Puasa di Pesawat: Kapan Waktu Berbuka yang Sah Saat Terbang? Ini Jawabannya

by -1 views
Puasa di Pesawat: Kapan Waktu Berbuka yang Sah Saat Terbang? Ini Jawabannya

Kewajiban Berbuka Puasa Saat Berada di Pesawat

Berbuka puasa di pesawat selama bulan Ramadan bisa menjadi tantangan tersendiri karena perbedaan zona waktu dan arah terbang yang memengaruhi waktu matahari terbenam. Dalam fikih Islam, waktu berbuka mengikuti posisi matahari yang terlihat dari tempat kita berada, bukan berdasarkan waktu negara asal atau tujuan.

Jika perjalanan terasa berat, Islam memberikan keringanan (rukhsah) untuk membatalkan puasa dan menggantinya di hari lain demi menjaga kesehatan dan keselamatan.

Hukum Dasar: Mengikuti Lokasi Keberadaan

Dalam kaidah fikih Islam, waktu ibadah seperti shalat dan puasa mengikuti posisi di mana seseorang berada saat itu. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 187:

“…Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.”

Bagi penumpang pesawat, “datangnya malam” ditandai dengan terbenamnya matahari secara visual dari posisi pesawat tersebut, bukan mengikuti waktu di darat yang sedang dilintasi, bukan mengikuti waktu negara asal, dan bukan pula mengikuti waktu negara tujuan.

Baca Juga:  Sidak Pasar Tradisional, Depok Aman dari Beras Plastik

Kondisi Ekstrem: Terbang Berlawanan Arah Matahari

Jika Anda terbang dari Timur ke Barat (misalnya dari Jakarta ke Eropa atau Amerika), Anda bergerak berlawanan dengan arah rotasi bumi atau searah dengan gerakan matahari. Hal ini menyebabkan matahari tampak seolah-olah “terdiam” atau terbenam jauh lebih lambat.

Lantas, bagaimana jika puasa menjadi sangat panjang (misal lebih dari 20 jam)? Mayoritas ulama (termasuk Fatwa Al-Lajnah ad-Daimah) berpendapat bahwa selama matahari masih terlihat di ufuk, maka waktu berbuka belum tiba. Penumpang harus menunggu hingga piringan matahari benar-benar hilang dari pandangan.

Keringanan (Rukhsah) Musafir

Jika durasi puasa menjadi sangat ekstrem hingga dikhawatirkan mengganggu kesehatan atau keselamatan jiwa, Islam memberikan kemudahan. Anda diperbolehkan membatalkan puasa (berbuka) dan menggantinya (qadha) di hari lain setelah Ramadan. Hal ini didasarkan pada status Anda sebagai musafir.

Tips Praktis Berbuka di Pesawat

Agar ibadah tetap sah dan nyaman, berikut panduan bagi para musafir udara:

  • Lihat Jendela secara Langsung: Jangan hanya mengandalkan jam tangan atau jadwal shalat di sistem hiburan pesawat (IFE). Cara paling akurat adalah melihat langsung ke luar jendela hingga suasana benar-benar gelap dan matahari tak lagi tampak.
  • Gunakan Aplikasi Navigasi Shalat: Beberapa aplikasi seperti Muslim Pro atau fitur khusus di maskapai tertentu (seperti Emirates atau Qatar Airways) menyediakan alat hitung waktu shalat berdasarkan koordinat GPS pesawat.
  • Koordinasi dengan Pramugari: Anda bisa bertanya kepada kru kabin kapan perkiraan waktu matahari terbenam (sunset) di rute tersebut. Biasanya kapten pilot akan memberikan pengumuman jika waktu berbuka telah tiba.
  • Siapkan Takjil Ringan: Selalu bawa kurma atau air mineral di tas kecil (tas kabin) agar Anda bisa langsung membatalkan puasa saat waktunya tiba tanpa harus menunggu jadwal makan dari kru kabin.
Baca Juga:  Kapolres Bekasi Temui Ratusan Pendemo KRL Ekonomi

Kesimpulan

Puasa di pesawat adalah tentang ketaatan dan kesabaran. Jika fisik kuat, tunggulah hingga matahari benar-benar terbenam dari pandangan mata di jendela pesawat. Namun, jika perjalanan dirasa terlalu berat karena perbedaan waktu yang ekstrem, ambillah rukhsah (keringanan) dari Allah untuk berbuka dan menggantinya di lain waktu.