PDAM Tangerang: Air Cisadane Bebas Pestisida

by -3 views
PDAM Tangerang: Air Cisadane Bebas Pestisida



Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Benteng, yang berada di Kota Tangerang, menyatakan bahwa kondisi air Sungai Cisadane yang menjadi sumber air baku bagi perusahaan tersebut telah kembali layak digunakan setelah terjadi pencemaran pestisida. Penghentian proses pengolahan air hanya terjadi selama sekitar delapan jam.

Sebanyak 20 ton pestisida jenis cypermetrin dan profenofos mengalir ke aliran Sungai Cisadane dari Kali Jaletreng setelah terjadi kebakaran gudang di Kawasan Industri Taman Tekno, Kota Tangerang Selatan, pada Senin 9 Februari 2026. Pada hari tumpahan terjadi, permukaan sungai tampak berselaput minyak hingga warnanya memutih.

Sehari setelahnya, ikan-ikan mabok dan mengambang di permukaan Sungai Cisadane. Menurut keterangan dari Kementerian Lingkungan Hidup, pencemaran pestisida telah menjangkau jarak sedikitnya 22,5 kilometer, mencakup wilayah Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang, dan Kabupaten Tangerang.

Meskipun demikian, juru bicara PDAM Tirta Benteng, Dian Arini Maulina, memastikan bahwa air yang diolah dari Sungai Cisadane dalam kondisi aman untuk dipakai sebagai air bersih. Pemeriksaan dilakukan oleh laboratorium internal maupun eksternal. “Telah memenuhi syarat kesehatan sesuai dengan aturan yang berlaku,” ujar Arini pada Senin 16 Februari 2026.

Baca Juga:  Air Rebusan Apa yang Bisa Mengurangi Gula Darah? Cek 8 Pilihan Ini!

Arini menjelaskan bahwa pada hari setelah kebakaran, Perumda Tirta Benteng menghentikan operasi Instalasi Pengolahan Air (IPA) pada pukul 22 WIB. Perusahaan melakukan pemantauan kondisi air baku dan pemeriksaan kualitas air secara periodik. Pada 10 Februari 2026, pukul 06, setelah air baku dalam kondisi normal dan tidak ada bau lagi, pemeriksaan kembali dilakukan dengan hasil dinyatakan tidak ditemukan parameter yang terindikasi dari pencemaran. “Perumda TB mengoperasikan kembali IPA dan sebelum mendistribusikan air kepada pelanggan dilakukan flushing di instalasi dan pemeriksaan air bersih secara fisika dan kimia,” kata Arini.

Memang terdapat indikasi pencemaran di sekitar intake PDAM di atas Bendung 10 Neglasari pada hari kebakaran terjadi. Namun, Arini menambahkan, tidak ditemukan ikan mati di lokasi. “Ikan mati berasal dari hulu sungai yang hanyut terbawa arus Sungai Cisadane,” katanya.

Dihubungi terpisah, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang Hendry Pratama Syahputra mengatakan pihaknya tengah menunggu hasil laboratorium uji fisika-kimia terhadap sampel air serta pengaruh pestisida terlarut dalam air Cisadane. “Hasilnya empat hingga 15 hari ke depan dari uji sampel,” kata Hendri.

Baca Juga:  Buang Rokok Elektrik Anda Karena 10 Kali Lebih Berbahaya dari Rokok Biasa

Sedangkan kelompok relawan yang tergabung dalam Banksasuci Foundation (Bank Sampah Sungai Cisadane) ikut tergerak dengan menuang cairan eco enzim ke aliran Cisadane pada Ahad lalu. Harapannya, bisa membantu menetralkan pengaruh pencemaran pestisida. “Kami tebar cairan eco enzim yang telah kami fermentasikan selama setahun terakhir,” kata Ketua Banksasuci Ade Yunus pada Senin, 16 Februari 2026.

Cairan berwarna coklat beraroma asam manis segar itu difungsikan sebagai pembersih alami pestisida, dan penjernih air. “Ini bagian ikhtiar kami menetralisir Sungai Cisadane pasca tercemar pestisida dampak kebakaran,” kata Yunus.