Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 108 kali gempa terjadi di wilayah Jawa Barat selama bulan Februari 2026. Mayoritas dari gempa-gempa tersebut berasal dari kedalaman yang relatif dangkal. “Dari total kejadian gempa, sebanyak 93 kejadian berasal dari kedalaman kurang dari 60 kilometer,” ujar Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung Teguh Rahayu dalam keterangannya, Ahad, 1 Maret 2026.
Selain itu, terdapat 15 gempa lainnya yang termasuk dalam kategori menengah, dengan kedalaman berkisar antara 60 hingga 300 kilometer. Dari sisi kekuatan gempa, magnitudo terbesar yang tercatat adalah 6,4, sedangkan magnitudo terkecil hanya 0,9. “Berdasarkan lokasi hiposenternya, sebanyak 58 kejadian gempa berpusat di laut selatan Jawa, sementara 50 kejadian lainnya berada di daratan,” tambah Rahayu.
Meskipun jumlah gempa cukup tinggi, tidak semua gempa dirasakan oleh masyarakat. BMKG mencatat hanya tujuh kali gempa pada Februari yang dirasakan oleh penduduk. Salah satu contohnya adalah gempa yang terjadi pada 6 Februari pukul 13.45 WIB. Gempa ini berpusat di titik koordinat 6,87 derajat Lintang Selatan dan 107,74 derajat Bujur Timur. Gempa dengan kedalaman 13 kilometer ini memiliki magnitudo 3,0. Lokasi gempa berjarak sekitar 20 kilometer arah timur Kota Cimahi, Jawa Barat.
Guncangan gempa dirasakan oleh warga di beberapa daerah seperti Jatinangor, Ciater, Kasomalang, dan Cileunyi. Intensitas gempa mencapai skala II-III MMI. Beberapa orang merasakan getaran, dan benda-benda ringan yang digantung bergoyang. Getaran lindu juga dirasakan oleh warga di dalam rumah, seolah ada truk yang melewati area tersebut.
Perbandingan dengan data jumlah gempa pada Januari 2026 menunjukkan peningkatan. Pada Januari, tercatat sebanyak 97 kali gempa. Mayoritas dari gempa tersebut, yaitu 80 kali, berasal dari kedalaman dangkal (kurang dari 60 kilometer), sementara 16 gempa lainnya termasuk kelompok menengah.
Kegempaan di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya pada Januari kebanyakan berpusat di laut selatan Jawa, sebanyak 62 kejadian. Sementara itu, 35 kejadian gempa lainnya terjadi di daratan. Meski demikian, hanya dua kali gempa yang dirasakan oleh masyarakat.
Beberapa faktor dapat memengaruhi intensitas gempa yang dirasakan oleh penduduk. Misalnya, kedalaman gempa, jarak dari pusat gempa, serta kondisi geografis setempat. Gempa dengan kedalaman dangkal cenderung lebih terasa dibandingkan gempa dengan kedalaman dalam. Selain itu, lokasi permukiman dan struktur bangunan juga memengaruhi seberapa besar dampak gempa terhadap masyarakat.
BMKG terus melakukan pemantauan dan pengumpulan data untuk memberikan informasi akurat mengenai aktivitas gempa di Indonesia. Data ini sangat penting untuk mitigasi bencana dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan risiko gempa. Dengan adanya pemantauan yang baik, diharapkan masyarakat dapat lebih siap menghadapi potensi ancaman gempa bumi.







