Konflik Timur Tengah Ancam Krisis Pangan Global

by -13 views
Konflik Timur Tengah Ancam Krisis Pangan Global



JABARMEDIA.CO.ID – JAKARTA.

Ancaman krisis pangan global kembali menjadi perhatian serius di seluruh dunia. Laporan terbaru dari World Food Programme (WFP) menunjukkan bahwa eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi memicu lonjakan jumlah penduduk yang mengalami kelaparan akut hingga mencapai level rekor pada 2026.

Jika konflik berkepanjangan dan harga energi tetap tinggi, diperkirakan sekitar 45 juta orang tambahan akan menghadapi kondisi rawan pangan akut. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman krisis pangan bukan lagi sekadar isu jangka pendek, melainkan masalah yang memerlukan langkah-langkah strategis secara global.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa dunia saat ini memang sedang menghadapi tantangan serius dalam hal keamanan pangan. Ia menegaskan bahwa setiap negara harus memperkuat ketahanan pangan mereka untuk menghadapi situasi yang semakin tidak pasti.

“Karena itu setiap negara harus memperkuat ketahanan pangannya,” ujar Amran, Minggu (22/3).

Menurutnya, beberapa faktor seperti kenaikan harga energi, gangguan jalur pelayaran internasional, serta meningkatnya biaya logistik bisa memicu inflasi pangan global. Hal ini mirip dengan yang terjadi saat perang Rusia-Ukraina pada 2022, yang sempat mengganggu pasokan pangan global.

Baca Juga:  6 kuliner legendaris Salatiga untuk libur Lebaran 2026

Dampak konflik tidak hanya dirasakan oleh wilayah yang terlibat langsung dalam perang, tetapi juga merambat ke seluruh dunia melalui rantai pasok global. Negara-negara yang bergantung pada impor pangan menjadi paling rentan menghadapi lonjakan harga dan kelangkaan pasokan.

“Kalau terjadi krisis global, terlebih permasalahan geopolitik dari Iran versus Amerika dan Israel, yang paling aman adalah negara yang bisa memproduksi pangannya sendiri. Itu sebabnya kita harus memperkuat produksi dalam negeri,” kata Amran.

Pemerintah Indonesia, menurut Amran, telah melakukan berbagai upaya untuk membangun ketahanan pangan melalui pembangunan pertanian yang bertujuan meningkatkan produksi pangan. Hasilnya, klaim Amran, produksi beras nasional mengalami surplus, mencapai sekitar 34,7 juta ton atau naik sekitar 13% dibanding tahun sebelumnya.

Selain itu, cadangan beras pemerintah (CBP) mencapai lebih dari 4 juta ton. Angka ini menunjukkan bahwa pemerintah sudah melakukan persiapan yang cukup baik dalam menghadapi potensi krisis pangan.

Melihat hasil tersebut, Amran menyatakan optimisme bahwa CBP dapat terus ditingkatkan dalam bulan-bulan berikutnya. Ini merupakan langkah penting untuk memastikan ketersediaan pangan yang cukup bagi masyarakat, terutama dalam situasi yang masih penuh ketidakpastian.

Baca Juga:  Ridwan Kamil di Mata Inneke Koes Herawati

Beberapa langkah yang dilakukan pemerintah antara lain:

Peningkatan produksi pertanian melalui program-program peningkatan produktivitas dan teknologi pertanian modern.

Penguatan sistem distribusi pangan agar lebih efisien dan cepat sampai ke tangan masyarakat.

* Pemantauan dan pengendalian harga pangan untuk mencegah inflasi yang berlebihan.

Dengan terus memperkuat ketahanan pangan, Indonesia diharapkan bisa menjadi contoh bagi negara-negara lain dalam menghadapi ancaman krisis pangan global.