Nelayan Pangandaran Tetap Berlayar Meski Cuaca Mendung di Pantai Timur

by -19 views
Nelayan Pangandaran Tetap Berlayar Meski Cuaca Mendung di Pantai Timur

Cuaca Ekstrem Mengancam Aktivitas Nelayan di Pantai Pangandaran

Suasana mendung mengurung kawasan Pantai Pangandaran, Jawa Barat, pada hari Kamis (22/1/2026) pagi. Awan hitam tampak menutupi langit di atas hamparan laut dan perbukitan yang mengelilingi wilayah pesisir. Ombak laut pun terlihat cukup besar, menghantam bibir pantai yang sedang mengalami pasang.

Kondisi cuaca yang kurang bersahabat ini tidak menyurutkan semangat para nelayan Pangandaran untuk tetap beraktivitas. Dengan memenuhi kebutuhan hidup sebagai motivasi, sebagian nelayan tetap turun ke laut, baik menjaring di sekitar pantai maupun melaut hingga ke tengah perairan. Mereka menggantungkan harapan pada hasil tangkapan, meski sadar bahwa cuaca ekstrem sering kali membuat hasil tidak sesuai harapan.

“Ya, memang kondisi cuacanya lagi kurang bersahabat, tapi kalau tidak menjaring, kita tidak punya pendapatan,” ujar Sarno (33), seorang nelayan jaring arad kepada Tribun di Pantai Timur Pangandaran, Kamis pagi.

Menurut Sarno, hasil tangkapan ikan dalam beberapa hari terakhir menurun drastis akibat cuaca buruk. Bahkan, tidak sedikit nelayan yang memilih untuk tidak melaut karena khawatir akan keselamatan. “Yang biasanya dapat satu juta lebih, sekarang paling 350 ribu ke bawah. Itu pun dibagi-bagi karena saat menangkap ikan kita berkelompok,” katanya.

Baca Juga:  Satgas Premanisme Depok Mulai Torehkan Ketakutan pada Para Preman

Peringatan BMKG tentang Potensi Cuaca Ekstrem

Dalam keterangan tertulisnya, Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menyebutkan hasil analisis menunjukkan potensi hujan lebat disertai kilat dan angin kencang akan melanda sebagian besar wilayah Indonesia secara bergantian.

Cuaca ekstrem diprakirakan mulai terjadi sejak 21 Januari di sejumlah wilayah, antara lain Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, NTB, hingga NTT. Memasuki 22 Januari, potensi serupa masih membayangi Bengkulu, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT.

Pada 23 Januari, wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, serta NTT kembali diprakirakan mengalami cuaca ekstrem. BMKG pun memprediksi intensitas hujan tinggi berpotensi terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada 24 Januari.

Sementara itu, wilayah Bali, NTB, dan NTT diperkirakan mengalami peningkatan curah hujan pada periode 25–26 Januari.

Dampak Cuaca Ekstrem terhadap Kehidupan Sehari-hari

Cuaca ekstrem yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia memiliki dampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat, terutama bagi mereka yang bergantung pada aktivitas di luar ruangan seperti nelayan, petani, dan pengusaha lokal. Di Pantai Pangandaran, para nelayan harus menghadapi tantangan ekstra untuk menjaga keselamatan diri dan keluarga sambil tetap mencari nafkah.

Baca Juga:  5 Tersangka Kasus Kekerasan Seksual di JIS Disidang di PN Jaksel Hari Rabu

Selain itu, masyarakat juga diminta untuk tetap waspada dan memperhatikan informasi cuaca dari BMKG agar dapat mengambil langkah-langkah pencegahan yang diperlukan. Hal ini sangat penting, terutama jika musim hujan telah memasuki fase yang lebih intensif.

Langkah Pemerintah dan Masyarakat dalam Menghadapi Cuaca Ekstrem

Dalam menghadapi situasi ini, pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan bisa memberikan dukungan yang optimal kepada masyarakat, termasuk dalam hal penyediaan informasi cuaca, pelatihan keselamatan, serta bantuan logistik jika diperlukan. Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk selalu memperhatikan perkembangan cuaca dan menghindari aktivitas yang berisiko tinggi saat kondisi cuaca tidak bersahabat.

Masyarakat juga bisa saling membantu dalam menghadapi kondisi cuaca ekstrem, misalnya dengan berbagi informasi atau saling menjaga keamanan di lingkungan sekitar. Dengan kerja sama yang baik, dampak negatif dari cuaca ekstrem dapat diminimalkan.