Ramadan Hari ke-19, Cabai Rawit Merah Capai Rp105.250 di Cirebon

by -5 views
Ramadan Hari ke-19, Cabai Rawit Merah Capai Rp105.250 di Cirebon



Pada akhir Ramadan, harga beberapa komoditas pangan di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, mulai mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari data yang dirilis oleh Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) pada Senin (9/3/2026), atau hari ke-19 Ramadan. Beberapa komoditas utama seperti cabai rawit merah dan beras menunjukkan kenaikan, sementara bawang dan sebagian cabai merah justru mengalami penurunan.

Komoditas yang Mengalami Kenaikan

Cabai rawit merah menjadi komoditas dengan kenaikan tertinggi. Harganya mencapai sekitar Rp105.250 per kilogram di pasar tradisional. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang sebelumnya berkisar Rp76.400 per kilogram menurut data PIHPS pada awal Februari 2026. Selain itu, cabai rawit hijau juga mengalami kenaikan, dengan harga sekitar Rp53.150 per kilogram.

Sementara itu, harga cabai merah justru turun. Cabai merah besar tercatat sekitar Rp41.200 per kilogram, turun sekitar 2,14%. Sementara cabai merah keriting turun lebih dalam menjadi Rp42.350 per kilogram atau terkoreksi sekitar 6,2%.

Perbedaan tren ini menunjukkan bahwa komoditas hortikultura sangat sensitif terhadap pasokan harian. Ketika distribusi terganggu atau produksi menurun di sentra pertanian, harga bisa melonjak dalam waktu singkat.

Baca Juga:  Satu Per Satu RS di Gaza Kolaps, Dokter: PBB dan WHO Bak Tak Ada Gunanya

Perkembangan Harga Beras

Komoditas beras di Kabupaten Cirebon juga menunjukkan tren kenaikan tipis. Harga beras kualitas bawah I tercatat sekitar Rp14.000 per kilogram, sedangkan beras kualitas bawah II sekitar Rp13.400 per kilogram. Untuk kategori menengah, beras medium I mencapai Rp15.200 per kilogram, sementara medium II sekitar Rp14.600 per kilogram. Adapun beras kualitas premium berada di kisaran Rp16.850 per kilogram untuk super I dan Rp15.850 per kilogram untuk super II.

Kenaikan harga beras selama Ramadan umumnya dipicu oleh peningkatan konsumsi rumah tangga dan aktivitas memasak yang lebih intens dibandingkan hari biasa.

Pantauan di Pasar Sumber

Pantauan di Pasar Sumber, salah satu pusat perdagangan bahan pangan di Kabupaten Cirebon, menunjukkan tren harga yang relatif sejalan dengan data PIHPS. Sejumlah pedagang menyebut lonjakan paling terasa pada cabai rawit merah. Dalam beberapa hari terakhir, harga komoditas tersebut melonjak tajam karena pasokan dari sentra produksi di Jawa Tengah dan Jawa Timur berkurang.

“Cabai setan (cabai rawit merah) memang mahal sejak awal tahun. Sekarang juga masih naik harganya,” ujar Ahmad, salah seorang pedagang sayur di Pasar Sumber, Senin (9/3/2026).

Baca Juga:  Muhammadiyah Tetapkan Idul Fitri 28 Juli

Stabilitas Harga Bawang dan Protein Hewani

Di sisi lain, harga bawang justru relatif stabil bahkan cenderung turun. Bawang merah ukuran sedang tercatat sekitar Rp45.200 per kilogram, turun lebih dari 4%. Sedangkan bawang putih berada di kisaran Rp39.700 per kilogram, turun sekitar 1%. Stabilnya harga bawang dipengaruhi oleh pasokan impor yang relatif lancar serta stok di tingkat pedagang yang masih mencukupi.

Berbeda dengan cabai, harga protein hewani di pasar tradisional Kabupaten Cirebon cenderung stabil. Daging ayam ras segar tercatat sekitar Rp40.750 per kilogram, naik tipis kurang dari 1%. Sementara itu, daging sapi kualitas I berada di kisaran Rp148.050 per kilogram, sedangkan kualitas II sekitar Rp139.450 per kilogram. Harga telur ayam ras justru mengalami penurunan tipis menjadi sekitar Rp31.100 per kilogram.

Kondisi Pasar dan Prediksi Kenaikan Harga

Secara keseluruhan, perkembangan harga pangan di Kabupaten Cirebon pada pekan ketiga Ramadan menunjukkan kondisi pasar yang mulai mengalami tekanan, terutama pada komoditas hortikultura seperti cabai rawit. Jika tren ini berlanjut, kenaikan harga berpotensi terjadi pada pekan terakhir Ramadan hingga menjelang Idulfitri, ketika permintaan rumah tangga biasanya meningkat tajam.

Baca Juga:  Peternak Tolak Bawa Kerbau Keluar Bandara Lombok, Minta Waktu Sebulan