Kebijakan Lalu Lintas di Kuningan: Tantangan dan Perubahan yang Terjadi
Tahun 2025 menjadi tahun yang penuh dengan perubahan dalam lalu lintas wilayah hukum Polres Kuningan. Di balik kegemerlapan mobil dan suara mesin, terdapat data yang menunjukkan perubahan signifikan. Meski keselamatan manusia kini lebih terjaga, disiplin masyarakat justru mengalami penurunan.
Keajaiban Fatalitas: Penurunan Angka Kematian
Salah satu hal yang menarik perhatian adalah penurunan angka korban meninggal dunia sebesar 75%. Pada tahun 2024, terdapat 58 jiwa yang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas. Namun, pada tahun 2025, angka tersebut turun drastis menjadi hanya 19 orang. Hal ini tidak lepas dari efektivitas respon tim medis dan pemetaan titik rawan yang lebih akurat.
Meskipun jumlah kecelakaan naik tipis sebesar satu persen menjadi 164 kasus, tingkat keparahan benturan dalam kecelakaan tahun 2025 cenderung lebih rendah. Ini menunjukkan bahwa upaya peningkatan keselamatan telah mulai memberikan hasil.
Luka yang Tersisa: Kecemasan di Balik Kesuksesan
Namun, narasi kesuksesan ini menyisakan kekhawatiran. Saat angka kematian menurun, grafik korban luka berat justru meningkat sebesar 15% (39 orang) dan luka ringan membengkak sebesar 16% (280 orang). Fenomena ini menunjukkan bahwa jalan raya masih menjadi tempat yang berbahaya.
Kenaikan angka korban luka ini menjadi bukti bahwa mobilitas masyarakat yang tinggi belum diimbangi dengan kesadaran yang matang. Banyak pengendara yang berhasil selamat dari maut, namun banyak juga yang harus pulang dengan kondisi tubuh yang tidak utuh.
Ironi Digitalisasi: Tilang Manual Kembali Berjaya
Di sisi penegakan hukum, terjadi sebuah pemandangan yang kontras dengan semangat digitalisasi. Dari total 6.166 penindakan pelanggaran yang secara akumulatif naik 13%, mayoritas justru datang dari tilang manual sebanyak 4.777 tindakan, sehingga melampaui capaian ETLE Mobile yang berada di angka 1.389.
Kapolres Kuningan, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) M. Ali Akbar menjelaskan bahwa kehadiran petugas secara fisik di lapangan tetap menjadi instrumen paling ampuh untuk menjangkau pelanggaran yang tak tertangkap sensor kamera. Tilang manual bukan berarti mundur, melainkan bentuk respon tegas terhadap pelanggaran kasat mata yang masih marak, seperti penggunaan knalpot tidak standar dan perilaku lawan arus yang sangat berisiko serta hal lainnya.
Ia mengingatkan kepada masyarakat luas atau para pengguna jalan bahwa keselamatan bukan sekadar menghindari denda kamera, tapi tentang kesadaran setiap detik di atas sadel motor atau di balik kemudi mobil adalah tanggung jawab atas nyawa orang lain. Angka kematian yang turun adalah prestasi, namun angka luka yang naik adalah pekerjaan rumah yang harus di tuntaskan bersama di tahun mendatang.
Kebijakan yang Harus Diperbaiki
Dari data yang tersedia, terlihat bahwa kebijakan lalu lintas di Kuningan membutuhkan evaluasi lanjutan. Penurunan angka kematian adalah langkah positif, tetapi peningkatan korban luka menunjukkan adanya celah yang perlu ditutup. Diperlukan strategi yang lebih komprehensif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya keselamatan berkendara.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
* Peningkatan sosialisasi keselamatan lalu lintas melalui berbagai media.
* Penguatan penegakan hukum dengan pendekatan yang lebih proaktif.
* Pengembangan infrastruktur jalan yang lebih aman.
* Peningkatan kerja sama antara instansi terkait dan masyarakat.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan dapat menciptakan lingkungan lalu lintas yang lebih aman dan nyaman bagi semua pengguna jalan.






