Pariwisata Triwulan I 2026 Tumbuh 6,3 Persen, Akademisi: Peluang SDM Masih Besar

by -
Pariwisata Triwulan I 2026 Tumbuh 6,3 Persen, Akademisi: Peluang SDM Masih Besar



Sektor pariwisata terbukti tetap menunjukkan prospek yang cerah meskipun menghadapi tantangan dari ketidakpastian ekonomi dan politik global. Data yang dirilis menunjukkan peningkatan signifikan dalam jumlah kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, yang memberikan indikasi positif bagi perkembangan industri ini di masa depan.

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata (Kemenpar) per 14 Juni 2026, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada periode Januari hingga April 2026 mencapai 4,68 juta kunjungan. Angka ini meningkat sebesar 8,24 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, yang tercatat sebanyak 4,33 juta kunjungan. Hal ini menunjukkan bahwa minat wisatawan internasional terhadap Indonesia semakin meningkat.

Selain itu, data devisa pariwisata juga menunjukkan kenaikan yang signifikan. Per 22 Mei 2026, devisa pariwisata pada Triwulan I 2026 mencapai USD 4,05 miliar atau setara Rp 68,28 triliun. Nilai ini naik sebesar 6,3 persen dibandingkan dengan Triwulan I 2025 yang mencapai USD 3,81 miliar atau setara Rp 62,29 triliun. Kenaikan ini menjadi bukti bahwa sektor pariwisata masih mampu memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional.

Baca Juga:  Ribuan Sarjana Ikuti Bursa Lowongan Kerja di Sabuga Bandung

Dari sisi wisatawan domestik, aktivitas perjalanan juga menunjukkan pertumbuhan. Sepanjang Januari hingga April 2026, jumlah perjalanan wisatawan nusantara mencapai 417,06 juta perjalanan. Angka ini naik sebesar 1,48 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, yaitu sebanyak 410,99 juta perjalanan. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih aktif melakukan perjalanan wisata meskipun situasi ekonomi sedang tidak stabil.

Pada Triwulan I 2026, kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) diperkirakan berada pada kisaran 4,01 persen hingga 5 persen atau setara Rp 248,11 triliun sampai Rp 309,36 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa sektor pariwisata memainkan peran penting dalam perekonomian nasional.

Akademisi sekaligus Wakil Rektor III Institut Pariwisata (IP) Trisakti, Novita Widyastuti, menyampaikan bahwa tren peningkatan kunjungan wisatawan dapat dilihat dari data kunjungan pada April 2026 yang menunjukkan kenaikan. Menurutnya, hal ini dipengaruhi oleh pergeseran rute perjalanan wisatawan internasional dari kawasan Timur Tengah ke Asia, khususnya Indonesia.

“Karena apa? Orang-orang yang tadinya terbang ke wilayah Timur Tengah, mereka membelokkan, maskapai juga memberikan banyak sekali relaksasi untuk penerbangan-penerbangan ke arah Asia (khususnya Indonesia). Nah, ini yang harus kita manfaatkan,” ujar Novita dalam acara Gala Dinner Parents Day, di Kampus IP Trisakti, Jakarta, Jumat (19/6).

Baca Juga:  Kondisi Darurat di SDN Jayanugraha Tasikmalaya: Atap Kelas Hancur, Siswa Dievakuasi

Novita juga menilai bahwa berbagai insentif yang diberikan pemerintah, termasuk relaksasi pada tiket pesawat, turut membantu menjaga minat masyarakat untuk bepergian. Meskipun biaya bahan bakar avtur mengalami kenaikan, relaksasi yang diberikan masih membuat masyarakat tetap tertarik untuk melakukan perjalanan.

“Iya, kemarin kan dikurangin ya (PPh), walaupun surcharge untuk fuel-nya atau bensin avtur-nya naik gitu ya, tapi ini masih ada relaksasi dan orang masih banyak yang bepergian. Mereka butuh untuk hiburan, wisata, healing, dan sebagainya,” tambahnya.

Ia optimistis bahwa kinerja sektor pariwisata pada triwulan kedua dan ketiga tahun ini masih berpotensi meningkat. “Insyaallah. Kalau pemerintah bisa berharap mendinginkan suasana dan kita bisa terus menggalakkan pariwisata Indonesia menjadi lebih baik lagi. Itu,” tuturnya.

Perlu Sumber Daya Manusia yang Memadai

Lebih lanjut, Novita menegaskan bahwa industri pariwisata saat ini telah menjadi salah satu sektor strategis nasional. Kebutuhan akan sumber daya manusia (SDM) pariwisata tidak hanya terbatas pada sektor perhotelan. Berbagai subsektor lain seperti transportasi, pengelolaan destinasi wisata hingga operator perjalanan juga membutuhkan tenaga profesional yang memahami industri pariwisata.

Baca Juga:  Buncis: Si Kacang Polong Yang Kaya Nutrisi Dan Mudah Diolah

“Karena apa? Sektor pariwisata tidak kita hanya mengenal tentang hotel, tapi bagaimana mulai berpikir orang untuk pergi ke suatu tempat menikmati destinasi wisata, itu butuh SDM pariwisata. Jadi career path-nya ke depannya pun juga terbuka luas,” jelasnya.

Novita menambahkan, peluang kerja di sektor pariwisata masih sangat besar dan banyak yang belum terisi. Salah satu contohnya adalah kebutuhan tenaga pendamping perjalanan umrah bagi jamaah Indonesia.

“Indonesia ini salah satu penyumbang kuota umrah ke Timur Tengah, terutama ke Mekkah, Arab Saudi, ya. Katakanlah kalau 45 juta masyarakat Indonesia bepergian umrah, mereka membutuhkan tour leader dari Indonesia, pendamping mutawif,” ujarnya.