Dampak Gempa Bogor M3,5 dan M4,1: Ratusan Rumah Rusak, BMKG Turun Tangan

by -37 views
Dampak Gempa Bogor M3,5 dan M4,1: Ratusan Rumah Rusak, BMKG Turun Tangan

JABARMEDIA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah melakukan survei lapangan untuk memverifikasi dampak dua kejadian gempa Bogor yang mengguncang wilayah Jawa Barat pada 15 Oktober 2026. Berdasarkan data yang dihimpun, gempa tersebut mengakibatkan kerusakan pada ratusan rumah dan beberapa fasilitas ibadah di Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi. Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa gempa pertama terjadi pada pukul 17.49.43 WIB dengan magnitudo M3,5, diikuti gempa kedua pada pukul 17.58.23 WIB dengan magnitudo M4,1.

Kedua gempa ini tergolong gempa dangkal, masing-masing pada kedalaman 9 km dan 5 km.

“Berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, kedua gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang diduga dipicu oleh aktivitas sesar aktif,” kata Ayu pada Sabtu (17/10).

Hasil monitoring BMKG mencatat setidaknya 11 kali kejadian gempa susulan (after shock) setelah kedua gempa utama tersebut, dengan magnitudo berkisar M1,6–M2,6. Dua kejadian di antaranya dirasakan oleh masyarakat. BMKG terus memantau perkembangan aktivitas kegempaan untuk memperoleh informasi terkini mengenai kondisi wilayah terdampak.

Dampak dan Intensitas Guncangan Gempa

Lebih lanjut, guncangan gempa dirasakan di sejumlah wilayah dengan intensitas yang berbeda. Intensitas IV MMI dilaporkan di Pamijahan dan Kabandungan. Sementara itu, intensitas III MMI dirasakan di Kalapanunggal, Leuwiliang, Cipeuteuy, Lengkong, dan Parakansalak. Adapun intensitas II MMI dilaporkan di Palabuhanratu, Pabuaran, dan Cicantayan. Perbedaan intensitas ini menunjukkan variasi dampak guncangan di berbagai lokasi. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami potensi risiko di wilayah masing-masing.

Baca Juga:  Pria yang Pura-pura Tertabrak Mobil di Cirebon Ngeles di Depan Polisi: Salah Sasaran,Mobilnya Mirip

Kerusakan di Kabupaten Bogor dan Sukabumi

Data dari BPBD Kabupaten Bogor mencatat 253 rumah dan 5 fasilitas ibadah terdampak gempa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 222 rumah mengalami rusak ringan, 25 rumah rusak sedang, dan 6 rumah rusak berat. Kerusakan ini tersebar di tiga desa, yakni Desa Purasari di Kecamatan Leuwiliang serta Desa Cibunian dan Desa Purwabakti di Kecamatan Pamijahan. Di Desa Purasari, petugas mencatat 55 rumah rusak ringan, 13 rumah rusak sedang, dan 3 rumah rusak berat. Desa Cibunian melaporkan 70 rumah rusak ringan dan 6 rumah rusak sedang, ditambah 2 fasilitas ibadah rusak ringan. Sementara itu, Desa Purwabakti mencatat 97 rumah rusak ringan, 6 rumah rusak sedang, dan 3 rumah rusak berat, serta 3 fasilitas ibadah rusak ringan. Dampak gempa juga menyebabkan satu orang mengalami luka ringan, yang telah ditangani di klinik.

Di sisi lain, Kepala Stasiun Geofisika Sukabumi, Agung Sabtaji, menyampaikan bahwa gempa juga berdampak pada masyarakat di Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi. Berdasarkan data dari BPBD Kabupaten Sukabumi, tercatat 96 rumah mengalami kerusakan ringan, dengan 106 kepala keluarga (KK) atau 381 jiwa terdampak. Kerusakan ini tersebar di empat desa: Desa Kabandungan (84 rumah rusak ringan, 94 KK/333 jiwa), Desa Tugubandung (9 rumah rusak ringan, 9 KK/33 jiwa), Desa Cihamerang (2 rumah rusak ringan, 2 KK/10 jiwa), dan Desa Mekarjaya (1 rumah rusak ringan, 1 KK/5 jiwa).

Baca Juga:  Perluasan Program Bantuan Pangan Non Tunai Menjawab Keresahan Warga

“Berdasarkan laporan kecamatan yang dihimpun, seluruh kerusakan rumah di wilayah tersebut masuk kategori rusak ringan. Laporan tersebut juga tidak mencatat adanya korban meninggal dunia maupun korban luka-luka,” ujarnya. Informasi mengenai gempa bumi terkini di Jawa Barat selalu menjadi perhatian serius.

Imbauan dan Verifikasi BMKG Pasca-Gempa

Ayu menegaskan bahwa sejak 16 Oktober 2026, BMKG telah melakukan survei lapangan untuk memverifikasi laporan kerusakan dan memeriksa kondisi bangunan di wilayah terdampak. Kegiatan ini bertujuan memperoleh gambaran aktual mengenai dampak guncangan gempa terhadap bangunan dan masyarakat. Tim survei menghimpun informasi lapangan untuk melengkapi hasil pemantauan aktivitas kegempaan.

Verifikasi ini juga membantu memastikan data kerusakan sesuai dengan kondisi aktual. Sehingga dapat menjadi bahan evaluasi bagi pihak terkait dalam penanganan dampak gempa. BMKG terus memantau aktivitas kegempaan di wilayah Bogor dan sekitarnya. Serta berkoordinasi secara intensif dengan BPBD, Basarnas, dan pemangku kepentingan terkait untuk menghimpun data yang akurat.

BMKG memanfaatkan hasil pemantauan dan survei lapangan untuk menyampaikan informasi yang akurat kepada masyarakat serta mendukung koordinasi penanganan dampak gempa. Masyarakat juga perlu memahami bahwa gempa dangkal seringkali disebabkan oleh aktivitas sesar aktif.

Baca Juga:  <!--:IN-->Kebakaran di Cijerah Bandung, Rugi Rp20 M<!--:-->

BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Masyarakat juga perlu memeriksa kondisi bangunan sebelum kembali beraktivitas di dalamnya. Terutama apabila menemukan retakan atau kerusakan yang berpotensi membahayakan keselamatan.

“Apabila bangunan menunjukkan kerusakan yang mengkhawatirkan, masyarakat disarankan menghindari area tersebut dan meminta pemeriksaan dari petugas yang berwenang. Masyarakat juga diharapkan mengikuti arahan pemerintah daerah dan petugas di lapangan,” tegas Ayu.

Untuk memperoleh informasi resmi mengenai aktivitas gempa bumi, masyarakat dapat mengakses kanal komunikasi BMKG dan diharapkan mengikuti arahan pemerintah daerah. BMKG mengingatkan masyarakat agar selalu mengutamakan keselamatan dan menjadikan informasi resmi sebagai rujukan dalam menyikapi perkembangan aktivitas kegempaan.

No More Posts Available.

No more pages to load.