Sejarah dan Makna Barongsai dalam Tradisi Tionghoa
Barongsai adalah salah satu bentuk seni tradisional yang sering muncul dalam perayaan Imlek. Selain angpau merah dan lampion, barongsai menjadi hiburan utama yang dihadirkan untuk memeriahkan acara. Tidak hanya sebagai hiburan, barongsai juga dipercaya membawa keberuntungan dan kebahagiaan bagi masyarakat Tionghoa.
Sejarah Barongsai
Sejarah barongsai cukup panjang, dengan catatan yang telah terekam selama ribuan tahun. Seni ini menggabungkan tarian, bela diri, dan unsur-unsur lain yang memiliki makna mendalam. Menurut catatan sejarah, barongsai diyakini muncul sejak Dinasti Tang (618–907 M). Legenda mengatakan bahwa tradisi ini bermula dari mimpi seorang kaisar. Dalam mimpinya, ada binatang aneh yang menyelamatkannya. Binatang tersebut disebut menyerupai singa dari barat. Karena itu, singa dianggap sebagai simbol keberuntungan di seluruh masyarakat Tionghoa.
Cerita lain mengisahkan tentang seekor singa besar di surga. Singa ini penasaran dan suka bermain, sehingga sering menyebabkan kerusakan. Kaisar Giok yang terganggu oleh sikapnya, akhirnya memenggal kepala singa tersebut. Tubuh singa dilemparkan dari surga ke bumi. Namun, Dewi Kwan Yin merasa kasihan dan turun ke bumi untuk membantunya. Ia mengikat kepala singa kembali ke tubuhnya dengan pita merah. Mitosnya, pita tersebut dapat menakuti roh jahat dan menjaga keselamatan singa.
Fakta Menarik tentang Barongsai
Lion dance, atau tarian singa, merupakan salah satu tarian tradisional dalam budaya Tionghoa. Seni ini dimainkan secara berkelompok yang terdiri dari 12 laki-laki. Para pemain menggunakan kostum penuh warna dengan lima singa dalam satu kelompoknya. Orang-orang yang memainkan barongsai disebut “manusia sing”. Mereka menari mengikuti tirama musik yang disebut melodi Taipin.
Selama lebih dari seribu tahun, tarian barongsai telah berkembang menjadi dua genre besar: Tarian Singa Utara dan Tarian Singa Selatan. Di Indonesia, lion dance dikenal sebagai barongsai. Istilah ini lahir dari kata “barong” dalam bahasa Jawa yang berarti singa, dan “say” dari bahasa Hokkian yang juga berarti singa. Dalam bahasa Hokkian, barongsai sering disebut “Samsie atau Samsu”.
Barongsai dibawa ke Indonesia (yang saat itu masih Hindia-Belanda) oleh imigran Tionghoa. Menurut sumber yang sama, momen tersebut terjadi sekitar 1860–1890. Pada masa itu, Belanda menerapkan aturan pada budaya Tionghoa yang masuk, sehingga terjadi segregasi atau pemisahan golongan hingga masa kemerdekaan.
Barongsai dan Imlek
Hingga saat ini, barongsai masih menjadi upacara pembukaan terpenting dalam acara dan bisnis masyarakat Tionghoa. Seni tari ini juga menjadi ritual yang diperuntukkan sebagai ladang bisnis selama Tahun Baru Imlek. Alasannya karena barongsai dianggap dapat membangkitkan keberuntungan pada tahun mendatang.
Singa bukanlah hewan asli Tionghoa, hal ini menjelaskan mengapa “singa” dalam tarian tersebut memiliki karakteristik mirip naga dan burung phoenix. Penari singa umumnya juga praktisi kungfu karena barongsai mengharuskan penari memiliki sikap yang kuat. Kepala singa cukup berat dan posisi ekor penari belakang harus selaras. Tarian barongsai bisa berlangsung lama, sehingga mengharuskan penarinya memiliki kondisi fisik dan stamina yang prima.
Gaya Tarian Singa
Barongsai di China secara luas dikategorikan menjadi dua gaya: Utara (北獅) dan Selatan (南獅). Perbedaannya terdapat pada gerakan yang dibuat selama menari. Selain itu, kostum yang dikenakan dan tujuan penampilannya pun berbeda.
Barongsai gaya utara disebut muncul pada Dinasti Wei Utara (359–534 M). Saat itu, Kaisar Wudi melancarkan ekspedisi ke Provinsi Gansu untuk menangkap lebih dari 100.000 orang Mongol. Lebih dari 30 prajurit Mongol yang ditangkap menari untuk kaisar dengan menggunakan kepala binatang besar yang diukir dari kayu dan mengenakan kulit binatang. Kaisar yang menontonnya sangat terkesan dan membebaskan para tahanan. Dia menyebut tarian itu sebagai Tarian Singa Menguntungkan Wei Utara. Selanjutnya, tarian tersebut populer di China Utara.
Pada tarian utara, biasanya menampilkan singa yang berpasangan dengan rambut oranye dan kuning panjang serta pita merah atau hijau di kepala. Selama pertunjukan, barongsai khas utara membuat gerakan menyerupai anjing Peking atau Fu. Gerakannya seperti aksi mengangkat satu sama lain, berjalan di atas tiang kayu atau bambu, melompati meja, hingga menyeimbangkan bola raksasa.
Adapun barongsai gaya selatan berasal dari Guangdong. Gaya ini meniru kucing yang lebih simbolis. Biasanya tarian ini dilakukan untuk mengusir roh jahat dan memanggil keberuntungan. Singa selatan pun memiliki aneka ragam warna dengan kepala yang khas, mata besar, cermin di dahi, dan satu tanduk di kepala.
Legenda Tarian Singa Selatan
Legenda tentang Tarian Singa Selatan di China bermula dari Dinasti Qing (1644–1911). Saat itu, Kaisar Qianlong bermimpi tentang peziarah hewan keberuntungan dengan rambut berwarna-warni dalam perjalanan inspeksinya dari hilir Sungai Yangtze ke selatan. Setelah kembali ke Beijing, kaisar memerintahkan anak buahnya untuk membuat kostum sesuai dengan gambar hewan keberuntungan yang diimpikannya. Sang Kaisar pun memerintahkan beberapa orang untuk menggunakan kostum tersebut pada festival atau upacara. Pertunjukan ini dilakukan dengan harapan membuat negara makmur dan orang-orang damai.
Sejarah barongsai yang panjang dan penuh filosofi menjadikan tarian ini tetap dipertahankan hingga kini. Penampilan barongsai pun dilakukan setiap Imlek dengan harapan tahun mendatang selalu dipenuhi keberuntungan dan keselamatan.








