Bencana Longsor di TPST Bantargebang, Empat Orang Tewas
Pada hari Minggu (8/3/2026) sekitar pukul 14.30 WIB, terjadi bencana longsor di zona 4 Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat. Kejadian ini terjadi saat puluhan truk sampah sedang antre untuk membuang muatan mereka. Akibatnya, beberapa kendaraan dan sebuah warung tertimbun oleh gunungan sampah yang tiba-tiba ambruk.
Kejadian ini menewaskan empat orang, termasuk seorang sopir truk dan pemilik warung. Menurut Kapolres Metro Bekasi Kota, Kombes Kusumo Wahyu Bintoro, korban meninggal ditemukan dalam posisi tertimbun dekat kendaraannya. Jenazah keempat korban telah dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bekasi untuk proses identifikasi lebih lanjut.
TPST Bantargebang merupakan tempat pengolahan sampah terbesar di Indonesia dengan luas sekitar 110,3 hektare. Fasilitas ini menerima sampah dari DKI Jakarta dengan volume rata-rata 7.500–8.000 ton per hari. Namun, sistem pengelolaan sampah yang masih bergantung pada landfill menjadi sorotan setelah kejadian ini.
Korban dan Proses Evakuasi
Menurut informasi yang diperoleh, tiga korban meninggal telah teridentifikasi. Mereka adalah Enda Widayanti (25), Sumine (60), dan Dedi Sutrisno. Enda dan Sumine merupakan pemilik warung, sementara Dedi adalah sopir truk. Pihak SAR Jakarta masih melakukan pendataan untuk mengungkap jumlah korban pasti akibat longsor.
Anggota rescue Damkar Kota Bekasi, Eko Uban, menjelaskan bahwa longsoran sampah terjadi secara tiba-tiba. Saat truk sampah sedang antre, tumpukan sampah longsor dan menimpa para pengemudi serta pemilik warung. Laporan sementara menyebutkan bahwa ada sekitar 10 orang yang tertimbun, empat di antaranya ditemukan meninggal.
Proses pencarian dan evakuasi korban masih berlangsung. Alat berat digunakan untuk membantu proses evakuasi, meskipun penyebab longsor belum dapat dipastikan.
Masalah Pengelolaan Sampah Nasional
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Kiswatiningsih, mengatakan bahwa penyebab longsor masih dalam penanganan dan belum bisa diungkapkan secara detail. Ia menegaskan bahwa pihaknya sedang fokus pada penanganan darurat.
Bencana ini menjadi peringatan akan risiko besar dari penumpukan jutaan ton limbah perkotaan. Sejak lama, sistem pengelolaan sampah nasional masih bergantung pada landfill, yang tidak efisien dan rentan terhadap bencana seperti ini.
Peran Masyarakat dan Pemulung
Selain para sopir truk dan pemilik warung, pemulung juga menjadi korban dalam kejadian ini. Banyak dari mereka tinggal di sekitar TPST Bantargebang dan sering kali terlibat langsung dalam proses pengumpulan dan pengolahan sampah.
Kondisi ini menunjukkan betapa pentingnya adanya solusi jangka panjang untuk pengelolaan sampah. Tidak hanya dari sisi teknologi dan infrastruktur, tetapi juga dari sisi kesadaran masyarakat dan perlindungan terhadap mereka yang tinggal di sekitar area pembuangan sampah.
Kesimpulan
Longsor di TPST Bantargebang menjadi peristiwa yang sangat mengejutkan dan mengingatkan kita akan pentingnya pengelolaan sampah yang lebih baik. Selain itu, kejadian ini juga menunjukkan betapa rentannya masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi pembuangan sampah. Dengan begitu, diperlukan upaya serius dari pemerintah dan masyarakat untuk mencari solusi yang lebih berkelanjutan dan aman.







