Kata Kadisdik Jabar Mengenai Sekolah yang Tak Jadi Belajar Tatap Muka Kemarin, Tak Dimulai Serempak

by -9 views

Rencana belajar tatap muka mulai 18 Agustus di Jawa Barat urung terlaksana.

Selain karena sekolah yang belum siap, ada juga daerah yang menolak.

Kemudian orangtua siswa juga belum memberi izin.

Kepala Dinas Pendidikan Jabar, Dedi Supandi, mengatakan, bukan hal mudah bagi mereka untuk mengizinkan kembali sekolah mengelar KBM tatap muka pada masa adaptasi kebiasaan baru (AKB) ini.

Sebanyak 71 sekolah tingkat menengah atas yang mereka izinkan untuk kembali menggelar KBM tatap muka per 18 Agustus ini sudah melalui proses verifikasi yang ketat.

Verifikasi dilakukan oleh para pengawas dan KCD Pendidikan di 282 kecamatan yang sudah berstatus sebagai kawasan zona hijau Covid-19 di Jabar.

Ke-71 sekolah yang telah terverifikasi siap melakukan KBM secara tatap muka ini, ujarnya, terdiri dari 38 SMA, 28 SMK, dan lima SLB.

“Mereka tersebar di sejumlah wilayah seperti Kabupaten Bogor, Sukabumi, Cianjur, Majalengka, Garut, Tasik, Ciamis, Cirebon, Subang, dan beberapa wilayah lainnya, termasuk beberapa wilayah yang kita globalkan rata-rata sekolahnya berada di daerah pelosok atau perkampungan, yang tidak ada konektivitas internet (blank spot), atau kalaupun ada kualitas jaringannya (internet) rendah,” ujarnya saat ditemui di sela kegiatannya di Jalan Pasteur, Selasa (18/8/2020).

Meski telah mendapat lampu hijau, kata Dedi, tidak semua sekolah itu akan memulai KBM tatap mukanya secara serempak.

“Ada yang baru akan memulainya, Rabu 19 Agustus, bahkan ada pula yang baru akan mulai Senin 24 Agustus,” ujarnya.

Disinggung mengenai kemungkinan, adanya pergeseran kondisi status zona Covid-19, misal dari hijau ke kuning, Dedi mengatakan mengantisipasinya dengan terus berkoordinasi dengan Satuan Tugas Covid-19 Jabar untuk memantau kestabilan pergerakan dari kondisi tersebut.

“Itu sebabnya, dari ribuan sekolah di 228 kecamatan zona hijau, tidak kami buka semua, karena kami memerlukan evaluasi dari kestabilan kondisi tiap kabupaten/kota. Apabila kondisinya berubah maka kebijakannya pun akan berubah. Bahkan, dari 71 sekolah ini masih ada kemungkinan bertambah atau mungkin berkurang,” ucapnya.

Dedi mengatakan, berdasarkan evaluasi pelaksanaan KBM di tingkat SMA/SMK/SLB ini mereka akan memutuskan boleh atau tidaknya KBM tatap muka di tingkat SMP dilakukan.

“Kalau kondisi ini terus stabil, maka kemungkinan Bulan September untuk SMP sudah bisa dimulai,” ujarnya.

Sekretaris Gugus Tugas Percepatanan Penanganan Covid-19 Jabar, Daud Achmad, mengatakan ke-71 sekolah ini sudah dinyatakan lolos dalam tahapan verifikasi oleh tim di gugus tugas setiap kabupaten atau kotanya masing-masing.

Artinya protokol kesehatan di sekolah itu pun sudah bisa dilaksanakan termasuk dalam penggunaan sistem belajar secara bergantian antara sistem daring dan luring.

“Sekolah harus betul-betul siap melakukan protokol kesehatan. Mulai dari penyediaan fasilitas cuci tangan, siswa pakai masker dan face shield, kemudian juga harus ada komitmen dengan komite sekolah oke tidak anaknya sekolah,” ujarnya.

(tribunjabar.com)