Museum Geologi Pilihan Seru Weekend

by -34 views

Jika memiliki waktu berlibur cukup panjang di Kota Bandung, tidak ada salahnya berkunjung ke Museum Geologi. Sebab di museum tersebut masih menyimpan kerangka Tyranosaurus Rex. Bahkan, museum tersebut tak hanya tempat untuk menyimpan benda antik atau kuno, tetapi berperan sebagai sarana pendidikan, informasi, rekreasi, dan wisata.

Museum Geologi yang didirikan tanggal 16 Mei 1928 di Jalan Diponegoro 57 Bandung ini adalah merupakan museum bersejarah yang menyimmpan materi-materi geologi, seperti fosil, batuan, serta mineral. Museum ini telah mengalami renovasi dan dibuka lagi pada tanggal 23 agustus 2000.

Museum Geologi terbagi dalam beberapa ruang pamer yang terdiri atas 2 lantai. Kurang lebih ada 60.000 koleksi fosil, dan 250.000 koleksi batuan serta mineral. Di museum ini juga ada kerangka tiruan T-Rex (Tyranosaurus Rex) yang dibuat di Kanada pada tahun 1998.

Di museum ini juga terdapat fosil-fosil hewan maupun manusia purba yang ditemukan di tanah air. Para pengunjung juga dapat mempelajari tentang kegiatan di bumi. Seperti mengapa terjadi tanah longsor, gunung meletus, mengapa ada gempa bumi dan pergeseran lapisan bumi.

Selain itu pengunjung akan mengetahui tentang perkembangan sejarah bumi. Hal itu mulai dari pembentukan bumi, hingga munculnya berbagai macam makhluk hidup seperti, dinosaurus, manusia purba, hingga manusia seperti kita saat ini.

Sejarah museum geologi

Museum Geologi Bandung berkaitan erat dengan sejarah penyelidikan geologi, dan pertambangan di Indonesia yang telah dimulai sejak abad ke 17. Untuk mewadahi penyelidikan tersebut pemerintah Belanda membentuk suatu badan yang bernama “Diens van het Mijnwezen” pada tahun 1850. Tahun 1922, lembaga ini berubah menjadi “Diens van het Mijnbouw”. Dalam perkembangannya, lembaga tersebut memerlukan tempat menyimpan hasil analisis dan penyelidikan, sehingga dibangunlah gedung untuk lembaga tersebut yang terletak di Rembradnt Straat (sekarang Jalan Diponegoro Bandung).

Gedung ini dirancang dengan gaya Art Deco oleh Ir. Menalda van Schouvbug, seorang arsitek berkebangsaan Belanda diresmikan pada tanggal 16 Mei 1929 yang bertepatan dengan pembukaan kongres ke-IV Ilmu Pengetahuan Pasifik yang di selenggarakan di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Gedung ini pun di fungsikan sebagai perkantoran yang dilengkapi dengan sarana laboratorium geologi. Ada juga museum untuk menyimpan dan memperagakan hasil penelitian geologi dan kebumian dengan nama “Geologisch Laboratorium”, yang kemudian lebih dikenal dengan “Geologisch Museum”

Museum Geologi tidak lepas dari sejarah perkembangan dunia, saat perang dunia ke-2 sekitar tahun 1941, perkembangan museum terkena dampak langsung. Gedung tersebut dijadikan markas Angkatan Udara oleh Belanda. Sehingga berbagai koleksi dipindahkan ke Gedung Pensioen Fonds (Gedung Dwiwarna) dan tak sedikit koleksi yang rusak maupun hilang.

Sempat terabaikan

Pada masa pendudukan jepang 1942, Museum Geologi difungsikan kembali dengan nama “Kogyo Zimusho”, dan kemudian berganti menjadi “Chisitsu Chosasho”. Namun, pengelolaannya kurang mendapat perhatian, dan terkesan diabaikan. Keadaan seperti ini terus berlangsung selama perang kemerdekaan.

Usai kemerdekaan Republik Indonesia, Museum Geologi mulai bergeliat. Tepatnya pada 22 Februari 1952, saat museum geologi dikelola Djawatan Pertambangan Republik Indonesia. Namun penataan secara meyeluruh baru dilakukan pada tahun 1998, melalui kerjasama pemerintah RI dengan Jepang. Museum Geologi pun sempat ditutup hingga tahun 2000. Baru pada Agustus 2000 Museum Geologi kembali dibuka. Pembukaan secara resmi dilakukan Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri.

Koleksi museum geologi

Museum Geologi Bandung bukan hanya memiliki ratusan ribu batuan dan puluhan ribu fosil purba berumur puluhan jutaan tahun, tetapi juga memiliki koleksi langka yang tidak dimiliki museum lain di dunia seperti museum di Amerika atau di Eropa. Museum Geologi memiliki berbagai fosil hewan bertulang belakang (vertebrata) yang berasal dari Indonesia.

Fosil-fosil tersebutdi antaranya fosil gajah purba “inomastodon bumiayuensis”, gajah purba berumur 1,2 hingga 1,5 juta tahun lalu yang bentuk badannya lebih kecil dan gading lurus. Gajah purba generasi berikutnya “stegodon trigonocephaus” yang hidup sekitar 1 hingga 1,2 juta tahun lalu, dengan ukuran lebih besar dan gadingnya melengkung.

Gajah purba “elephus lysudrindicus” yang hidup sekitar 800 ribu tahun lalu, dengan bentuk badan lebih besar dan gading melengkung serta “elephus maximum” kelompok gajah yang masih ada saat ini. Selain memiliki koleksi fosil gajah purba, Museum Geologi juga memiliki berbagai koleksi hewan purba lainnya, seperti Dinosaurus, yang menguasai daratan pada zaman “Mesozoikum”, jauh sebelum manusia ada. Dinosaurus muncul pada zaman Trias, berkembang pada zaman Jura, dan punah pada zaman Kapur.

museum-geologiKoleksi lainnya adalah Badak Sunda “Rhinoceros Sondaicus”, Kuda Nil “Hippopotamus Simplex”, Kerbau “Bubalus Palaeokeraba” dan kura-kura raksasa “Geochelone Atlasi”. Fosil-fosil ini sebagian besar ditemukan di situs sekitar aliran Bengawan Solo.

Fosil lain yang tak kalah menarik adalah babi rusa “Celebochoerus Heekereni”, Komodo “Varanus Komodoensis”, gajah kerdil “Stagodon Sompoensis, Stegodon Sondari”, dan “Eleephas Celebeensis”, semuanya hidup di luar Palau Jawa.

Berbagai fosil manusia purba juga meghiasi ruang pamer Museum Geologi, di antaranya fosil manusia yang ditemukan di sepanjang aliran Bengawan Solo, yakni fosil “Pithecanthroupus Erectus” yang disebur-sebut sebagai “The Missing Lin” oleh penemunya Eugine Dubois yang melakukan eskavasi tahun 1891-1893.

Pengunjung juga bisa menikmati fosil kekayaan alam Indonesia berupa aneka bebatuan yang disimpan secara terbuka di halaman Gedung Museum Geologi dan diberi nama Taman Situs Batu, yang baru diresmikan sekitar dua bulan lalu. Di taman ini dipamerkan aneka fosil batu, di antaranya fosil batu lumba-lumba asal Kasui, Waykambas, dan Lampung seberat 3,6 ton. Fosil batu Indian Berdoa, berumur 2 sampai 3 juta tahun dan fosil batu tangan, serta fosil evolusi bebatuan.
sumber: disparbud.jabargov.go.id