Upaya Konservasi Penyu di Bantul
Tim Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM) melakukan upaya konservasi penyu di Pantai Trisik, Desa Banaran, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Langkah ini dilakukan setelah lokasi konservasi sebelumnya mengalami kerusakan akibat abrasi dan rendahnya tingkat keberhasilan penetasan telur penyu.
“Kami membantu merelokasi Konservasi Penyu Abadi sehingga dapat membantu penetasan kemudian dapat membantu survival rate sehingga dapat menjaga plasma nutfah dari Penyu Lekang yang merupakan Keanekaragaman Hayati,” kata drh. Yudhi Ratna Nugraheni, M.Sc., Ph.D., dosen FKH UGM, Rabu (29/10).
Relokasi Lokasi Konservasi
Tim FKH UGM memindahkan lokasi konservasi ke area tempat pelelangan ikan yang lebih aman dari abrasi, meski dengan fasilitas terbatas. Selain itu, mereka juga mengembangkan sistem pengatur suhu berbasis Internet of Things (IoT).
“Jadi nanti dari rumah pun volunternya bisa mengontrol suhu yang ada di penyuh tersebut,” jelas Yudhi.
Kendala Finansial dan Teknis
Menurut Yudhi, komunitas pengelola konservasi menghadapi kendala finansial karena hanya mengandalkan donasi pengunjung. Rendahnya tingkat penetasan juga disebabkan oleh kurangnya pengetahuan teknis.
“Karena yang pegang bukan orang kesehatan hewan dan tidak berpengalaman dalam konservasi satwa liar,” ujarnya.
Teknologi untuk Meningkatkan Tingkat Kelangsungan Hidup
Melalui teknologi termoregulator, angka kematian tukik diharapkan menurun. Yudhi juga menggandeng Universitas Tidar untuk mengembangkan pupuk organik dari kotoran ternak dengan tambahan jamur Mycorrhiza agar lebih efektif.
Program yang Terintegrasi
Program ini tidak hanya fokus pada konservasi, tetapi juga pemberdayaan ekonomi dan mitigasi abrasi melalui penanaman pandan laut dan mangrove.
“Program ini mengintegrasikan pelestarian lingkungan dan peningkatan ekonomi masyarakat pesisir,” pungkas Yudhi.
Pendekatan Holistik dalam Konservasi
Pendekatan yang diambil oleh tim FKH UGM mencakup berbagai aspek penting, mulai dari perlindungan satwa liar hingga penguatan ekonomi masyarakat setempat. Dengan adanya relokasi lokasi konservasi, diharapkan dapat memberikan perlindungan yang lebih baik bagi penyu lekang, yang merupakan salah satu spesies langka yang perlu dilestarikan.
Selain itu, penggunaan teknologi IoT dalam pengaturan suhu menjadi inovasi yang sangat penting dalam meningkatkan tingkat kelangsungan hidup tukik. Dengan sistem ini, para relawan dapat memantau kondisi lingkungan secara real-time, bahkan dari jarak jauh.
Kolaborasi untuk Keberlanjutan
Kolaborasi antara FKH UGM dan Universitas Tidar menunjukkan komitmen bersama dalam menciptakan solusi yang berkelanjutan. Pengembangan pupuk organik dari kotoran ternak dan jamur Mycorrhiza tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, tetapi juga membantu meningkatkan kualitas tanah yang digunakan untuk penanaman mangrove dan pandan laut.
Mitigasi Abrasi dan Pemberdayaan Ekonomi
Dalam rangka mitigasi abrasi, penanaman mangrove dan pandan laut dilakukan sebagai strategi alami untuk melindungi garis pantai. Selain itu, program ini juga memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar, seperti kesempatan kerja dan pendapatan dari hasil pertanian atau pengelolaan konservasi.
Kesimpulan
Upaya konservasi penyu di Bantul tidak hanya bertujuan untuk melindungi spesies langka, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat pesisir. Dengan pendekatan yang terintegrasi dan kolaborasi lintas institusi, diharapkan program ini dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan dampak positif yang nyata.







