Es Krim Rasa Genosida, Israel Hapus Unggahan Promosi Produk Ben & Jerry’s
Akun resmi pemerintah Israel di platform X menghapus unggahan yang mempromosikan varian es krim eksklusif dari Ben & Jerry’s Israel setelah mendapat banyak kritik dari pengguna media sosial. Unggahan tersebut menyoroti rasa Milk and Honey, yang hanya tersedia di Israel, dan disebut sebagai “es krim resmi” negara tersebut.
Promosi produk ini diluncurkan untuk mendukung komunitas di wilayah Israel selatan. Susu dan krimnya berasal dari peternakan sapi perah di Kibbutz Alumim, madu dari Kibbutz Yad Mordechai, serta potongan cokelat berbentuk Bintang Daud yang diproduksi di sebuah pabrik di Beersheba. Namun, kampanye ini segera menuai reaksi keras di media sosial.
Banyak pengguna X mengaitkan promosi tersebut dengan krisis kemanusiaan di Jalur Gaza. Beberapa warganet menyunting kemasan produk dengan tulisan “Genocidaires’ Delight”, sementara yang lain menyindirnya dengan komentar seperti “tastes like genocide” atau “rasanya seperti genosida”. Istilah-istilah ini bukan berasal dari pihak Ben & Jerry’s maupun pemerintah Israel, tetapi menjadi bentuk kritik terhadap kebijakan yang dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Gelombang kritik ini muncul di tengah meningkatnya perhatian internasional terhadap konflik Gaza. Pekan ini, sebuah komisi PBB merilis laporan yang menuduh Israel melakukan pelanggaran berat terhadap anak-anak Palestina di Gaza. Israel secara tegas menolak tuduhan tersebut dan membantah adanya genosida atau kejahatan perang.
Perbedaan Sikap Antara Ben & Jerry’s Israel dan Global
Kontroversi ini juga menyoroti perbedaan sikap antara Ben & Jerry’s Israel dan merek global mereka. Ben & Jerry’s Israel beroperasi secara terpisah dari perusahaan induk di Amerika Serikat. Struktur ini dibentuk setelah Unilever menjual hak usaha lokal kepada pemegang lisensi Israel, Avi Zinger, pada 2022.
Kesepakatan ini memungkinkan penjualan produk di seluruh Israel serta Tepi Barat yang diduduki. Langkah ini diambil setelah dewan independen Ben & Jerry’s pada 2021 memutuskan untuk menghentikan penjualan di wilayah Palestina yang diduduki, karena dianggap bertentangan dengan nilai-nilai perusahaan.
Keputusan ini memicu perselisihan antara Unilever, dewan independen, dan pendiri perusahaan. Pendiri Ben & Jerry’s, Ben Cohen dan Jerry Greenfield, dikenal aktif dalam mendukung hak-hak rakyat Palestina dan mengkritik operasi militer Israel di Gaza. Tahun lalu, Cohen juga mengumumkan rencana meluncurkan varian es krim rasa semangka sebagai kampanye perdamaian untuk Palestina, sambil menuduh Unilever pernah menghalangi inisiatif serupa.
Reaksi Publik dan Kritik Media Sosial
Dalam beberapa hari terakhir, unggahan promosi Ben & Jerry’s Israel telah menjadi sorotan utama di media sosial. Pengguna X membanjiri akun resmi pemerintah Israel dengan komentar yang mengecam kampanye tersebut. Banyak dari mereka menganggap bahwa promosi es krim ini tidak pantas dalam situasi krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung.
Beberapa netizen bahkan mengunggah gambar yang telah diedit, menambahkan tulisan seperti “Genocidaires’ Delight” atau “Tastes Like Genocide” pada kemasan produk. Ini menjadi simbol protes terhadap kebijakan yang dianggap tidak peduli terhadap kemanusiaan.
Pihak Ben & Jerry’s Israel belum memberikan respons resmi terkait kritik ini. Namun, isu ini telah memperkuat diskusi tentang tanggung jawab perusahaan dalam konteks konflik politik dan kemanusiaan. Sejumlah pengamat mengatakan bahwa bisnis tidak boleh sepenuhnya terlepas dari isu-isu global, terutama ketika berkaitan dengan hak asasi manusia.
Perspektif Internasional
Peristiwa ini juga menarik perhatian dunia internasional. Banyak organisasi hak asasi manusia dan aktivis global mengkritik langkah Ben & Jerry’s Israel, sementara sebagian lainnya menilai bahwa perusahaan harus bebas dari intervensi politik. Namun, kritik terhadap promosi es krim ini menunjukkan bahwa publik tidak lagi bisa mengabaikan hubungan antara bisnis dan isu-isu global.






