Wali Kota Bandung Tidak Ikuti Kebijakan Gubernur Jawa Barat Terkait Study Tour
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, kembali menunjukkan sikap berbeda dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Salah satu poin yang menjadi perhatian adalah larangan study tour yang diatur dalam surat edaran. Namun, Farhan memilih untuk tidak menjalankan aturan tersebut dan memberikan kebebasan bagi sekolah di Bandung untuk melakukan kegiatan study tour.
Study tour dinilai oleh Farhan sebagai salah satu aktivitas penting yang dapat mendukung pengembangan pendidikan dan pariwisata. Ia menyatakan bahwa larangan study tour bisa berdampak negatif terhadap industri pariwisata yang sedang mengalami penurunan pendapatan. “Sangat (berpengaruh ke pendapatan). Cek ke Saung Udjo, jangan tanya saya,” ujarnya saat diwawancara di Balai Kota Bandung.
Farhan menegaskan bahwa Pemerintah Kota Bandung tidak akan membatasi siswa untuk mengikuti study tour ke luar daerah, termasuk ke luar provinsi. Ia menilai bahwa kota Bandung adalah kota terbuka, sehingga kebijakan yang diterapkan harus sesuai dengan prinsip kebebasan. “Mangga weh, saya tidak bisa melarang, masa saya larang. Kalau Bandung sendiri mah bebas, ini kota terbuka, terbuka itu artinya masuk boleh, keluar juga boleh gitu ya,” katanya.
Namun, ia juga menegaskan bahwa study tour tidak boleh dikaitkan dengan kewajiban akademik siswa. Artinya, siswa yang tidak mampu mengikuti kegiatan tersebut tidak boleh diberi tugas pengganti yang memengaruhi nilai mereka. “Study tour mah study tour we, asal tidak ada hubungan dengan nilai. Jadi yang sanggup bayar, yang enggak sanggup enggak usah bayar (ikut). Tanggung jawab, kepala sekolah dan orang tua sudah dewasa,” ucapnya.
Selama ini, banyak sekolah swasta di Bandung, termasuk jenjang SMA, yang mengadakan study tour ke luar negeri seperti Australia maupun Amerika Serikat. Kegiatan ini diserahkan sepenuhnya kepada komite sekolah, dan sekolah tetap memegang tanggung jawab penuh atas pelaksanaannya. “Tapi begitu ketahuan ada yang melaporkan, misalnya anak saya wajib ikut, kalau enggak nilai tidak bertambah atau kalau tidak ikut harus bikin tugas, maka kepala sekolahnya langsung diberhentikan, clear,” tambahnya.
Dengan kebijakan ini, sekolah-sekolah di Bandung tetap bisa menggelar kegiatan study tour dengan syarat tidak mewajibkan siswa mengikuti dan tidak mengaitkannya dengan penilaian akademik. Kegiatan ini tetap diperbolehkan selama sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Kota Bandung.
Protes dari Pelaku Pariwisata
Ratusan bus pariwisata memadati ruas jalan Diponegoro, Kota Bandung saat sejumlah pekerja pariwisata se-Jawa Barat melakukan aksi unjuk rasa di Gedung Sate, Senin (21/7/2025). Bus tersebut parkir memanjang di dua arah jalan hingga perbatasan Jalan Supratman, sehingga kondisi ini menyebabkan arus lalu lintas terhambat karena ratusan bus itu parkir di bahu jalan.
Aksi unjuk rasa ini dilakukan untuk menuntut Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi mencabut Surat Edaran (SE) soal larangan study tour. “Tadi konvoi bareng, kita dari PO Bandung Kota, cuma ikut ke PO Bandung Selatan. Tadi titik kumpulnya di sekitar Tol Soroja,” ujar sopir bus dari PO Harum Prima Trans, Nanang (32) saat ditemui di Gedung Sate, Senin (21/7/2025).
Setelah semua berkumpul, ratusan bus tersebut langsung konvoi melalui Jalan Tol Pasteur, kemudian keluar dan melewati Flyover Pasupati hingga akhirnya mereka finish di Gedung Sate untuk melakukan aksi unjuk rasa. “Alhamdulillah tadi perjalanan lancar, ini kurang lebih ada 400 unit bus. Parkir juga aman, kita ngikut saja sama rombongan yang lain,” katanya.
Semua bus yang konvoi tersebut, kata dia, mengangkut para pekerja pariwisata, sehingga selama perjalanan dari titik kumpul menuju ke Gedung Sate tidak ada bus yang kosong, tetapi kondisi di dalam bus tidak sampai penuh. “Iya tadi saya ngangkut pekerja (pariwisata), sama dengan yang lain, jadi semua bus terisi,” ucap Nanang.
Seorang kondektur dari PO bus yang lain, Nandang (28) mengatakan, saat mengikuti unjuk rasa tersebut dia juga berkumpul di Tol Soroja, kemudian konvoi dengan mengangkut para pekerja pariwisata. “Alhamdulillah, perjalanan lancar tadi jalurnya sama dari Soreang keluar Tol Pasteur. Tadi yang diangkut ada 5 orang dan parkir juga aman tidak susah,” katanya.








