Kicimpring dan Opak KBB Laris Meski Produksi Terhambat Cuaca

by -10 views
Kicimpring dan Opak KBB Laris Meski Produksi Terhambat Cuaca

Kudapan Tradisional dari Tapos yang Mengandalkan Sinar Matahari

Neng Mulyani, seorang perempuan berusia 53 tahun, memanfaatkan sinar matahari setelah hujan untuk menjemur kudapan tradisionalnya. Pada Jumat, 6 Maret 2026, ia menjemur berbagai penganan berbahan singkong seperti kicimpring, opak sampeu, keripik, dan gatot di halaman rumahnya di Kampung Tapos, RT 1 RW 15, Desa Sirnaraja, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat. Rumahnya dipenuhi bilah-bilah bambu sebagai tempat penjemuran.

Hujan yang sering mengguyur wilayah Tapos beberapa hari terakhir membuat Neng tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Meski hanya sesaat, cahaya matahari membantu kudapan-kudapan tradisionalnya terhindar dari pembusukan atau jamur. Produksi harus terus dilakukan karena momen Lebaran atau Idulfitri segera tiba.

Biasanya, pesanan meningkat jelang Lebaran. Untuk produksi kicimpring dan opak sampeu yang biasanya hanya 20 kilogram dalam sehari, melonjak menjadi 30-40 kilogram. Sementara itu, produksi keripik dan gatot tetap stabil pada 10 kilogram. Kicimpring dan opak sampeu menjadi primadona untuk suguhan tamu saat Lebaran.

Karena menjadi penganan spesial, Neng menambahkan rasa baru. Kicimpring dan opak yang semula hanya memiliki dua rasa, yaitu pedas dan orisinal, kini ditambahkan rasa manis. Berbagai bumbu serta bahan baku singkong tak lupa dipersiapkan. Menurutnya, penganan buatannya bisa ditemukan hingga ke luar Kabupaten Bandung Barat, seperti Tangerang, Cikarang, dan Bogor. Bahkan, produksinya menjangkau luar Pulau Jawa, yaitu Lampung.

Baca Juga:  Korban Banjir Capai 1.000 Jiwa, Bantuan Asing Ditolak, Pemerintah Mampu?

Metode pemasaran masih mengandalkan informasi dari mulut ke mulut. Proses produksi dibantu oleh anak perempuannya, Nur Alvi, 21 tahun. “Ngeple (Menyetak penganan),” ucap Alvi mengenai tugasnya dalam proses produksi.

Meskipun demikian, produksi kudapan tersebut menghadapi kendala cuaca dan modal yang terbatas. Karena tidak memiliki oven atau mesin pengering, Neng hanya mengandalkan penjemuran sinar matahari. Akibatnya, penjemuran tidak maksimal jika hujan turun. Modal untuk produksi juga masih minim, dan terkadang dibantu oleh modal dari anaknya agar produksi tetap berjalan.

Neng berharap pemerintah dapat membantu usaha kecilnya agar tetap lestari dengan bantuan modal serta distribusi pemasaran.

Harga dan Kelebihan Kudapan Tradisional

Berbagai penganan berbahan singkong ini cukup murah. Satu bungkus kicimpring dan opak sampeu dihargai Rp 10.000. Jika dibeli oleh penyalur, harganya menjadi Rp 7.500. Sedangkan keripik dan gatot dijual dengan harga Rp 5.000. Selain murah, penganan tradisional ini juga sehat dikonsumsi. “Teu nganggo pengawet teu ngango pewarna alami we (Saya tidak memakai pengawet dan pewarna, alami saja bahannya),” kata Neng.

Baca Juga:  Bulog dan BRIN panen raya padi di lahan uji coba teknologi intensif di Bekasi

Proses Produksi yang Sederhana

Proses produksi kudapan ini sangat sederhana, tetapi memerlukan ketelitian dan kesabaran. Bahan utama seperti singkong dipersiapkan terlebih dahulu, kemudian diolah menjadi berbagai bentuk seperti kicimpring dan opak. Setelah itu, bumbu-bumbu yang digunakan disesuaikan dengan rasa yang diinginkan. Proses penjemuran dilakukan secara alami, sehingga hasil akhirnya lebih segar dan alami.

Potensi Pasar yang Luas

Meski proses produksi masih sederhana, potensi pasar bagi kudapan ini cukup besar. Banyak orang mencari makanan tradisional yang sehat dan alami, terutama saat momen Lebaran. Neng Mulyani berharap dapat memperluas pasarnya dan meningkatkan produksi tanpa mengorbankan kualitas.

Keterlibatan Keluarga dalam Usaha

Anak perempuannya, Nur Alvi, juga turut berkontribusi dalam usaha ini. Ia membantu proses produksi, termasuk menyetak kudapan. Dengan bantuan keluarga, Neng dapat terus menjalankan usahanya meskipun dengan sumber daya yang terbatas.