Rieke “Oneng”: Rakyat Jabar Lebih Berbudaya Dibanding Pemimpinnya

by -16 views
Foto : pikiran-rakyat.com
Foto : pikiran-rakyat.com

Calon gubernur Jawa Barat Rieke Diah Pitaloka menilai rakyat Jabar lebih berbudaya dibanding para pemimpinnya. Itu dibuktikan dari kerja rakyat tradisional yang sangat mempertimbangkan keseimbangan alam, sementara para pemimpin membuat kebijakan yang tidak mempertimbangkan keberlangsungan lingkungan yang harmonis.

“Kebudayaan itu adalah tingkah laku manusia untuk mengelola alam secara positif. Kalau negatif itu berarti bukan bagian kebudayaan,” kata Rieke usai acara Dialog Visi-Misi yang dilakukan Badan Musyawarah Sunda Jabar di kampus Universitas Padjadjaran, Jl. Dipatiukur Kota Bandung, Kamis (17/1/13).

Dipaparkannya, contoh kebijakan pemimpin yang tidak berbudaya itu adalah dengan mendatangkan investor sebanyak-banyaknya tapi tidak diatur secara tegas. Selain itu, pelaksanaan pembangunan sering dilakukan dengan merusak alam.

Ia membandingkannya dengan Mbah Eroh yang melakukan kerja kebudayaan dengan membelah bukit untuk mengalirkan air untuk masyarakat setempat. Selain itu, ada pula Tri Mumpuni di Kabupaten Subang yang melakukan kerja kebudayaan dengan mengupayakan penerangan bagi lingkungannya.

Karena itu, ia menyatakan, kebudayaan bukanlah kesenian, melainkan kerja untuk mengelola alam. Sementara, kesenian tradisi sendiri bisa dimanfaatkan sebagai corong informasi yang penting seperti penyadaran antikorupsi, dan lainnya. “Kerja kebudayaan bisa disosialisasikan dengan kesenian tanpa rakyat merasa digurui, dekat dengan pemimpin, dan pemimpin juga tidak merasa sebagai elite,” ujarnya.

Sementara, cagub Ahmad Heryawan mengatakan bahwa kebudayaan dalam bentuk kesenian lokal bisa dilestarikan melalui pendidikan. Selain itu, ia pun masih merencanakan pembangunan gedung kesenian berkapasitas sepuluh ribu orang.

Program itu dikatakannya sudah dirancang sejak 2009 namun belum terealisasi sampai sekarang. Ia beralasan karena faktor lokasi yang harus di perkotaan sehingga seni budaya itu bisa dipertontonkan secara luas.

“Dengan adanya gedung kesenian itu, selain pelestarian kultural yang dilakukan secara struktural dan juga pengembangan industri seni budaya,” tuturnya. Dengan cara itu, kesenian akan terpelihara dan pelaku budaya pun bisa dihargai secara layak dari sisi ekonomi.

Diskusi itu hanya dihadiri Heryawan, Rieke, dan cawagubnya Teten Masduki. Ketiga pasang calon lainnya tidak ada yang hadir. Diskusi itu dipandu oleh tiga panelis yaitu Hawe Setiawan, Endang Caturwati, dan Atip Latifulhayat.

Menurut Ketua Bamus Sunda Jabar Indra Perwira, diskusi itu digelar untuk melihat kesiapan para calon dan gagasan mereka terkait strategi kebudayaan. “Pembangunan itu jangan dipandang hanya fisik, tapi juga membangun manusianya,” tuturnya.

Diskusi itu, kata dia, tidak diakhiri dengan kontrak politik mengenai konsep kebudayaan para calon yang hadir. Diskusi itu ditujukan memberikan ruang bagi publik untuk menilai lebih objektif. Bamus Sunda pun tetap tidak akan mengarahkan dukungan pada salah satu calon karena hak politik itu bersifat individu. (A-160/A-108)***

Sumber : pikiran-rakyat.com