Penyelenggaraan Food Festival 2025 Menyoroti Pentingnya Kesadaran Gizi
Food Festival 2025 yang diselenggarakan oleh Program Studi Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung bersama Himpunan Mahasiswa Teknologi Pangan (Himtekpa) menjadi ajang penting dalam menyosialisasikan kesadaran masyarakat terhadap pola konsumsi pangan. Dengan tema “Feedact: Real Food, Real Issue”, kegiatan ini tidak hanya berupaya memperkenalkan inovasi di bidang pangan, tetapi juga mengajak masyarakat untuk lebih kritis terhadap makanan yang dikonsumsinya sehari-hari.
Ketua pelaksana kegiatan, Salsa Nursohiba, menjelaskan bahwa banyak masyarakat saat ini hanya fokus pada kepuasan rasa tanpa memahami dampak jangka panjang dari makanan yang mereka konsumsi. Ia menilai bahwa pola makan instan dan minim gizi bukan hanya masalah individu, melainkan juga isu sosial yang perlu ditangani bersama. Untuk itu, festival ini juga memberikan penekanan pada pangan lokal yang kaya akan nutrisi, seperti umbi-umbian, sebagai alternatif makanan sehat dan berkelanjutan.
“Melalui festival ini, kami ingin mengajak audiens untuk lebih melek pangan, membedakan antara makanan yang sehat dan yang hanya mengenyangkan sesaat,” ujar Salsa. Dengan demikian, peserta diharapkan dapat memahami pentingnya memilih makanan yang tidak hanya lezat, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh.
Isu krisis pangan, gizi buruk, serta ketergantungan pada makanan ultra-proses telah menjadi perhatian global. Di tingkat lokal, mahasiswa Teknologi Pangan UM Bandung mencoba membumikan isu tersebut dengan pendekatan edukatif yang kontekstual. Hal ini dilakukan agar masyarakat lebih sadar akan pentingnya memilih makanan yang berkualitas dan bergizi.
Menurut Pembina Himtekpa, Ana Nadiya Afinatul Fishi, mahasiswa perlu diberikan bekal tidak hanya dalam keterampilan teknis, tetapi juga nilai-nilai etika dan kesadaran akan keberlanjutan. Ia menekankan bahwa lulusan Teknologi Pangan UM Bandung tidak hanya mampu menciptakan produk pangan, tetapi juga memahami aspek keamanan pangan, nilai gizi, dan keberlanjutan.
“Standar etika dalam profesi pangan tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai Islam,” tambah Ana. Menurutnya, standar etika yang diterapkan adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang menjadi ciri khas lulusan Teknologi Pangan UM Bandung dibandingkan kampus lainnya.
Pembina juga menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi refleksi bahwa isu pangan tidak cukup hanya disikapi secara teknis atau komersial. Kesadaran masyarakat tentang pangan sehat, gizi seimbang, dan ketahanan pangan jangka panjang merupakan isu fundamental yang perlu terus digaungkan. Dengan demikian, Food Festival 2025 tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga menjadi wadah edukasi yang penting bagi masyarakat luas.
Beberapa hal yang bisa dipertimbangkan masyarakat dalam memilih makanan antara lain:
* Memastikan kandungan nutrisi yang seimbang.
* Memilih makanan yang berasal dari sumber lokal dan alami.
* Menghindari makanan yang terlalu diproses dan berisiko terhadap kesehatan.
* Meningkatkan kesadaran akan pentingnya makanan bergizi untuk kesehatan jangka panjang.
Dengan adanya Food Festival 2025, diharapkan masyarakat semakin memahami bahwa makanan bukan hanya sekadar untuk memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup sehat dan berkelanjutan.







