Kenapa Menikah dengan Lelaki Kolonial?

by -2 views
buitenzorg
Buitenzorg, Leo de Pagter and Jan Meyer

Sepenggal Kisah dari Kp. Babakan Girang (part 1)

Pada masa Agresi Militer Belanda II, jalan sekitar Bogor belum banyak kendaraan. Jalannya pun masih belum terkena aspal atau masih jalan tanah berdebu. Kendaraan yang melintas hanya kendaraan milik tentara KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger) yang sedang patrol atau konvoi tentara NICA (Netherlands-Indies Civil Administration – Pemerintahan Sipil Hindia Belanda). Tapi, tak jarang kendaraan tentara Indonesia pun melintas di sekitar jalan Bogor.

Saat itu, kondisi keluarga mama H. Nali di kp. Babakan Girang desa Cinangneng Tenjolaya sangat memperihatinkan karena sering mendapat ancaman dari tentara NICA. Maklum mama H. Nali merupakan salah seorang yang ikut terlibat berjuang di daerah Bogor beserta masyarakat yang lain pada masa Agresi Militer Belanda II.

Tak jarang Nyi Hamsyah harus berjalan puluhan kilo dengan membawa anak-anaknya yang masih kecil jika sedang berlawatan ke Bogor.

Di jalan Nyi Hamsyah terbiasa bertemu dengan kendaraan yang melintas milik tentara NICA atau milik tentara pejuang Indonesia.

Jika ternyata kendaran itu milik tentara NICA maka Nyi Hamsyah terus berjalan kaki dengan tenang sambil membawa anak-anaknya, khawatir tentara NICA mengenalinya bahwa ia dan anak-anaknya adalah keluarga H. Nali.

Namun, sekiranya mobil yang melintas itu milik tentara pejuang Indonesia, maka Nyi Hamsyah pun berani menyetop kendaraan itu untuk meminta tumpangan. Tentara pun mengenali Nyi Hamsyah sebagai istri H. Nali, sehingga penumpang di depan mempersilahkan Nyi Hamsyah duduk di depan dengan sopir untuk menghargai istri H. Nali.

Suatu hari rupanya tentara NICA yang sedang konvoi mengetahui melalui mata-mata Belanda bahwa ibu beserta anak yang sedang berjalan kaki itu adalah keluarga H. Nali. Begitu NICA mengetahuinya, Nyi Hamsyah dan anak-anaknya pun diangkut ke mobil NICA dan di bawa ke markas Belanda di Bogor untuk dijadikan sandera.

Setelah beberapa hari dalam penyanderaan di markas Belanda, ternyata salah seorang atasan Belanda di Bogor bernama Mr. Jhon memiliki istri berasal dari daerah yang sama dengan Nyi Hamsyah di Cinangneng Bogor. Istri Mr Jhon itu bernama ibu Amas yang mengenali Nyi Hamsyah karena istri salah seorang pejuang nasional di daerahnya.

Ketika ibu Amas mengetahui bahwa Nyi Hamsyah berada dalam penyanderaan, Ibu Amas meminta kepada suaminya untuk membebaskan Nyi Hamsyah dengan alasan tentara NICA telah salah tangkap orang. Nyi Hamsyah pun diakuinya sebagai saudaranya sendiri.

Mendengar permohonan sang istri, Mr. Jhon pun mengabulkan permohonannya dengan membebaskan Nyi Hamsyah dan anak-anaknya dari penyanderaan NICA di markasnya.

Itulah salah satu alasan pengakuan ibu Amas menikah dengan Mr. Jhon atasan Belanda di Bogor untuk melepaskan para sandera dalam memperjuangankan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Sebagaimana diketahui bahwa setelah kemerdekaan Indonesia di proklamasikan pada 17 Agustus 1945. Perjuangan bangsa Indonesia tidak hanya sampai pada titik ini masih banyak gejolak pemberontakan dan konflik terhadap kolonial penjajahan. Salah satunya adalah pendaratan tentara Sekutu yang akan melucuti senjata Jepang yang diikuti kedatangan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) pada tanggal 15 September 1945 yang ingin kembali menjajah Indonesia dengan melakukan Agresi Militer II tanggal 19 Desember 1948.

Akhirnya, setelah diadakannya Konferensi Meja Bundar sebuah pertemuan antara pemerintah Republik Indonesia dan Belanda di Den Haag, Belanda dari 23 Agustus hingga 2 November 1949, Belanda pun mengakui kedaulatan RIS. Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 27 Desember 1949.

Sejak itulah Belanda pulang ke negeri asalnya di Eropa, banyak “tentara-tentara bayaran” yang berasal dari berbagai negara termasuk Indonesia yang dijadikan tentara kerajaan Belanda ikut ke negeri Belanda dan menjadi penduduk Belanda sampai sekarang.

Termasuk di antaranya rakyat yang ikut ke Belanda adalah mereka yang sudah menjadi istri atau para pembantu pada masa pemerintahan Hindia-Belanda. Tapi, ada juga yang tidak ikut ke Belanda karena lebih mencintai tanah airnya Indonesia.

Karena itu, tak heran kalau kita jumpai nenek-nenek di kampung yang usianya sudah melewati masa tua dan pernah hidup di masa penjajahan Belanda sangat pasih dalam berbahasa Belanda.

Seperti halnya emak Iceuh (alm) warga desa Cibitung Tengah Tenjolaya semasa hidupnya pernah menjadi penerjemah bahasa Belanda keluarga emak Asni (alm.) tetangganya, yang memiliki anak berkewarganegaraan Belanda.

Setelah Indonesia merdeka ibu Amas tidak ikut suaminya Mr. Jhon ke negeri Belanda, tetapi memilih untuk tetap tinggal di tanah air Indonesia sebagai tempat kelahirannya sampai akhir hayat.

Penulis

Najmudin Ansorullah SHI., S.Pd.I*