Mengenal Kue Moho, Kuliner Khas Solo yang Jadi Favorit Saat Imlek

by -4 views
Mengenal Kue Moho, Kuliner Khas Solo yang Jadi Favorit Saat Imlek

Sejarah dan Makna Kue Moho dalam Budaya Solo

Kue moho adalah salah satu kue tradisional yang memiliki makna mendalam dalam budaya Solo. Kue ini merupakan hasil akulturasi antara budaya Tionghoa dan Jawa, dengan asal-usul yang berasal dari kue Tionghoa bernama Fa Gao. Fa Gao sendiri melambangkan keberuntungan dan kemakmuran, sehingga menjadi bagian penting dalam perayaan Imlek dan ritual persembahan leluhur.

Ciri khas dari kue moho adalah tekstur yang padat dan manis, serta bagian atasnya yang merekah seperti bunga. Bagian ini melambangkan harapan agar kehidupan ikut berkembang. Selain itu, kue ini sering digunakan dalam sesajen dan perayaan Imlek, terutama di kalangan masyarakat Tionghoa di Solo.

Asal Usul dan Perkembangan Kue Moho

Dalam literatur Kompas.com edisi 31 Januari 2022 disebutkan bahwa Solo merupakan daerah asal kue moho. Di kalangan masyarakat Tionghoa, kudapan ini dikenal dengan sebutan Mandarin “hwat kwee”. Nama “moho” diyakini merupakan pelafalan lokal atau penyerapan fonetik dari “Fa Gao” ke dalam bahasa Jawa dan Madura.

Baca Juga:  Persib Menang 4-2 atas Persiwa

Asal-usul kue moho diyakini berasal dari kue tradisional Tionghoa bernama Fa Gao, yang dalam bahasa Hokkien dan Kanton berarti “kue yang mekar”. Dalam tradisi Tionghoa, Fa Gao menjadi bagian penting perayaan Imlek dan ritual persembahan leluhur karena melambangkan keberuntungan, rezeki yang berkembang, dan kemakmuran. Kata “Fa” berarti mekar atau berkembang, sedangkan “gao” berarti kue.

Seiring migrasi masyarakat Tionghoa ke Nusantara, terutama di wilayah pesisir seperti Surabaya, Semarang, dan Lasem, kue Fa Gao ikut masuk ke kehidupan masyarakat lokal. Dalam proses akulturasi, bahan baku, teknik pembuatan, hingga namanya mengalami penyesuaian. Dari sinilah lahir versi lokal yang kini dikenal sebagai kue moho.

Ciri Khas dan Penggunaan Kue Moho

Kue moho sekilas menyerupai bolu kukus, namun teksturnya lebih padat dengan rasa manis legit. Bagian atasnya yang merekah seperti bunga melambangkan keberuntungan dan rezeki yang terbuka luas. Meski termasuk makanan sehari-hari, kue ini memiliki tempat khusus dalam tradisi Imlek dan keagamaan umat Khonghucu.

Di berbagai klenteng di Solo, kue moho kerap menjadi pelengkap sesajen bersama kue mangkok dan buah-buahan. Kue ini juga populer sebagai jajanan pasar, dengan harga yang terjangkau dan mudah ditemukan.

Baca Juga:  Video - Aceh Kirim Surat ke PBB, Mendagri: Kami Pelajari Dulu

Proses Pembuatan dan Penjualan Kue Moho

Salah satu pembuat kue moho yang terkenal berada di Jalan Imam Bonjol, Kampung Baru, Solo. Penjual ini telah membuat kue moho sejak 1985, mewarisi resep turun-temurun dari orang tuanya yang dahulu berdagang di kawasan Sudiroprajan, wilayah yang dikenal sebagai permukiman etnis Tionghoa di Solo.

Proses pembuatan kue moho tergolong sederhana namun membutuhkan kesabaran. Adonan dasar dibuat dari tepung terigu dan tape, lalu didiamkan semalaman (sekitar 12 jam) agar mengembang alami. Keesokan harinya, adonan dicampur gula, meses, dan bahan lain sebelum dikukus selama sekitar 30 menit.

Setiap hari mereka menjual lebih dari 450 buah kue moho, dan jumlahnya meningkat drastis menjelang Imlek. Kue moho dijual dengan harga di bawah Rp5.000 per buah, menjadikannya camilan terjangkau yang sarat makna budaya.

Peran Kue Moho dalam Masyarakat

Kue moho tidak hanya menjadi camilan biasa, tetapi juga memiliki makna budaya yang mendalam. Ia menjadi simbol rezeki yang berkembang dan persatuan etnis. Di tengah gempuran kuliner modern, kue moho masih bertahan dan menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi masyarakat Solo.

Baca Juga:  Timnas U19 : Laporan Pertandingan: Indonesia U-19 1-1 Myanmar U-19

Dengan penjualan yang meningkat menjelang Imlek, kue moho tetap menjadi pilihan utama bagi masyarakat yang ingin merayakan tahun baru dengan nuansa budaya yang kental. Bahkan, kue ini sering dijadikan hadiah atau oleh-oleh untuk keluarga dan teman.