Kritik terhadap Penanganan Pungli di Wisata Garut Selatan
Mantan anggota DPRD Garut dari Fraksi PPP, Dedi Kurniawan, menyampaikan pandangan penting mengenai pungutan liar (pungli) yang sering terjadi di tempat wisata Pantai Selatan Garut. Menurutnya, kasus ini bukan hanya sekadar masalah kewenangan antara Bupati dan Wakil Bupati, melainkan perlu penanganan yang lebih sistematis dan kolaboratif.
Ia menyoroti bahwa kejadian pungli di pantai Santolo dan Sayangheulang sudah berulang sejak beberapa tahun lalu. Hal ini menunjukkan adanya ketidakmampuan dalam melakukan mitigasi dini serta pengawasan langsung di lapangan. “Ini sudah terjadi dari tahun ke tahun. Artinya saat Bupati Garut sebelumnya juga sudah terjadi,” ujarnya.
Menurut Dedi, penting untuk tidak menjadikan isu pungli sebagai ajang mencari kambing hitam atau menyalahkan Bupati. Yang lebih penting adalah bagaimana proses penegakan hukum dapat dilakukan secara efektif dan bagaimana manajemen pengelolaan pariwisata ke depan bisa diperbaiki. “Kita itu gak butuh bupati maupun wakil bupati yang single fither, tapi tugas pimpinan daerah itu melakukan kolaborasi sekaligus kolaborasi multi pihak,” katanya.
Ia mencontohkan bagaimana peran berbagai elemen seperti Karangtaruna, kepala desa, UPT Pariwisata, camat, kapolsek, dinas pariwisata, dan kapolres harus saling bekerja sama. “Jika ada yang kurang di sini suport di sini, edukasi disini, jadi ingat bukan main eksekusi sendiri, tunjuk-tunjuk sendiri, marah marah di medsos, ini pemerintahan sekelas RT pun ada tupoksinya,” tambahnya.
Dedi menekankan bahwa tugas seorang pemimpin bukanlah hanya mengeksekusi sendiri, tetapi memberdayakan elemen-elemen yang sesuai dengan tupoksinya masing-masing. Ia menilai bahwa pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu mendengar berbagai pihak, berkoordinasi, dan membuat keputusan yang tepat. “Paling gampang jadi pemimpin, ada masalah dengar sana, dengar sini, dengar ahli, lalu putuskan, yang sulit ini adalah sok berkuasa,” ujarnya.
Perlu Perbaikan Infrastruktur dan Manajemen Wisata
Menurut Dedi, wisata Garut Selatan membutuhkan perbaikan infrastruktur penunjang seperti fasilitas sosial dan fasilitas umum. Selain itu, karakter masyarakat wisata juga perlu diperhatikan agar tidak terjadi konflik sosial yang merugikan semua pihak.
Ia menekankan bahwa potensi wisata alam adalah aset yang sangat bernilai. “Potensi wisata alam adalah satu-satunya aset wisata yang tidak ternilai, selama ada kehidupan wisata akan rame, untuk itu harus disyukuri, dirawat, jaga, dan pelihara potensi alam yang Allah berikan,” ujarnya.
Wisata bukan hanya menjadi tempat untuk kepuasan pribadi, tetapi juga menjadi sumber pendapatan bagi banyak kalangan. “Wisata bisa menjadi sumber pendapatan bagi PO Wisata, Restoran, Jasa Wisata, kerajinan, kuliner, oleh-oleh, dan lainnya,” tambahnya.
Kesimpulan: Merawat Wisata Sebagai Berkah
Dedi berharap masyarakat dan para pemangku kepentingan bisa bersama-sama merawat tempat wisata, tidak hanya di pantai, tetapi juga di mana pun berada. “Marilah kita rawat tempat wisata dimanapun berada agar menjadi berkah untuk kita semua,” tutupnya.







