Pengembangan Teknologi Pengenalan Wajah oleh Meta
Meta Platforms kembali mempertimbangkan penggunaan teknologi pengenalan wajah melalui kacamata pintarnya, setelah sebelumnya menghentikan sistem serupa pada 2021. Pada masa itu, Facebook menghentikan fitur penandaan otomatis berbasis pengenalan wajah karena alasan privasi dan hukum. Kini, di bawah kepemimpinan Mark Zuckerberg, perusahaan tersebut sedang mengembangkan versi baru dari fitur tersebut dalam bentuk yang berbeda.
Dilaporkan oleh The New York Times, Meta sedang mengembangkan fitur internal bernama Name Tag untuk kacamata pintar yang diproduksi bersama EssilorLuxottica, pemilik merek Ray-Ban dan Oakley. Fitur ini akan memungkinkan pengguna mengenali identitas seseorang dan memperoleh informasi melalui asisten kecerdasan buatan (AI) Meta.
Lingkungan Politik yang Dinamis
Dalam memo internal divisi Reality Labs, manajemen Meta menilai bahwa waktu peluncuran fitur tersebut bertepatan dengan situasi politik Amerika Serikat yang sedang memanas. Dokumen tersebut menyebutkan bahwa “Kami akan meluncurkan produk ini dalam lingkungan politik yang dinamis, ketika banyak kelompok masyarakat sipil yang biasanya menyerang kami akan memusatkan sumber daya mereka pada isu lain.” Pernyataan ini merujuk pada perhitungan bahwa perhatian publik dan organisasi pengawas diperkirakan terpecah oleh dinamika politik nasional, sehingga tekanan terhadap peluncuran fitur pengenalan wajah dinilai tidak sebesar pada periode sebelumnya.
Risiko Keselamatan dan Privasi
Meskipun demikian, dokumen internal yang sama mengakui adanya “risiko keselamatan dan privasi.” Meta sempat mempertimbangkan peluncuran terbatas bagi peserta konferensi tunanetra, meski rencana itu belum terealisasi. Dalam pernyataannya, Meta menegaskan, “Kami membangun produk yang membantu jutaan orang terhubung dan memberdayakan kehidupan mereka. Kami masih mempertimbangkan berbagai opsi dan akan mengambil pendekatan yang hati-hati sebelum meluncurkannya.”
Kekecewaan dari Pegiat Kebebasan Sipil
Kekecewaan datang dari pegiat kebebasan sipil. Nathan Freed Wessler dari American Civil Liberties Union mengatakan, “Teknologi pengenalan wajah di jalan-jalan Amerika menimbulkan ancaman serius terhadap anonimitas praktis yang kita andalkan. Teknologi ini sangat rentan disalahgunakan.”
Batasan Fungsi Fitur
Meta menyatakan bahwa fitur tersebut tidak akan berfungsi sebagai alat pencarian identitas universal. Opsi yang dipertimbangkan antara lain hanya mengenali orang yang terhubung dengan pengguna di platform Meta atau yang memiliki akun publik seperti Instagram. Perusahaan juga mempertahankan lampu LED kecil pada bingkai kacamata sebagai penanda saat perangkat merekam.
Pengembangan Versi Lanjutan
Selain itu, Meta tengah mengembangkan versi lanjutan dengan kode internal super sensing, yang memungkinkan kamera dan sensor aktif lebih lama untuk membantu pengguna, misalnya mengingatkan tugas saat bertemu rekan kerja. Dalam rekaman rapat internal, Andie Millan dari divisi Reality Labs menyebut perubahan proses tinjauan risiko privasi dapat “mendorong batas” kesepakatan dengan Federal Trade Commission, seraya menambahkan, “Mark ingin sedikit mendorong batas itu.”
Rekam Jejak Meta dalam Isu Privasi
Rekam jejak Meta dalam isu privasi sebelumnya juga menjadi sorotan. Pada 2019, perusahaan membayar denda USD 5 miliar kepada FTC—sekitar Rp 84,15 triliun dengan kurs Rp 16.830 per dolar AS—atas pelanggaran privasi pengguna. Meta juga menyelesaikan gugatan di Illinois dan Texas senilai sekitar USD 2 miliar terkait pengumpulan data wajah tanpa persetujuan.
Aspek Aksesibilitas
Aspek aksesibilitas turut dikedepankan. Mike Buckley, CEO Be My Eyes, mengatakan dia telah berdiskusi “selama setahun” dengan Meta mengenai kacamata pengenal wajah bagi penyandang gangguan penglihatan. “Ini sangat penting dan kuat bagi kelompok yang membutuhkannya,” ujarnya. Mark Riccobono dari National Federation of the Blind juga menyatakan dukungan terhadap potensi pemanfaatannya.
Peluang Komersial
Dengan penjualan lebih dari tujuh juta unit tahun lalu, Meta melihat peluang komersial yang signifikan. Namun, rencana menghadirkan kembali pengenalan wajah di perangkat sehari-hari mempertegas dilema lama industri teknologi: antara inovasi yang semakin canggih dan perlindungan hak privasi publik.







