Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI kembali digelar pada tahun ini, berlangsung dari tanggal 25 Februari hingga 3 Maret 2026. Perhelatan yang telah berjalan selama lebih dari dua dekade ini diadakan di Kampung Pecinan Ketandan, yang terletak di ruas Jalan Malioboro Yogyakarta. Kegiatan tahunan ini kembali mengubah kawasan tersebut menjadi pusat perayaan akulturasi budaya selama sepekan penuh, dengan penerangan lampion dan aneka jajanan yang menarik.
Dalam pantauan, terdapat beberapa area yang membedakan jenis kuliner yang disajikan. Di sisi paling utara, terdapat kuliner nonhalal yang diberi penanda khusus seperti “Porker” dan “Pork Station”, yang menunjukkan bahwa makanan di area tersebut mengandung bahan babi. Sementara itu, sisi timur, barat, dan selatan diisi oleh berbagai jenis kuliner halal, termasuk jajanan khas Nusantara, Asia, dan Eropa.
Perayaan ini dibuka langsung oleh Raja Keraton yang juga Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa di Kampung Ketandan, lorong-lorong kampung tua yang sarat sejarah menjadi tempat untuk menyaksikan bagaimana masyarakat diajak menyapa masa lalu, menata masa kini, dan mengirim pesan ke masa depan.
Sultan menjelaskan bahwa PBTY tidak hanya sekadar event hiburan yang masuk dalam kalender wisata, tetapi juga menjadi momentum perjumpaan nilai antara kebijaksanaan Tiongkok melalui konsep Yin dan Yang dengan falsafah Jawa Hamemayu Hayuning Bawana. Kedua nilai ini, menurutnya, terus bertemu dalam satu pesan yang sama, yaitu bahwa keseimbangan adalah fondasi peradaban, terutama saat memasuki Tahun Kuda Api yang melambangkan daya gerak dan transformasi.
Ia juga mengingatkan bahwa energi perubahan harus diarahkan dengan bijaksana, mirip dengan watak rèh dan ririh dalam laku Jawa yang mengedepankan kesabaran agar semangat tetap terjaga tanpa menjadi destruktif. Dua nilai moral dari bahasa yang berbeda ini, kata Sultan, bertemu dalam satu pesan yang sama, bahwa keseimbangan adalah fondasi peradaban.
Kekhasan PBTY tahun ini semakin bermakna karena berlangsung dalam suasana Ramadan. Hal ini membuktikan bahwa kebudayaan dan ketakwaan dapat berjalan beriringan melalui hadirnya tausiah, berbagi takjil, dan kegiatan kebersamaan lainnya di tengah laku menahan hawa nafsu.
PBTY juga menjadi wadah akulturasi budaya yang penting. Salah satunya adalah Wayang Potehi, yang menjadi bukti bahwa peradaban besar lahir dari kemampuan merawat perbedaan. Acara ini juga menggerakkan ekonomi kerakyatan melalui kehadiran 120 pelaku UMKM, pedagang kuliner, perajin, dan seniman yang mendapatkan ruang berkarya.
Ketua Umum Panitia PBTY XXI Tahun 2026, Jimmy Sutanto, menegaskan bahwa posisi PBTY kini telah bergeser dari sekadar perayaan budaya menjadi simbol harmoni dan semangat kebersamaan Yogyakarta sebagai City of Tolerance. Mengusung tema Warisan Budaya Kekuatan Bangsa, event kali ini telah menyiapkan rangkaian acara menarik, termasuk Malioboro Imlek Carnival pada 28 Maret 2026 yang akan menampilkan kolaborasi seni Tionghoa dan budaya lokal sejauh 1,8 kilometer dari Gedung DPRD DIY hingga Titik Nol Kilometer.
Jimmy berharap kegiatan ini dapat menjadi pengingat bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk bersatu, melainkan kekuatan untuk saling melengkapi.







