di hampir semua sektor utama pada 2025. Satu-satunya pengecualian adalah industri kimia yang emisinya meningkat,” ujar Myllyvirta dalam laporannya.
Untuk mencapai kesepakatan Perjanjian Paris dalam konteks penurunan laju emisi karbon, Myllyvirta merekomendasikan Tiongkok terus berupaya mengurangi intensitas karbon sekitar 23 persen selama lima tahun ke depan. Target ini kemungkinan bisa tercapai jika negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia ini tetap konsisten dalam menurunkan emisi mereka.
Tiongkok juga sedang memperluas investasi ke energi bersih melalui proyek rekayasa ekologi, termasuk penanaman pohon di sekitar Gurun Taklamakan sebagai penyerap karbon. Emisi karbon dari Tiongkok tampak stagnan atau menurun selama 21 bulan, menunjukkan bahwa negara penghasil emisi terbesar ini mungkin bisa mencapai titik balik global lebih cepat dari perkiraan awal.
Beberapa faktor utama yang berkontribusi pada penurunan emisi karbon di Tiongkok antara lain:
-
Ekspansi energi terbarukan
Tiongkok telah memasang banyak panel surya dan turbin angin untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional. Hal ini mengurangi ketergantungan pada batubara. -
Perlambatan ekonomi sektor properti dan konstruksi
Penurunan aktivitas pembangunan gedung bertingkat mengurangi permintaan semen dan baja, sehingga mengurangi polusi. -
Peralihan ke kendaraan listrik
Konsumen beralih ke kendaraan listrik, yang berdampak pada penurunan emisi dari penggunaan bahan bakar minyak. -
Inisiatif ekologi
Proyek penanaman pohon di gurun dan upaya lainnya berkontribusi pada penyerapan karbon.
Dengan tren penurunan emisi yang konsisten, Tiongkok menunjukkan potensi besar untuk menjadi contoh dalam upaya global mengurangi emisi karbon.







