SMAN 12 Bekasi Menerapkan Kebijakan Kelas dengan Kapasitas Maksimal 50 Siswa
Sekolah Menengah Atas Negeri (SMA) 12 Kota Bekasi mengambil langkah untuk mendukung kebijakan yang dikeluarkan oleh Gubernur Jawa Barat terkait peningkatan kapasitas siswa dalam satu kelas menjadi maksimal 50 orang. Kebijakan ini merupakan bagian dari Program Anti Putus Sekolah (PAPS), yang bertujuan untuk mencegah siswa putus sekolah dan meningkatkan kualitas pendidikan.
Humas SMA 12 Bekasi, Adrianus Dami, menyampaikan bahwa pihak sekolah sangat mendukung kebijakan tersebut. Namun, ia juga menjelaskan bahwa jumlah siswa di setiap kelas tetap disesuaikan dengan ukuran ruang kelas. “Itu tergantung kepada besarnya kelas, misalnya ukuran 8×8 atau 8×9 mungkin bisa 50, tapi kalau kelasnya lebih kecil, 48 dan lebih kecil jadi 46, itu tergantung pada besarnya kelas, karena tidak bisa dipaksakan,” ujarnya.
Adrianus menambahkan bahwa rata-rata ukuran ruang kelas di SMA 12 Bekasi adalah 7×8 meter. Oleh karena itu, penambahan jumlah siswa hanya sampai 48 orang per kelas. “Kami menerapkan penambahan 12 per kelas, yaitu 36 tambah 12 sama dengan 48 per kelas,” jelasnya.
Meski kebijakan ini telah diterapkan sepenuhnya, pihak sekolah tetap menghadapi tantangan terkait efektivitas belajar mengajar. Adrianus mengakui bahwa jumlah siswa yang besar membuat proses pembelajaran kurang efektif. “Kalau dibilang efektif, harus jujur ya kurang efektif, karena siswanya terlalu banyak. Tetapi kami sebagai guru dan sebagai pelayanan masyarakat dan sebagai pendidik bangsa, kami maksimal untuk membuat kelas itu bagaimana anak-anak itu nyaman, sehingga program KBM tetap berjalan dengan baik,” katanya.
Dalam hal fasilitas, saat ini meja dan kursi masih cukup memadai. Namun, Adrianus berharap adanya penambahan AC di setiap ruang kelas, mengingat kondisi cuaca yang semakin panas.
Tantangan dalam Rasio Guru dan Siswa
Ferani, guru Bahasa Indonesia di SMA 12 Bekasi, menyampaikan bahwa rasio guru dan siswa yang terlalu besar menyulitkan pendampingan belajar. “Dengan rasio yang lebih rendah atau lebih kecil itu kan akan lebih membantu pembelajaran. Guru juga akan lebih fokus untuk memperhatikan siswa, membimbing dan membina,” ujarnya.
Ia mengakui bahwa semakin banyak siswa dalam kelas, perhatian guru pun semakin terbagi. “Memang lebih terasa ngajarnya agak pecah fokus. Karena lebih banyak kepala pasti akan lebih banyak pertanyaan,” kata Ferani. Meskipun begitu, ia tetap berupaya agar proses belajar berjalan efisien. “Kalau suasana kelas bisa kondusif, itu sebenarnya masih bisa efisien,” tambahnya.
Pengalaman Siswa dalam Kelas yang Lebih Ramai
Di tengah kelas yang kini diisi hingga 48 siswa, sejumlah siswa justru mengaku menikmati suasana yang lebih ramai. Bagi mereka, kebijakan ini membuka ruang pertemanan baru dan pengalaman belajar yang berbeda.
Rasya Ahmad Arrasyid, siswa kelas X, menyebut kelasnya kini jauh lebih ramai, tapi bukan berarti tidak nyaman. “Dapat teman baru yang unik-unik malah jadi seru, cuma di balik itu semua kita jadi adaptasi gitu,” ujarnya.
Dengan adanya peningkatan kapasitas kelas, SMA 12 Bekasi terus berupaya untuk menjaga kualitas pembelajaran dan kenyamanan siswa. Meskipun ada tantangan, pihak sekolah tetap berkomitmen untuk memberikan layanan pendidikan yang optimal.






