Bandung Macet, Benahi Parkir Liar, Angkot Ngetem dan Pasar

by -6 views

bandungPengamat Transportasi dari ITB, Ofyar Tamim menilai salah satu faktor penyebab terjadinya kemacetan di Kota Bandung yaitu tingginya orang luar kota masuk ke Kota Bandung.

“Kota Bandung ini dalam waktu liburan dia punya daya tarik wisata. Itu satu sisi, tapi sisi lainnya jaringan jalan kita sangat terbatas,” ujar Ofyar kepada “GM”.

Soal jaringan jalan ini, Ofyar menyebut di Kota Bandung masih sangat terbatas. Di tengah keterbatasan, posisi jaringan jalan juga tak beroperasi sebagaimana mestinya.

“Misalnya jaringan jalan butuh 10-30 persen. Tapi sekarang dari 10-30 itu, kita hanya mampu 4 persen. Itu yang ‎​ada. Sedangkan yang beroperasi, dari 4 persen itu hanya 1,5 persen. Karena apa? Banyak sebabnya, seperti on street parking (parkir di badan jalan), angkot ngetem dan adanya beberapa kegiatan pasar yang mengganggu lalu lintas,” jelasnya.

Ironis, kata Ofyar, hingga saat ini jaringan jangan yang 4 persen itu tak bisa dimanfaatkan dengan baik. Idealnya, bisa mengejar sampai 10 persen itu sudah sangat baik. Tapi ia meminta agar target tak muluk-muluk, bisa sampai 6-7 persen pun sudah hal yang luar biasa.

“Tolong lah kembalikan dulu saja yang 1,5 persen. Caranya? Bisa dengan menata parkir, tata lahan yang sebelah kanan-kiri jalan,” ujarnya.

Ofyar menilai pemerintah sudah melakukan banyak upaya untuk menata transportasi di Kota Bandung. Akan tetapi, masalah yang sekarang timbul bukan sematas teknis melainkan non teknis. Ofyar menyebut faktor kesadaran atau perilaku masyarakat masih sangat rendah. Salah satu contoh, masih minimnya masyarakat yang menggunakan sarana transportasi massal.

“Angkot ngetem di perempatan juga termasuk faktor non teknis. Itu berkaitan dengan perilaku. Mungkin akan berbeda kondisinya jika angkot berhenti pada tempatnya,” katanya.
Coverage
Ofyar menyebut, pemerintah saat ini harus bergerak total dalam memperbaiki angkutan umum sehingga nantinya orang akan bergerak menggunakan angkutan umum, tak lagi angkutan pribadi. Namun saat ini, katanya, coverage area angkutan umum di Bandung masih belum optimal.

“Ironisnya, sekarang angkutan umum coverage areanya baru 30 persen (bus dan angkot). Artinya yang 70 persen lainnya itu blank spot dan orang masih menggunakan mobil dan motor pribadi,” ungkap Ofyar.

Pemerintah Kota Bandung, tambah Ofyar, sudah mulai terlihat berupaya dalam menambah coverage area untuk angkutan umum itu. Tak hanya melulu mengurusi angkot dan bus, tapi kini juga sudah mulai merambah pada rencana pembangunan monorail dan kereta gantung. “Ini usaha untuk meningkatkan coverage area tadi. TMB jadi salah satu contohnya,” katanya.

Akan tetapi, lanjut Ofyar, pemecahan masalah itu dampaknya tak bisa dirasakan langsung. Mengatasi masalah transportasi, tak seperti memakan makanan ketika lapar dan langsung kenyang. Butuh waktu panjang, sekitar 5 hingga 25 tahun.

“Itu pun harus konseptual. Intinya apa pun tidak akan pernah kita berhasil kalau coverage area tidak tercakup. Perbaiki publik transpor, kalau ditanya apakah sudah ‎​ada langkah, saya rasa ‎​ada. Tapi dampaknya bisa kita lihat besok. Jangkan menengah dan panjang. Yang kita lakukan sekarang tidak bisa besok dirasakan, tidak bisa seperti Sangkuriang,” kilahnya berseloroh.

(Galamedia)