Kepala Sekolah Cirebon Akui Ranjang Rusak, Sudah Diikat Kawat

by -21 views
Kepala Sekolah Cirebon Akui Ranjang Rusak, Sudah Diikat Kawat

Kondisi Asrama Sekolah Rakyat Terintegrasi I Kota Cirebon Diperiksa oleh DPR

Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi I Kota Cirebon, Khaerunisa, akhirnya memberikan pernyataan terkait kondisi asrama yang menjadi sorotan dari anggota DPR. Ia mengakui adanya ranjang reot di asrama dan menjelaskan bahwa pihak sekolah telah melakukan langkah sementara dengan mengikat ranjang tersebut menggunakan kawat.

“Terkait ranjang reot yang berada di asrama, kami sudah melakukan upaya sementara dengan mengikat ranjang tersebut dengan kawat,” ujarnya saat dimintai tanggapan.

Menurut Khaerunisa, tindakan tersebut dilakukan sebagai langkah sementara sambil menunggu penguatan struktur ranjang dengan plat besi agar lebih kokoh dan aman digunakan siswa. Ia menyebutkan bahwa pihak sekolah telah merencanakan untuk memasang plat besi tersebut saat kepulangan siswa awal Ramadan nanti.

“Kami sudah berencana akan memasang plat besi supaya kokoh saat kepulangan siswa awal Ramadan ini agar prosesnya lebih aman dan tidak mengganggu aktivitas anak-anak,” katanya.

Ia menegaskan bahwa keselamatan siswa menjadi prioritas utama dalam pengelolaan asrama. Khaerunisa menjelaskan bahwa kondisi ranjang yang penyok disebabkan oleh aktivitas siswa yang cukup dinamis. Siswa sering kali melompat ke ranjang teman atau bercanda beramai-ramai di atas satu ranjang.

Baca Juga:  Timnas U19 : Laporan Pertandingan: Indonesia U-19 1-1 Myanmar U-19

“Kami selalu mengedepankan keselamatan siswa-siswi kami. Ranjang reot memang karena siswa kami yang sangat aktif seperti melompat ke ranjang teman atau bercanda beramai-ramai di atas satu ranjang,” jelas dia.

Pihak sekolah, lanjutnya, terus melakukan pembinaan agar siswa lebih tertib dan menjaga fasilitas bersama. “Kami berusaha terus membina kebiasaan siswa kami agar lebih tertib dan aman di asrama. Sesuai dengan nilai-nilai sekolah kami yaitu: be safe, be respectful, be responsible,” katanya.

Terkait keterbatasan kamar mandi yang juga menjadi sorotan, Khaerunisa memastikan bahwa pihak sekolah telah melakukan langkah lanjutan. “Kami sudah mengajukan dan sudah ada rencana penambahan,” ujarnya singkat.

Sekolah Rakyat di Kota Cirebon menerapkan sistem asrama (boarding school) bagi siswa dari keluarga kurang mampu. Seluruh kebutuhan dasar seperti tempat tinggal, seragam, buku, dan fasilitas pendidikan disediakan secara gratis sebagai bagian dari program nasional pemerataan akses pendidikan.

Temuan Anggota DPR

Sebelumnya, diberitakan bahwa ranjang besi yang penyok dan antrean mandi sejak pukul 03.00 menjadi temuan Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Selly Andriany Gantina, saat meninjau fasilitas Sekolah Rakyat di Kota Cirebon, Jumat (13/2/2026).

Baca Juga:  Warga Desa Situdaun Dan Murid SMP PGRI Cikupa Divaksin SINOVAC

“Kami meninjau sarana dan fasilitas Sekolah Rakyat di Kota Cirebon,” ujar Selly kepada media. Legislator dari Daerah Pemilihan Jawa Barat VIII yang meliputi Kota dan Kabupaten Cirebon serta Indramayu itu mengaku prihatin karena kondisi di lapangan dinilai belum sepenuhnya selaras dengan visi Presiden Prabowo Subianto, baik dari sisi aturan maupun pelaksanaan Standar Operasional Prosedur (SOP).

“Ada beberapa catatan yang harusnya bisa ditingkatkan serta dilengkapi,” ucapnya.

Sekolah Rakyat tersebut beroperasi di kompleks SMP Negeri 18 Kota Cirebon, Jalan Pronggol, Kelurahan Pegambiran, Kecamatan Lemahwungkuk. Saat mengecek asrama, Selly menemukan ranjang bertingkat dengan kondisi besi yang tampak penyok dan dinilai berpotensi membahayakan siswa.

“Saat saya mengecek kamar, saya lihat kondisi ranjang dengan besi yang penyok. Saya khawatir ranjang tingkat itu tidak kokoh hingga menimpa anak di bawah,” jelasnya.

Tak hanya itu, keterbatasan kamar mandi juga menjadi perhatian. Dari sekitar 100 siswa tingkat SD dan SMP yang tinggal di asrama, hanya tersedia tiga kamar mandi yang digunakan bersama oleh siswa laki-laki dan perempuan.

Baca Juga:  Komisi VI Buka Rincian Pertemuan dengan Menteri BUMN dan CEO Danantara

“Guru di sana bercerita anak-anak harus mengantri mandi sejak pukul 3 pagi,” katanya.

Seluruh temuan tersebut, lanjut Selly, akan dibawanya dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Kementerian Sosial untuk ditindaklanjuti.

“Semua temuan itu akan saya sampaikan saat RDPU dengan Kemensos. Bagaimanapun perbaikan yang ada akan saya kawal untuk masyarakat Kota Cirebon lebih baik,” ujarnya.