Warisan Kuliner Kolonial yang Masih Bertahan di Solo
Kota Solo, Jawa Tengah, tidak hanya dikenal sebagai pusat budaya dan kesenian, tetapi juga sebagai tempat yang menyimpan berbagai warisan kuliner dari masa kolonial. Banyak hidangan yang kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Solo ternyata memiliki akar dari masakan Belanda. Dengan penyesuaian bumbu dan cita rasa lokal, kuliner-kuliner ini kini menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas makanan khas Solo.
Daftar Kuliner Warisan Kolonial di Solo
Berikut adalah beberapa contoh kuliner yang berasal dari pengaruh Belanda dan telah diadaptasi sesuai dengan selera masyarakat Solo:
-
Oliebollen / Gembukan
Meski bukan khas Solo, gembukan sering dijumpai di pasar-pasar tradisional dan pedagang jajanan. Kudapan ini mirip dengan oliebollen Belanda, tetapi dengan tekstur lebih empuk dan rasa manis yang sesuai dengan selera Jawa. Di Solo, gembukan biasanya dijual bersama cakwe dan menjadi camilan favorit. -
Smoor / Semur
Semur yang mudah ditemui di warung-warung dan katering Solo merupakan adaptasi dari smoor Belanda. Perbedaan utamanya terletak pada bumbu, di mana versi Solo menggunakan kecap manis, pala, ketumbar, dan cengkeh untuk menciptakan rasa gurih-manis yang khas. -
Frikadeller / Perkedel / Bergedel
Perkedel adalah lauk yang sangat umum di warteg Solo. Hidangan ini berasal dari frikadeller Belanda, tetapi dalam versi lokal, perkedel hadir dalam berbagai varian seperti kentang, tahu, dan jagung. Bergedel khas Solo biasanya dibuat dalam ukuran kecil dan dibaluri telur di luar. -
Croquette / Kroket
Kroket menjadi jajanan favorit di toko roti Solo. Berakar dari croquette Belanda, kroket di Solo memiliki tekstur lembut dan mengenyangkan karena campuran kentang yang lebih banyak. -
Spekkoek / Lapis Legit
Lapis legit sering dijual di toko kue besar di Solo. Kue ini berasal dari spekkoek Belanda, tetapi versi Indonesia lebih lembut dan berlapis halus. Rempah yang kuat membuatnya menjadi salah satu kue premium favorit warga Solo. -
Holland Biefstuk / Selat Solo / Bestik
Ini adalah contoh paling ikonik dari akulturasi Belanda di Solo. Holland biefstuk kemudian bertransformasi menjadi Selat Solo, yaitu bistik Jawa berkuah encer manis dengan sayuran rebus, telur, mustard, dan keripik kentang. Hidangan ini kini menjadi identitas kuliner khas Kota Solo. -
Kaastengels / Kastengel
Kue kering khas Belanda ini tetap bertahan sebagai camilan favorit masyarakat Solo. Kastengel versi lokal lebih manis-gurih dan hampir selalu hadir saat Lebaran di rumah-rumah warga Solo. -
Nastar
Meski telah menjadi kue kering Nusantara sejati, nastar juga terinspirasi dari kuliner Belanda. Di Solo, nastar kerap dijual sebagai oleh-oleh dan diproduksi dalam berbagai varian rasa seperti keju dan pandan. -
Pancake
Pancake yang dijual di kafe-kafe Solo memiliki akar dari kudapan Belanda. Kini pancake tampil lebih modern dengan topping buah tropis, es krim, hingga madu lokal.
Makanan yang Menggabungkan Budaya
Warisan kuliner ini tidak hanya menunjukkan pengaruh Belanda, tetapi juga menunjukkan bagaimana masyarakat Solo mampu mengadaptasi dan memperkaya hidangan tersebut. Dari semur hingga kroket, setiap hidangan memiliki cerita dan keunikan tersendiri. Bahkan, beberapa di antaranya telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat, baik dalam acara harian maupun upacara adat.
Kuliner-kuliner ini juga menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman makan yang unik dan autentik. Dari pasar tradisional hingga kafe modern, makanan khas Solo tetap bisa ditemukan dengan mudah. Dengan perpaduan rasa yang kaya dan aroma rempah yang khas, makanan ini tidak hanya memenuhi selera lidah, tetapi juga menjadi simbol dari sejarah dan budaya yang kaya di Kota Solo.







