JABARMEDIA – Pemerintah Kabupaten Cirebon melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) telah menyiapkan serangkaian kegiatan budaya. Ini dilakukan dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-544 Kabupaten Cirebon di tahun 2026. Beragam tradisi khas daerah akan dihadirkan untuk memeriahkan momen bersejarah ini. Perayaan ini bertujuan menonjolkan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.
Pamong Budaya Ahli Muda Disbudpar Kabupaten Cirebon, Iman Hermanto, M.Pd., menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan tidak hanya berfokus pada upacara seremonial. Namun, juga menampilkan kekayaan budaya.
“Setelah upacara peringatan di pagi hari, akan dilanjutkan dengan prosesi Mapag Kanjeng Dalem atau Makadal,” ujar Iman pada Kamis (2/4/2026). Ia menambahkan, “Ini merupakan kesenian tradisional berupa penjemputan tamu kehormatan.”
Dalam prosesi tersebut, tamu kehormatan seperti Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Bupati Cirebon H. Imron, Wakil Bupati Cirebon H. Agus Kurniawan Budiman, serta unsur Forkopimda dijemput. Mereka diiringi budaya dari Kantor Bupati menuju Gedung DPRD. Tujuannya untuk mengikuti Rapat Paripurna Istimewa. Tradisi Mapag Kanjeng Dalem ini menghadirkan suasana adat yang sangat kental.
Iring-iringan tersebut diwarnai alunan gamelan dan kesenian Gong Renteng. Penari tradisional, pembawa payung kebesaran, hingga tokoh lengser turut berperan sebagai pengiring kehormatan. Para peserta dan pengiring menampilkan Pakaian Adat Cirebon yang khas. Ini menambah semarak acara. Iman menegaskan,
“Makadal ini pada dasarnya adalah tradisi penjemputan tamu agung. Nuansanya sangat khas karena dipadukan dengan berbagai unsur kesenian, termasuk Gong Renteng yang merupakan warisan budaya tak benda asal Cirebon.”
Iman juga menambahkan bahwa tradisi serupa sering dijumpai dalam berbagai kegiatan adat lainnya. Misalnya, pernikahan atau upacara tradisional. Kegiatan ini dikenal dengan istilah cucuk lampah. Hal ini menunjukkan betapa mendalamnya akar budaya Cirebon dalam kehidupan masyarakatnya.
Pelibatan Seniman dan Pelestarian Budaya
Selain prosesi adat, peringatan Hari Jadi Kabupaten Cirebon ke-544 juga dimeriahkan dengan berbagai event budaya. Kegiatan ini melibatkan para seniman lokal. Event ini menjadi wadah penting untuk menampilkan ragam kesenian khas Cirebon. Sekaligus menjaga eksistensinya agar tidak tergerus zaman.
“Setiap tahun, pelibatan seniman dan budayawan selalu menjadi bagian penting,” kata Iman. Ia melanjutkan, “Ini bukan hanya perayaan, tetapi juga upaya pelestarian budaya.” Komitmen ini menunjukkan dedikasi pemerintah daerah dalam menjaga warisan leluhur. Khususnya dalam memperkenalkan Baju Adat Cirebon dalam setiap penampilan.
Napak Tilas dan Ziarah Bersejarah
Sebelum puncak Hari Jadi Cirebon, rangkaian peringatan juga diawali dengan kegiatan napak tilas. Ini diikuti dengan ziarah ke makam Sunan Gunung Jati. Prosesi ini menjadi refleksi sejarah. Sekaligus bentuk penghormatan kepada tokoh pendiri Cirebon. Ini adalah bagian tak terpisahkan dari perayaan.
Kegiatan napak tilas diawali di Keraton Kasepuhan. Dengan sejumlah rangkaian acara seperti pembacaan Babad Cirebon. Kemudian dilanjutkan dengan peninjauan situs bersejarah di Dalem Agung Pakungwati. Tempat ini menjadi cikal bakal berdirinya Cirebon.
Selanjutnya, rombongan yang terdiri dari Bupati, Wakil Bupati, Forkopimda, dan jajaran perangkat daerah melanjutkan perjalanan. Mereka menuju makam Sunan Gunung Jati di kawasan Gunung Sembung. Di sana, mereka melaksanakan doa dan ziarah sebagai bentuk penghormatan.
“Rangkaian kegiatan ini berlangsung selama dua hari, mulai 1 hingga 2 April 2026,” pungkas Iman. Ia menjelaskan, “Ini adalah bentuk penghormatan terhadap sejarah sekaligus memperkuat identitas budaya Cirebon.” Seluruh kegiatan ini memastikan nilai-nilai luhur tetap terjaga.






