Keliling Kampung Adat untuk Teliti Filosofi Iket

by -47 views
foto:tripadvisor.com
foto:tripadvisor.com

Iket saat ini semakin populer di masyarakat perkotaan, tidak hanya orang tua, anak muda pun tak segan untuk menggunakan tutup kepala dari kain tersebut. Iket jugalah yang membuat Mochamad Asep Hadian Adipraja penasaran.

Sejak 2006, Asep mendalami berbagai informasi tentang iket. Dari kajiannya tersebut dia baru menemukan bahwa sekitar 26 pola iket di berbagai kampung adat di Jawa Barat. “Mulai dari pola iket baheula (zaman dulu) hingga pola iket kiwari(saat ini) ada di kampung adat. Ada yang ditemukan nama dan pola ikatannya, ada pula hanya berupa nama. Ada yang berupa pola ikatan namun tidak diketahui nama pola tersebut,” ungkap Asep kepada KORAN SINDO, belum lama ini.

Alumnus Sekolah Tinggi Inten Jurusan Arsitektur ini juga menciptakan beberapa pola iket. Awalnya anak pertama dari empat bersaudara ini tidak memiliki ketertarikan khusus, namun setelah mengunjungi kampung halamannya di Kampung Adat Cikondang, Banjaran, Kabupaten Bandung, ketertarikannya pun mulai muncul. “Waktu itu, saya lihat foto buyut saya pakai iket dan baju adat. Dari situ saya penasaran dan banyak bertanya mulai ke nenek hingga ke sesepuh yang ada di lembur(kampung halaman). Tapi saya enggakpuas dengan jawabannya. Jadi saya mencari sendiri,” tutur Asep.

Secara Asep pun pergi ke beberapa kampung adat untuk mendalami iket, seperti Kampung Naga, Kampung Dukuh, Kampung Pulo, Kampung Cirendeu, Kampung Ciptagelar, Kanekes Luar dan Kanekes Dalam, dan Rancakalong Sumedang. “Sebenarnya masih banyak yang belum saya kunjungi karena memang membutuhkan waktu yang cukup panjang,” ucapnya. Dari perjalanan itulah Asep mendapat jawaban dari apa yang membuatnya penasaran.

Semula hasil kajiannya ke kampung adat itu hanya untuk konsumsi pribadi, namun lama-kelamaan banyak teman yang juga memiliki ketertarikan sama hingga menjadi penelitian bersama mulai dari rupa-rupa pola iket, sejarah, dan filosofinya.

“Banyak orang yang ahli di bidangnya, seperti mainan tradisional, kujang, dan sejarah. Tapi apa yang bisa saya kontribusikan merupakan hasil saya sendiri. Kalau saya hanya ngikutin saja enggakada kepuasan, sehingga saya khususkan pada iket. Saya akan mencari terus selama saya mampu,” ungkap arsitek ini.

“Semakin banyak orang yang menggunakan iket itu sangat positif. Saya berharap lewat iket bisa membuat orang tahu dan cinta serta kenal pada jati dirinya. Dan orang yang berasal dari kampung juga tidak malu karena ternyata banyak nilai-nilai budayanya yang membanggakan,” tutur Asep. MASITA ULFAH Kota Bandung

sumber:koran-sindo.com