Masih Ada Pedagang di Kosambi Jual Kikil Mengandung Zat Berbahaya

by -29 views

kosambiDinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan KP) Kota Bandung menemukan kikil berbahaya di Pasar Kosambi saat inspeksi mendadak (sidak), Senin (26/1).
Kepala Distan KP Kota Bandung, Elly Wasliah mengatakan, sidak ke pasar terkait kikil yang dikhawatirkan mengandung zat berbahaya yang sudah digerebek kepolisian.
“Tim Distan sidak ke dua pasar di Kota Bandung, pasar Kiaracondong dan Kosambi. Hasilnya, di Kiaracondong nihil tapi di Kosambi ada 7 kilogram kikil mengandung H2O2 (hidrogen perioksida),” ujar Elly.
Menurut Elly di Kiaracondong pedagang kikil mengolah sendiri kulit sapi atau kikil sehingga tidak menggunakan bahan berbahaya..
Sementara pemeriksaan di pasar Kosambi, petugas menemukan adanya kikil yang dijual pedagang yang terindikasi menggunakan zat berbahaya. Kurang lebih 7 kilogram kikil.
“Pedagang kikil di Kosambi membeli kikil di Pasar Ciroyom terindikasi mengandung H202. Zat ini biasa digunakan untuk pemutih, namun tidak diperkenankan untuk digunakan pada makanan,” ujar Elly.
Elly mengatakan, 7 kilogram kikil yang terindikasi mengandung zat berbahaya, berasal dari 3 pedagang dan sudah disarankan tidak dijual.
“Kikil berbahaya terbagi lima kilogram kikil dari bagian kaki, dan 2 kilogram dari bagian badan. Kikil tersebut kami larang untuk dijual,” ujar Elly.
Elly mengatakan kemungkinan, kikil berbahaya ini dipasok dari pabrik pengolahan kikil di Lembang yang beberapa hari lalu digerebek pihak kepolisian. “Bisa jadi ini pasokan dari Lembang, sisa-sisa yang kemarin kemarin karena kan bisa disimpen lama,” tandas Elly.
Kikil yang teridikasi tersebut, aku Elly, tidak sita karena saat sidak dilakukan pihaknya tidak bersama PPNS (penyidik pegawai negeri sipil).
Karena tak membawa PPNS, maka pihaknya hanya memberikan pembinaan pada penjual kikil tersebut agar mereka hati-hati saat memilih dan membeli kilil. Secara kasat mata, kikil yang berbahaya bisa dilihat dari warnanya yang putih dan licin. “Kami lakukan pembinaan, mereka kan cuma penjual, enggak tahu kalau dalam proses pengolahannya ada semacam penyalahgunaan bahan berbahaya,” ujar Elly. (jabar.tribunnews.com)